Beranda Nusantara Distrik Iwur di Pegunungan Bintang Terisolasi, Harga Minyak Tanah Rp50 Ribu/Liter

Distrik Iwur di Pegunungan Bintang Terisolasi, Harga Minyak Tanah Rp50 Ribu/Liter

479
0
BERBAGI
Jembatan Digul di Iwur yang terputus pada 28 Januari 2023.

Jembatan Digul di Distrik Iwur, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan itu, terputus dan menelan korban jiwa. Tak ada lagi, warga di Distrik Iwur dan Distrik Tarup yang pergi dan masuk ke Iwur. Pemerintah Daerah belum bisa berbuat apa-apa. Rakyat pun menjerit.

OKSIBIL, NGK – Di penghujung Januari 2023, Jembatan Gigul yang terbuat dari rotan di Kampung Iwur, Distrik Iwur, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, terputus. Korbannya, tiga anggota Polisi dan satu anggota TNI terjatuh dan hilang ditelan derasnya air sungai. Setelah dilakukan pencarian, akhirnya para korban itu ditemukan tak bernyawa.  Tiga Anggota Polri yang hilang itu adalah Briptu Yohanes Matheus, Bripda Risman Rahman, Bripda Stevan Randongkir dan Satu anggota TNI, Pratu Ferdian Dwi Kusuma.

Jembatan Digul yang terbuat dari rotan di Iwur

Terputusnya jembatan Digul itu membuat seluruh aktivitas penduduk untuk keluar dan masuk ke Iwur, tak bisa dilakukan. Distrik Iwur, benar-benar terisolasi.

Jembatan Digul yang terbuat dari rotan itu dan sering putus itu, sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. “Tiga puluh tahun lalu, ketika saya mengendong anak dan melewati jembatan rotan ini. Kami hampir jatuh. Kondisi jembatan 30 tahun lalu itu, tak pernah berubah sampai 28 Januari 2023,” ungkap Dokter John Manasang ketika memaparkan materi pada Diskusi Publik tentang Momentum 168 tahun Hari Pekabaran Injil (HPI) 5 Februari 2023 dan Percepatan Pembangunan Menuju Papua Emas 2041 yang diselenggarakan oleh Analisis Papua Strategis (APS) pada 4 Februari 2023 melalui live zoom yang diikuti sekitar 90 orang.

Pernyataan dokter Manangsang itu adalah bukti, kalau pemerintah belum berbuat banyak untuk mengangkat dan mendongkrak rakyat Papua agar dapat keluar dari kungkungan kemiskinan. Bahkan cenderung keberadaanya, terisolasi di kampung-kmpung, seperti yang terjadi di Distrik Iwur.

Menurut penelusuran NGK (www.Newguineakurir.com) dari berbagai sumber, bahwa sejak 2009, sudah tiga kali Jembatan Gantung Sungai Digoel di Distrik Iwur, putus dan menelan korban nyawa, termasuk empat anggota keamaman yang hilang itu.

Salah satu peristiwa terputusnya Jembatan gantung yang terbuat dari rotan di Distrik Iwur itu, terjadi tahun 2021 dan satu orang dinyatakan meninggal. Sementara alat berat – Eksafator  yang digunakan untuk pembangunan jalan, terjungkir masuk ke sungai dan belum diangkat hingga kini

Jembatan Gantung itu pada umum terbuat dari rotan dan panjang sekitar 40 meter yang membentang di atas Sungai Digoel yang arusnya cukup kencang. Dan ujung dari jembatan di sebelah menyebelah, diikat di pohon.

Jarak dari Jembatan Gantung di Sungai Digoel ke Distrik Iwur mencapai 4 kilometer. Sementara perjalanan darat dengan menggunakan kendaraan dari Oksibil memakan waktu hampir 2 jam.

Hanya jembatan ini yang menjadi urat nadi ekonomi bagi wara di Distrik Iwur dan Distrik Tarup. Taka da jalan lain. Jika ada penduduk Iwur yang hendak menjual hasil kebun ke Psar Oksibil, dia harus merogoh kantungnya untuk membayar biaya transport. “Dari Iwur ke jembatan rontan, biaya ojek Rp 50.000  per orang. Setekah menyeberang, kami harus menumpang kendaraan jenis Estrada untuk menuju Oksibil. Biayanya sekitar Rp 100.000. Jadi transport untuk jualan di Oksibul  sebesar Rp 100.000,” ujar penduduk Iwur itu.

Penduduk Iwur itu menjelaskan, kalau menggunakan pesawat harus sewa atau charter. Ongkosnya dari Oksibil ke Iwur sebesar Rp 11 juga. Kalau terbang dari Sentani   ongkos charternya Rp 30  juta. Sedangkan sewa pesawat dari Tanah Merah, Boven Digoel Rp 23 ribu. Tidak ada penerbangan regular yang rutin mengangkut penumpang dari dank e Iwur.

Kondisi ini membuat Distrik Iwur menjadi distrik yang benar-benar terisolir. Sementara itu,  para pemimpin di Kabupaten Pegunungan Bintang hanya janji untuk membangun jembatan dan jalan untuk membuka isolasi daerah, tapi nyatanya, mereka hanya bisa janji tanpa ada bukti,

Penduduk di Distrik Iwur harus berjuang keras, melewati jembatan gantung yang rapuh itu menuju ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang di Oksibil. Akibatnya, Distrik Iwur menjadi Distrik yan benar-benar terisolir.

Jembatan Gantung Kali Digul merupakan akses utama menuju Distrik Iwur,  Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Tak heran jembatan yang terbuat dari tali rotan ini menjadi urat nadi ekonomi masyarakat setempat.

Distrik Iwur perbatasan langsung dengan Distrik Tarup, yang tak jauh dari batas negera RI – Papua New Guinea (PNG). Sementara di bagian barat berbatasan langsung dengan Distrik Waropko,  Kabupaten Boven Digoel.

Menurut data yang dihimpun dari penduduk Iwur, bahwa pemerintah berencana membangun jembatan permanen, namun pembangunan jembatan permanen sementara terhenti. Bupati ganti Bupati, rencana pembangnan jembatan Iwur di Sungai Digoel, tak pernah terwujud. Janji hanya tinggal janji.

Selain menjadi urat nadi masyarakat Distrik Iwur, jembatan ini juga akses penghubung Jalan Trans Papua yang menghubungkan Distrik Waropko, Kabupaten Boven Digul.

“Masih ada beberapa sungai lagi sebesar ini. Jika sejumlah jembatan dan jalan sudah jadi otomatis jalur darat antara Oksibil dan Boven Digoel bisa dilalui, tapi itu mungkin butuh waktu lama,” ungkap salah satu penduduk ketika menyaksikan pencarian empat anggota keamanan yang hilang akibat jembatan Iwur di Kali Digoel itu terputus (28/1/23)

Harga BBM Rp50 Ribu per Liter

Masyarakat Distrik Iwur sangat mengandalkan Kota Oksibil sebagai daerah alternatif, karena jaraknya tergolong dekat.

Dua jam perjalanan Dari Oksibil ke Iwur hanya sampai depan Jembatan Gantung. Setelah itu, harus melewati Jembatan Gantung, baru naik ojek lagi ke (Distrik) Iwur.  Ongkos ojek Rp 50 ribu per orang. Tukang ojek, rata-rata anak-anak dari Distrik Iwur.

Biasanya masyarakat memanfaatkan tali dari arah berlawanan untuk menyeberangkan bahan pokok.  Dengan kondisi seperti itu,  tidak heran jika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran jenis Pertalite di Distrik Iwur mencapai Rp50 ribu per liter.

Iwur adalah salah satu distrik terisolir yang ada di Kabupaten Pegunungan Bintang yang yang akan genap 21 tahun pada Desember 2023.

Kabupaten Pegunungan Bintang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2002 tanggal 11 Desember 2002 bersama 13 kabupaten lainnya di Provinsi Papua. Kabupaten ini memiliki kondisi geografis yang khas, di m ana sebagian besar wilayahnya pegunungan terutama di bagian barat, penduduk bermukim di lereng gunung yang terjal dan lembah-lembah kecil dalam kelompok-kelompok kecil, terpencar dan terisolir; dataran rendah hanya terdapat di bagian utara dan selatan dengan tingkat aksesibilitas wilayah yang sangat rendah, sehingga sulit dijangkau bila dibandingkan dengan wilayah lainnya di tanah Papua.

Hingga saat ini seluruh pelayanan di wilayah ini hanya dilakukan dengan transportasi udara, menggunakan pesawat kecil jenis Cessna, Pilatus, Twin Otter, Cassa dan itupun sangat tergantung pada perubahan cuaca yang sering berkabut. Keterbatasan transportasi udara dengan biaya angkutan yang cukup tinggi menyebabkan harga barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan (terutama bahan import) menjadi sangat mahal, sehingga tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat. Tingginya tingkat kemahalan harga barang juga disebabkan karena hampir semua barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan didatangkan dari Jayapura menggunakan transportasi udara dengan biaya angkutan barang mulai Rp. 18.500,- per kilogram dan tarif angkutan penumpang mulai Rp. 1.200.000,- per orang. (Krist Ansaka)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here