Beranda Freeport Harapan Dari Waa Banti di Tengah Deru Tanah

Harapan Dari Waa Banti di Tengah Deru Tanah

37
0
BERBAGI
Rumah Sakit Waa Banti yang terancam terkena longsor (Foto: Istimewa)

PT Freeport Indonesia tidak hanya menjadi penonton, melainkan turun langsung menjadi garda terdepan untuk pemulihan

TIMIKA (30/4/26), NGK – Alam menunjukkan kekuatannya. Sejak Sabtu, 25 April 2026, curah hujan yang tak henti membasahi pegunungan di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, memicu serangkaian peristiwa yang menguji ketangguhan. Tanah longsor terjadi di sepanjang jalur akses Tembagapura–Kampung Banti, bahkan semakin intens hingga Senin, 29 April 2026, yang membawa material batu dan tanah hingga ke Kampung Waa Banti–Kimbeli.

Direktur PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma turun langsung ke lokasi untuk mengawasi dan melihat langsung proses perbaikan ruas jalan agar segera bisa difungsikan. (Foto: Istimewa)

Dua honai hanyut terbawa arus dan material longsor, namun ancaman terbesar saat itu bukan hanya pada hunian warga, melainkan pada fasilitas yang menjadi harapan hidup banyak orang yaitu Rumah Sakit Waa Banti (RSWB).

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mimika, Inosensius Yoga Pribadi, mengungkapkan kekhawatiran sekaligus tekad timnya. Longsor terjadi di delapan titik, dengan dua area yang menjadi perhatian utama yaitu akses jalan di Kalkaloni yang terputus total, dan stabilisasi lereng tepat di depan RSWB yang kian kritis.

PT Freeport Indonesia terus bekerja keras membuat jalan yang menghubungkan Tembagapura menuju Banti (Foto: Istimewa)

“Kami memastikan bahwa meski jalan terisolasi, operasional rumah sakit harus tetap berjalan. Pelayanan kesehatan dasar maupun gawat darurat tidak boleh berhenti,” tegas Yoga.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, God Frits Maturbongs, Kabag Tapem, Evert Hindom didampingi Kapolsek Tembagapura meninjau longsor di depan Rumah Sakit Waa Banti (Foto: Istimewa)

Situasi semakin genting ketika akses jalan putus total, mempersulit jalur evakuasi dan distribusi logistik. Bahkan, kondisi yang semakin membahayakan membuat tenaga kesehatan di lokasi meminta agar segera dilakukan evakuasi demi keselamatan mereka. Namun di saat yang sama, pasien dan layanan medis harus tetap terlindungi.

epala Distrik Tembagapura, Dev Richard Tatiratu bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, God Frits Maturbongs dan Kabag Tapem, Evert Hindom menemui warga di Kampung Banti, Distrik Tembagapura (Foto: istimewa)

Di tengah situasi yang mencekam, terlihat jelas bagaimana kekompakan menjadi kekuatan utama. Pemerintah Kabupaten Mimika yang bergerak cepat melalui jajarannya—Dinas PUPR, BPBD, Dinkes, didukung aparat Polsek Tembagapura, TNI, serta Pemerintah Distrik dan Kampung—bekerja bahu-membahu.

Namun, dukungan terbesar datang dari sinergi dengan PT Freeport Indonesia (PTFI). Perusahaan ini tidak hanya menjadi penonton, melainkan turun langsung menjadi garda depan pemulihan.

“Kami sangat mengapresiasi langkah cepat PTFI. Mereka tidak hanya membantu perbaikan jalan, tapi juga memastikan ‘jantung’ rumah sakit tetap berdetak,” ujar Yoga.

PTFI memastikan suplai listrik dan air bersih tetap mengalir. Mereka juga mengirimkan bahan makanan untuk tenaga kesehatan dan pasien yang terisolir. Stok obat-obatan, oksigen, hingga bahan bakar solar untuk genset terus dipantau dan dipenuhi agar tidak ada satu pun pasien yang kekurangan.

Untuk membuka kembali jalan yang tertutup tanah dan bebatuan, PTFI mengerahkan sumber daya terbaiknya. Mulai dari tenaga ahli di bidang geo engineering dan geo tech, hingga operator yang sigap mengendalikan alat berat. Dua unit excavator, satu unit dozer, dan dua unit truk ADT dikerahkan untuk memindahkan ribuan ton material longsoran.

Kabar menggembirakan datang kemudian. Jalan yang putus di Kalkaloni kini sudah bisa dilalui oleh alat berat dari sisi seberang, membuka harapan baru untuk percepatan perbaikan. Para pimpinan (leaders) pun turun langsung meninjau lokasi, memastikan setiap langkah penanganan dilakukan dengan aman dan tepat.

Claus Wamafma bersama Tim PTFI (Foto: Istimewa_

Direktur PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma turun langsung ke lokasi untuk mengawasi dan melihat langsung proses perbaikan ruas jalan agar segera bisa difungsikan. Sementara itu Bupati Mimika, Johanes Rettob dan Wakil Bupati, Emanuel Kemong terus memantau perkembangan melalui komunikasi yang intens dengan Kepala Distrik Tembagapura dan OPD teknis yang berada di Tembagapura. Bupati juga memerintahkan suplai logistik berupa bantuan bahan makan kepada warga di sekitar lokasi yang mengalami longsor.

Dinas PUPR Mimika, BPBD, Dinkes, didukung aparat Polsek Tembagapura, TNI, serta Pemerintah Distrik dan Kampung—bekerja bahu-membahu. dan
dukungan terbesar datang dari sinergi dengan PT Freeport Indonesia (Foto: Istimewa)

Bencana ini telah merusak, namun tidak mematahkan semangat. Pemerintah Daerah Mimika kini tengah menyusun rencana besar: rehabilitasi wilayah Banti. Prioritas utama adalah memulihkan fasilitas publik dan infrastruktur vital agar akses ke Timika kembali normal, sehingga rujukan pasien dan mobilitas warga bisa berjalan kembali seperti sedia kala.

“Terima kasih kepada semua tim yang sudah bekerja tanpa lelah. Mohon doa dan dukungan agar akses dan pelayanan segera kembali normal. Bersama kita lalui masa sulit ini,” ujar Johanes Rettob penuh harap.

Di tengah deru mesin dan tanah yang masih labil, satu hal yang pasti: solidaritas di Mimika terbukti lebih kuat dari gunung yang longsor. (tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here