Beranda Pendidikan Di Biak Numfor, Ada Lulus SD dan SMP yang Belum Bisa Membaca

Di Biak Numfor, Ada Lulus SD dan SMP yang Belum Bisa Membaca

1137
0
BERBAGI

Mesak Mandowen : Belum Ada Laporan Resmi dan Dinas Pendidikan Terus Melakukan Pembenahan

JAYAPURA, NGK – Di Kabupaten Biak Numfor, ternyata masih ada tamatan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menangah Pertama (SMP), sejak tahun 2015 hingga tahun 2021, yang belum bisa membaca dan belum lancar membaca.

Kondisi ini teruangkap dari laporan  Kepala Sekolah SMK YPK 2 Biak, Soleman Salomo Sroyer yang termuat di portal berita Okezone.com. Dalam laporan itu,  Soleman Salomo Sroyer mengungkapkan, bahwa ada siswa kelas tiga SMP di Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori yang mengikuti tes awal masuk SMK YPK 2 Biak, tapi belum lancar membaca bahkan ada yang tidak bisa membaca.

“Seharusnya, laporan Soleman Salomo Sroyer disampaikan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Biak Numfor melalui Bidang Pendidikan Dasar. Sampai saat ini, kami belum mempunyai data  resmi seperti yang dilaporkan Kepala Sekolah yang juga Guru Jurusan Teknik Mesin SMK YPK 2 Biak itu. Jadi saya harapkan, teman saya, Soleman Salomo Sroyer dapat membuat laporan resmi,” ujar Kepala Bidang Pendidikan Dasar pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Biak Numfor, Mesak Mandowen, S.Pd. M.Pd  ketika dikonfirmasi portal berita, New Guinea Kurir (NGK) melalui telepon selulernya pada Jumaat (29/4/2022).

Walau belum ada laporan resmi tentang tamatan SD dan SMP yang belum bisa baca, tapi Mesak Mandowen pernah mendengar cerita dari berbagai pihak, tentang kondisi ini.

“Biasanya, murid yang belum bisa baca itu, terdapat di sekolah-sekolah di pelosok – pedalaman. Dan anak-anak itu, biasanya mengikuti orang tuanya, bepergian ke daerah lain untuk jangka waktu yang lama sekitar satu sampai dua tahun. Ketiika mereka kembali ke kampungnya, lalu orang tua memaksa bahkan mengancam pihak sekolah agar anaknya bisa ikut ujian akhir, padahal anak itu belum bisa baca atau belum lancar baca,” ungkap Mesak Mandowen.

Lebih lanjut, Mandowem menjelaskan, ada juga anak-anak yang tidak terdaftar sebagai peserta ujian akhir, karena anak-anak peserta ujian akhir, sudah diajukan ke Dinas Provinsi Papua dan ke kementrian pendidikan di Jakarta, sementara anak-anak tersebut saat pendaftaran, ia tidak sekolah dan mengikuti orang tuanya ke daerah lain. “Tapi ketika kembali ke kampungnya, orang tua memaksa agar anaknya ikut ujian akhir sementara anak tersebut belum bisa baca,” kata Kepala Bidang Pendidikan Dasar itu.

Mesak Mandowen  menjelaskan juga,  ketika Covid-19 merebak tahun 2019 – 2020, semua anak-anak  SD dan SMP kelas enam dan kelas sembilan yang terdaftar sebagai peserta ujian akhir, diluluskan semua. “Mungkin ada yang belum bisa baca tapi diluluskan,” ungkap Mandowen.

Ketika ditanya tentang peran Pengawas di tiap sekolah dalam memberikan laporan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Mesak Mandowen menjelaskan, bahwa di Kabupaten Biak Numfor, ada 224 SD dan SMP. Dan tenaga pengawasnya hanya dua orang. Satu orang pengawas untuk SD dan satu orang untuk SMP. “Kami sudah mengajukan untuk penambahan pengawas, tapi sekarang ini, kualifikasi seorang pengawas itu sangat sulit jadi kami masih konsultasi ke provinsi,” kata Mandowen.

Tentang laporan dari setiap kepala sekolah tentang perkembangan anak didik, Mendowen menjelaskan, bahwa setiap kepala sekolah  wajib membuat laporan ke dinas.

“Tapi menyangkut anak yang belum bisa baca, terkadang, kepala sekolah tidak mau melaporkan. Mungkin karena gengsi dan malu, kalau anak didiknya di kelas enam atau kelas sembilan, belum bisa baca. Saya berhartap, para kepala sekolah untuk jujur melaporan kondisi murid, apa adanya,” ungkap Mesak Mandowen.

Mandowen juga menjelaskan, kalau pihaknya terus melakukan pembenahan, baik di tingkat dinas sampai ke sekolah-sekolah, termasuk para guru untuk mengatasi anak-anak didik dari buta aksara.

Sementara itu, menurut laporan Kepala Sekolah SMK YPK 2 Biak, Soleman Salomo Sroyer yang dimuat Okezone.com, bahwa ada siswa kelas tiga SMP di Biak dan Supiori yang mengikuti tes awal masuk SMK YPK 2 Biak, yang belum lancar membaca dan ada yang tidak bisa membaca.

“Kasus ini merupakan cermin gagalnya kinerja pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori yang seharusnya memantau sekolah di daerahnya, sehingga mutu pendidikan bisa terjaga dengan baik, tulis Soleman Salomo Sroyer di Okezone.

Soleman  Sroyer juga mempertanyakan mengapa siswa yang tidak bisa membaca bisa lulus SD dan melanjutkan ke SMP sampai bisa lulus, padahal siswa tersebut tidak bisa membaca dan tidak lancar membaca? Anak yang susah membaca itu seharusnya seperti siswa lainnya yang sudah bisa membaca sejak kelas satu sekolah dasar?

“Biasanya kelas satu saja sudah lancar membaca. Ini kok sampai kelas tiga SMP belum bisa membaca, bahkan menulispun masih kurang baik penempatan  hurufnya juga kurang baik,” ungkap Kepala Sekolah SMK YPK 2 Biak.

Soleman Sroyer menilai, kasus itu merupakan dampak dari kurang tanggapnya pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan Biak Numfor dan Dinas Pendidikan Supiori, yang tidak melakukan kinerjanya dengan baik. “Pertama-tama saya minta maaf, karena mungkin agak kasar bahasa saya tapi itu memang temuan saya seperti itu,” kata Sroyer.

Menurut penelusuran NGK, bahwa persoalan yang dikemukakan Soleman Sroyer itu, tidak hanya terjadi di Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori saja, tapi juga terjadi di daerah lain, di Tanah Papua dan juga di luar Papua, di Provinsi lain di Indonesia. (Krist Ansaka)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here