Beranda PAPUA TENGAH Pertemuan di Kampus Amamapare, Menyulam Harapan Pendidikan Tinggi Papua Tengah

Pertemuan di Kampus Amamapare, Menyulam Harapan Pendidikan Tinggi Papua Tengah

40
0
BERBAGI
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa memberikan arahan pada pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Lingkungan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia pada Jumaat (22/5/2026) di Kampus 2 Politeknik Amamapare, Timika. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

“Kampus harus menjadi mitra pemerintah dalam membuat kajian yang tepat, merencanakan langkah perubahan, dan memberikan data yang valid. Jangan sampai ada data yang tidak jelas, sehingga kebijakan yang kami ambil tidak tepat sasaran.”

TIMIKA (22/5/26), NGK – Di ruang pertemuan Kampus 2 Politeknik Amamapare, suasana terasa hangat dan penuh makna pada Jumat siang (22/5/2026).

Ruangan itu tidak hanya dipenuhi oleh deretan meja, kertas kerja, dan wajah-wajah para pemimpin pendidikan, tetapi juga oleh harapan besar akan masa depan sumber daya manusia di Tanah Papua Tengah.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa Bersama Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVI Tanah Papua, Dr. Suriel Samuel Mofu dalam cara Pertemuan Perguruan Tinggi se Papua Tengah di Kampus 2 Politeknik Amamapare Timika, Jumaat (22/5/2026) – (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Hari itu menjadi sejarah tersendiri. Untuk pertama kalinya, Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, duduk berhadapan langsung dengan para pimpinan 12 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTSI). Pertemuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan tindak lanjut nyata dari perhatian serius Pemerintah Provinsi Tengah terhadap dunia pendidikan tinggi, khususnya terkait dukungan beasiswa dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi ribuan mahasiswa di daerah ini.

Di mata para pemimpin kampus, kehadiran Gubernur Nawipa bukan hanya sebagai kepala pemerintahan, melainkan sosok yang mereka sapa sebagai “Bapak” atau “Kakak” — sosok yang mau mendengar, mengerti kesulitan, dan bersedia berjalan bersama memajukan pendidikan.

Kehadiran Gubernur didampingi Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, dan Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong

Tiang Penyangga Harapan Anak Papua

cara Pertemuan Perguruan Tinggi se Papua Tengah di Kampus 2 Politeknik Amamapare Timika (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Dalam pertemuan itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVI Tanah Papua, Dr. Suriel Samuel Mofu, S.Pd. M.Ed, TEFL, M.Phil, menyampaikan data yang membuka mata semua pihak. Dari total sekitar 150.000 hingga 160.000 mahasiswa di Tanah Papua, lebih dari 60.000 di antaranya menimba ilmu di perguruan tinggi swasta. Angka ini jauh melampaui jumlah mahasiswa di perguruan tinggi negeri yang hanya sekitar 40.000 orang.

“Bayangkan, jika tidak ada perguruan tinggi swasta, puluhan ribu anak Papua tidak akan memiliki tempat untuk kuliah. PTS adalah alternatif utama, gerbang kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati pendidikan tinggi,” ungkap Dr. Suriel dengan nada penuh keyakinan.

Ia pun membanggakan kualitas perguruan tinggi di wilayah ini. Sebanyak 90 persen perguruan tinggi di Tanah Papua telah terakreditasi, dengan 68 dari 76 PTS telah memiliki status akreditasi, sementara sisanya yang baru berdiri sedang dalam proses. Bahkan, PTS di Papua telah memecahkan rekor sebagai yang terbaik di antara empat wilayah LLDIKTI se-Indonesia Timur. Namun di balik prestasi itu, tersimpan tantangan besar.

Data menunjukkan, 92 persen orang tua mahasiswa PTS memiliki penghasilan di bawah 2 juta rupiah per bulan, dan 54 persen di antaranya tidak memiliki penghasilan tetap. Ironisnya, hanya 38 persen lulusan sekolah menengah yang melanjutkan kuliah, sementara 62 persen lainnya belum mendapatkan akses pendidikan tinggi.

“Kami bersyukur, dari seluruh provinsi di Tanah Papua, hanya Papua Tengah dan Papua Barat Daya yang benar-benar memiliki komitmen nyata mendukung pendidikan tinggi. Ini menjadi contoh bagi daerah lain,” tambah Dr. Suriel, seraya berharap dukungan beasiswa yang saat ini menjangkau 18.000 mahasiswa dapat terus diperluas.

Suara Hati Para Pemimpin Kampus

Momen yang paling menyentuh datang saat Adrian Mjesfa, S.Sos., M.Si, Ketua STIE Pelita Harapan Nabire, mewakili rekan-rekan pimpinan PTS, menyampaikan isi hati mereka. Kampus yang dipimpinnya baru dibuka pada tahun 2023, dan kini telah berkembang dengan dua program studi baru: Manajemen Perhotelan dan Akuntansi. Bagi Adrian dan rekan-rekannya, hadir di hadapan Gubernur adalah momen berbagi harapan sekaligus kesulitan yang mereka hadapi sehari-hari.

Adrian Mjesfa, S.Sos., M.Si, Ketua STIE Pelita Harapan Nabire, mewakili rekan-rekan pimpinan PTS, menyampaikan isi hati mereka. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

“Kami memiliki 12 perguruan tinggi dengan latar belakang ilmu yang berbeda-beda. Memang banyak tantangan dan kesulitan yang kami hadapi. Tapi hari ini, kami merasa lega bisa ‘curhat’, bisa memanggil Bapak Gubernur sebagai Kakak atau Bapak, dan meminta perhatian beliau,” ujar Adrian dengan nada tulus.

Namun di balik keluh kesah, tersimpan komitmen yang kokoh. Adrian menegaskan, seluruh kampus di Papua Tengah siap menjadi mitra strategis pemerintah.

“Papua Tengah memiliki potensi dan talenta luar biasa. Kami dari setiap kampus siap, kapan pun Bapak Gubernur memanggil, untuk melakukan kajian dan penelitian sesuai keahlian kami. Kami siap 24 jam penuh untuk melayani pembangunan daerah ini,” tegasnya, disambut anggukan setuju dari para pimpinan kampus lainnya.

Gubernur: Pendidikan Harus Lahirkan Integritas dan Kerja Nyata

Mendengarkan paparan dan harapan itu, Gubernur Meki Nawipa merespons dengan bijak dan penuh wawasan. Baginya, pendidikan bukan sekadar mencetak gelar, melainkan mencetak manusia yang berintegritas, jujur, dan mampu bekerja nyata.

“Kita butuh anak-anak muda yang berani jujur dan punya integritas. Jangan hanya pintar bicara, tapi buktikan dengan kerja nyata. Kerja nyata itu suaranya lebih keras daripada sekadar kata-kata,” pesan Gubernur Nawipa.

Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley dan Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong turut mendampingi Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa ketika mengunjungi Kampus Politeknik Amamapare (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Meki juga menekankan pentingnya sinergi. Pemerintah memberikan dukungan beasiswa dan kemudahan, namun perguruan tinggi pun harus memberikan dampak balik bagi daerah. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat belajar tertutup, melainkan harus menjadi pusat data, kajian, dan solusi bagi permasalahan masyarakat.

“Kampus harus menjadi mitra pemerintah dalam membuat kajian yang tepat, merencanakan langkah perubahan, dan memberikan data yang valid. Jangan sampai ada data yang tidak jelas, sehingga kebijakan yang kami ambil tidak tepat sasaran,” ujar Gubernur, yang juga menyinggung rencana kerjasama peningkatan gizi anak sekolah dan penyelesaian sertifikasi tenaga pendidik di kabupaten-kabupaten.

Suasana ketika pertemuan berlangsung (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Gubernur Nawipa juga memberikan apresiasi sekaligus tantangan. Beliau berjanji akan membantu fasilitas kampus yang berkontribusi besar bagi daerah, bukan dengan membangun gedung secara langsung, melainkan mendukung peningkatan kualitas dan fasilitas ruang belajar bagi kampus yang berprestasi.

“Kami tidak akan membantu sembarangan, tapi bagi kampus yang hasil kajian dan kerjanya bermanfaat bagi daerah, kami akan dukung peningkatan fasilitasnya. Ingat pesan Tuhan, saat memberi makan 5.000 orang, itu ada proses dan tanggung jawabnya. Begitu pun pendidikan, ada tanggung jawab besar di pundak kita,” ucap beliau.

Sebagai penutup pertemuan yang hangat itu, disepakati evaluasi bersama akan dilakukan setiap tiga bulan sekali. Pertemuan ini, yang disebut-sebut seperti masa-masa indah awal percintaan karena baru pertama kali terjadi, diharapkan akan tumbuh menjadi hubungan kemitraan yang kokoh, dewasa, dan melahirkan karya besar bagi Papua Tengah.

Selain itu, Gubernur Papua Tengah berjanji akan berikan bantuan laptop masing-masing kampus mendapat lima unit komputer.

Di ujung acara, harapan terungkap jelas: pendidikan tinggi di bumi ini bukan hanya untuk mencetak sarjana, tetapi untuk mencetak pembangun negeri yang setia, cerdas, dan berbakti bagi tanah kelahirannya. Sebagaimana pesan yang tersampaikan, “Besok harus lebih baik dari hari ini.” (tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here