Beranda K-AMAN VI Suara dari Hutan Papua: Suku Mairasi Merajut Narasi Lewat Jurnalisme Adat

Suara dari Hutan Papua: Suku Mairasi Merajut Narasi Lewat Jurnalisme Adat

63
0
BERBAGI
Penyerahan dokumen pembentukan AJMAN Mairasi kepada AJMAN Region Papua, Nees. Makuba

WONDAMA (19/4/26), NGK – Di jantung Papua Barat yang kaya akan sejarah dan keindahan alam, Suku Mairasi mengukir babak baru. Bukan dengan senjata, melainkan dengan pena dan kamera, mereka kini membangun kekuatan informasi dari dalam komunitas sendiri. Pembentukan Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara (AJMAN) Suku Mairasi menjadi penanda semangat baru, sebuah langkah awal advokasi jurnalisme yang menggugah dan siap bersuara lantang.

Rapat pembentukan Aliansi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara Suku Mairasi di Wondama.

Selama ini, cerita tentang masyarakat adat Mairasi kerap datang dari luar, seringkali tanpa memahami kedalaman budaya, nilai-nilai luhur, dan hubungan spiritual yang terjalin erat dengan tanah leluhur. Kini, Suku Mairasi bertekad untuk menjadi subjek dalam narasi mereka sendiri. “Selama ini kita sering menjadi objek cerita. Kini saatnya kita menjadi subjek—menulis, mendokumentasikan, dan menyampaikan suara kita sendiri,” ujar Ishak Nyalo, Sekretaris AJMAN Suku Mairasi, dalam forum pembentukan yang penuh semangat di Kampung Wosimo, Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama.

Dengan keberadaanya, Suku Mairasi membentuk AJMAN dalam satu rapat terbuka.

AJMAN Suku Mairasi bukan sekadar organisasi jurnalis biasa. Ia adalah benteng pertahanan terhadap narasi yang meminggirkan, sekaligus jembatan yang menghubungkan realitas adat dengan dunia luar. Di tengah ancaman ekspansi industri dan proyek pembangunan yang semakin merambah wilayah adat, kehadiran jurnalis adat menjadi sangat krusial. Mereka bertugas merekam, mengarsipkan, dan menguatkan bukti-bukti hak ulayat, sekaligus menyuarakan kearifan lokal yang selama ini terjaga.

Berembuk membentuk AJMAN.

Keberadaan Suku Mairasi membentang di dua kabupaten, Teluk Wondama dan Kaimana, serta menjadi bagian dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Dengan dukungan Yayasan Lingkungan Hidup Papua (YALI Papua), anggota AJMAN Suku Mairasi akan dibekali keterampilan jurnalistik, mulai dari menulis berita hingga dokumentasi visual, dengan etika peliputan yang berpihak pada masyarakat adat. Nilai-nilai adat seperti penghormatan terhadap alam, menjaga relasi sosial, dan memuliakan leluhur akan menjadi fondasi utama kerja jurnalistik mereka.

Agustinus Vet, Koordinator Bidang Advokasi AJMAN Suku Mairasi, menegaskan, “Kehadiran AJMAN sebagai langkah awal strategi advokasi masyarakat adat Suku Mairasi dalam menjaga, mengawal dan melaporkan keberadaan wilayah adat mereka yang mulai menjadi sasaran ekspansi korporasi serta mengangkat nilai-nilai kearifan lokal mereka.” Ia menambahkan, “Kami berharap ini menjadi babak baru mendidik paralegal muda suku Mairasi, sehingga kami menjadi leader penggerak dalam menjaga tanah, adat, budaya dan identitas kami.”

Suku Mairasi sedang rapat.

Pembentukan AJMAN Suku Mairasi ini merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas di tingkat nasional, di mana masyarakat adat mulai membangun kedaulatan informasi sebagai bentuk perlawanan terhadap ketimpangan akses dan representasi. Seperti yang disampaikan Koordinator AJMAN Region Papua, Nees Makuba, pembentukan AJMAN Suku Mairasi ini adalah pengurus ke-6, melengkapi lima pengurus daerah yang telah terbentuk sebelumnya di Jayapura, Keerom, Merauke, Biak, dan Fakfak. “Langkah ini dilakukan sehingga masyarakat adat sendiri yang mengawal dan menyuarakan cerita-cerita mereka di komunitas melalui tulisan, video dan foto,” pungkasnya.

Di era globalisasi yang serba cepat, langkah Suku Mairasi ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat adat tidak tinggal diam. Mereka bergerak, menyusun strategi, dan memperkuat posisi dengan senjata paling ampuh: informasi yang lahir dari tanah sendiri. AJMAN Suku Mairasi bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah perjuangan panjang untuk memastikan setiap cerita dari tanah adat terdengar, terjaga, dan tidak pernah lagi dibungkam atau diputarbalikkan. Dari Mairasi, suara itu kini mulai ditulis—oleh mereka yang hidup, menjaga, dan mencintai tanahnya. (nes/ka)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here