Beranda MIMIKA Momen Bersejarah, Firman Tuhan Hadir dalam Bahasa Damal dan Amungme

Momen Bersejarah, Firman Tuhan Hadir dalam Bahasa Damal dan Amungme

83
0
BERBAGI
Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong saat memberikan sambutan (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

“Dalam kehidupan sehari-hari, jangan pernah malu menggunakan bahasa ibu kita. Di dalamnya ada  sejarah, ada jati diri, dan kini ada Firman Tuhan yang menyertai kita.”

TIMIKA (20/5/26), NGK – Suara syukur dan sukacita memenuhi ruang GOR Futsal, SP2, Timika pada acara peluncuran dan peresmian Alkitab bahasa Damal dan Amungme. Ini sebuah momen yang tercatat sebagai tonggak sejarah bagi kehidupan iman, budaya, dan peradaban masyarakat Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Tamu undangan yang menghadiri acara peluncuran alkitab berbahasa daerah (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan buah dari perjuangan panjang puluhan tahun, doa, dan pengorbanan banyak pihak—mulai dari para misionaris, tim penerjemah, tokoh gereja, hingga masyarakat luas—yang akhirnya membuahkan hasil nyata: Firman Tuhan kini berbicara dalam bahasa ibu yang dipahami, dicintai, dan menjadi identitas dua suku asli tanah ini.

Kehadiran para tamu undangan, mulai dari para hamba Tuhan, pendeta, gembala sidang, tokoh adat, tokoh masyarakat, perwakilan pemerintah, hingga keluarga besar misionaris yang pernah bertugas di wilayah pegunungan ini, menjadi bukti betapa pentingnya momen ini.

Salah satu anak dari para misionaris sedang menyampaikan pesan orang tua mereka yang tidak bisa hadir menyaksikan peresmian alkitab berbahasa Damal dan Amungme (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Di antara mereka, hadir juga Pendeta John Cuts, salah satu pendeta yang pernah melayani di tengah masyarakat Moni, Damal dan Amungme.

Sementara itu, Pendeta John Ellenberger dan istrinya, Helen, yang memiliki sejarah panjang pelayanan di wilayah ini, turut menyampaikan pesan istimewa secara langsung lewat sambungan daring dari Amerika Serikat.

John Ellenberger bersama istrinya Helen ketika menyampaikan pesan istimewa secara langsung lewat sambungan daring dari Amerika Serikat (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Di usianya yang ke-93 tahun, Pendeta John menyampaikan salam hangat, melambaikan tangan, dan mengucapkan selamat serta apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bekerja keras mewujudkan terjemahan Alkitab ini. Ia mengaku sangat berbahagia melihat karya yang ia rintis puluhan tahun lalu akhirnya rampung dan resmi diluncurkan, meski tidak bisa hadir secara langsung karena keterbatasan usia.

Pendeta John dan Helen Ellenberger adalah misionaris dari lembaga Christian and Missionary Alliance (CMA) yang pertama kali tiba di tanah Papua pada tahun 1957, dan mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk melayani Suku Damal di Lembah Ilaga, wilayah pedalaman Papua.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong bersama keluarga para misionaris asal Amerika Serika (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Bersama rekan-rekan misionaris lainnya seperti Gordon dan Peggy Larson serta Pendeta Don Gibbons, mereka bukan hanya memberitakan Injil, tetapi juga meletakkan dasar penerjemahan kitab suci, mengajarkan kemampuan membaca, mendirikan sekolah Alkitab, gereja-gereja, bahkan membangun lapangan terbang guna menunjang pelayanan di wilayah yang sulit dijangkau itu. Rumah-rumah peninggalan mereka di Sinak dan Kampung Eromaga kini bahkan menjadi situs bersejarah dan budaya yang dijaga di Kabupaten Puncak, Papua Tengah.

Salah satu warisan terbesar mereka adalah proses penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Damal yang berjalan selama 64 tahun, dibantu dukungan penerbangan dari Mission Aviation Fellowship (MAF), hingga akhirnya lengkap dan selesai seperti yang disaksikan hari ini.

Gedung GOR Futsal dipenuhi jemaat (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang terlibat, termasuk para pendahulu seperti keluarga Ellenberger.

“Para misionaris dari Eropa dan Amerika datang ke sini, meninggalkan tanah kelahiran mereka, dan berusaha memahami bahasa kami—bahasa Damal, Amungme, Dani, dan beragam bahasa lain di Papua—hanya didorong oleh satu Roh yang sama. Roh itulah yang menggerakkan mereka untuk menyampaikan kasih Tuhan, dan hari ini kita melihat hasilnya: Alkitab ada dalam bahasa kita sendiri,” ujar Emanuel Kemong. Ia juga menyapa secara hangat para misionaris dan keturunan mereka yang hadir, menyebut kehadiran mereka sebagai “pulang ke kampung sendiri”, mengingat dedikasi mereka dalam melayani masyarakat di pegunungan Mimika selama puluhan tahun.

 

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong saat memberikan sambutan (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Dalam sambutannya, Kemong juga menekankan makna mendalam dari kehadiran Alkitab Bahasa Damal dan Amungme, merujuk pada ayat Kitab Wahyu 7:9: “…suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta…”. Pesan yang disampaikan sangat jelas: di hadapan Tuhan, setiap suku dan bahasa memiliki tempat yang mulia. Tuhan tidak memandang besar atau kecilnya suatu kelompok, melainkan hati umat-Nya.

“Bahasa daerah adalah identitas, warisan leluhur, dan kekayaan budaya yang harus kita jaga. Ketika Firman Tuhan diterjemahkan ke dalam bahasa ibu, pesan kasih-Nya menjadi lebih dekat, lebih hidup, dan lebih menyentuh hati. Orang tua bisa mengajarkan kebenaran Tuhan kepada anak-anak dengan bahasa yang mereka pahami sejak lahir, dan generasi muda pun dapat mengenal nilai rohani sekaligus akar budaya mereka,” ujar Kemong.

Jemaat yang mengikuti ibadah (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Pemerintah Kabupaten Mimika, lanjutnya, mendukung penuh upaya pelestarian bahasa daerah dan penguatan nilai keagamaan. Pembangunan, kata dia, tidak hanya soal infrastruktur atau ekonomi, tetapi juga pembangunan karakter, moral, dan iman masyarakat. Alkitab dalam bahasa lokal diharapkan menjadi kekuatan rohani yang membangun keluarga, memperkuat persaudaraan, dan menanamkan nilai damai serta persatuan. “Kita ingin anak-anak muda Papua tumbuh cerdas, namun juga kuat imannya dan berakar pada budaya yang luhur,” tambahnya.

Harapan serupa juga disampaikan dalam sambutan Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa yang dibacakan oleh Staf Ahli III Gubernur Bidang Pemerintahan, Politik dan Hukum, Marten Ukago. Ia menilai peresmian ini sebagai bukti nyata bahwa Firman Tuhan hidup dan hadir di tengah masyarakat. “Sudah sekitar 70 tahun perjuangan penyebaran Injil di wilayah ini. Dulu kami mendengar firman dalam bahasa asing atau bahasa Indonesia, namun ada hal yang belum sepenuhnya sampai ke hati karena perbedaan bahasa. Hari ini, dengan hadirnya Alkitab Bahasa Damal dan Amungme, pesan keselamatan menjadi lebih jelas dan menyentuh jiwa,” ujar Marten Ukago mewakili Gubernur Meki Nawipa.

Lebih jauh lagi, ia menekankan bahwa penerjemahan Alkitab ini sekaligus menjadi langkah besar dalam melestarikan kekayaan budaya Papua. Bahasa yang dipakai dalam ibadah dan kehidupan rohani akan tetap hidup dan tidak hilang tergerus waktu. Mengutip 2 Timotius 3:16, ia menyatakan bahwa tulisan suci bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik dalam kebenaran. “Kiranya Alkitab ini menjadi terang dan pedoman hidup bagi generasi sekarang dan yang akan datang, menjadi jembatan yang menghubungkan iman dan budaya kita,” harapnya.

Perjalanan menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Damal dan Amungme bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan ketekunan, waktu bertahun-tahun, pemahaman mendalam akan budaya dan struktur bahasa, serta kerja sama erat antara penerjemah, ahli bahasa, tokoh adat, dan gereja. Ada perjuangan, ada doa yang panjang, bahkan ada air mata yang tercurah dalam proses ini—mulai dari langkah awal yang dirintis para misionaris seperti John dan Helen Ellenberger, hingga penyelesaian akhir oleh tim lokal yang meneruskan warisan mulia ini. Namun hari ini, semua itu berubah menjadi sukacita besar.

Di akhir acara, para pejabat dan tokoh agama berharap Alkitab ini tidak hanya menjadi benda koleksi atau simbol semata, melainkan benar-benar dipakai dalam ibadah, pendidikan rohani, dan kehidupan sehari-hari. “Jangan pernah malu menggunakan bahasa ibu kita. Di dalamnya ada sejarah, ada jati diri, dan kini ada Firman Tuhan yang menyertai kita,” pesan Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong.

Momen 20 Mei 2026 ini akan terus diingat oleh masyarakat Damal dan Amungme, oleh seluruh warga Mimika, dan tanah Papua secara luas. Sebuah bukti bahwa kasih Tuhan tidak mengenal batas bahasa atau budaya, dan bahwa warisan leluhur serta iman kepada Sang Pencipta dapat berjalan beriringan, menyinari kehidupan dari gunung hingga pesisir, dari kota hingga ke pelosok kampung. Firman Tuhan benar-benar ada untuk semua suku dan semua bahasa. (tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here