Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Jayapura didamping Tim Pengampuan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Nasional dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk tangani angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Papua yang masih tinggi di atas rata-rata Nasional
JAYAPURA, (24/6/26), NGK – Di tengah hamparan alam yang luas dan medan yang kerap sulit dijangkau, tersimpan sebuah tantangan besar bagi kemajuan Tanah Papua, yaitu menjaga keselamatan ibu dan anak.
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di wilayah ini masih berdiri jauh di atas rata-rata nasional, menjadi cerminan sekaligus pengingat bahwa perjuangan menuju pelayanan kesehatan yang merata masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh.
Data terbaru per Juni 2026 menggambarkan gambaran yang memprihatinkan. Di Provinsi Papua, AKI tercatat mencapai 565 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan di Papua Barat berada di angka 343 per 100.000 kelahiran hidup — jauh melampaui angka nasional sebesar 189 per 100.000 kelahiran hidup. Kondisi serupa terjadi pada AKB, yang mencapai 35 per 1.000 kelahiran hidup di Papua dan 27 per 1.000 kelahiran hidup di Papua Barat, dibandingkan rata-rata nasional yang hanya 19 per 1.000 kelahiran hidup.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Ia adalah cerminan dari berbagai tantangan yang saling berkaitan. Letak geografis yang terjal dan terpencil seringkali menjadi penghalang utama akses masyarakat menuju fasilitas kesehatan terdekat. Ditambah lagi dengan faktor sosial-budaya yang masih memegang peran kuat, keterbatasan jumlah dan kompetensi tenaga medis di daerah pelosok, serta tingginya kasus penyakit endemik seperti malaria, seperti di di Papua Selatan mencatat rata-rata 225 kasus baru setiap harinya. Kondisi ini semakin memperberat kondisi kesehatan ibu hamil dan balita.

Namun, di tengah keterbatasan itu, harapan mulai terbangun. Kolaborasi yang kuat kini digelorakan untuk membalikkan keadaan. Pada Selasa, 23 Juni 2026, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Jayapura menerima kunjungan dan pendampingan langsung dari Tim Pengampuan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Nasional dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa perhatian nasional tertuju pada perbaikan kualitas layanan kesehatan di ujung timur Indonesia.
“Papua merupakan salah satu wilayah yang menjadi fokus utama dalam penguatan layanan kesehatan nasional. Kehadiran rumah sakit vertikal seperti RSUP Jayapura diharapkan dapat memperkuat sistem rujukan dan memastikan setiap langkah perbaikan berjalan secara berkelanjutan,” ujar Ketua Tim Pengampuan KIA Nasional RSCM Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A.
Dalam pertemuan tersebut, tim melakukan evaluasi mendalam terhadap kesiapan layanan, pemetaan kebutuhan tenaga kerja, pengecekan sarana dan prasarana, hingga penyusunan rencana pengembangan jangka panjang.
Prof. Rinawati menegaskan bahwa peralatan canggih saja tidak cukup tanpa dukungan tenaga kesehatan yang kompeten. “Penguatan harus dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari kualitas sumber daya manusia, ketersediaan fasilitas, hingga kelengkapan peralatan medis,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama RSUP Jayapura, Dr. dr. Petronella Marcia Risamasu, M.Ked.Trop., menyatakan bahwa perbaikan layanan KIA telah menjadi prioritas utama rumah sakit yang dipimpinnya. Baginya, upaya ini bukan sekadar tugas medis, melainkan investasi besar bagi masa depan daerah.
“Jika kita mampu menyelesaikan masalah kesehatan ibu dan anak, berarti kita sedang menyelamatkan generasi penerus Papua. Mencegah kematian yang sebenarnya bisa dihindari adalah tujuan utama kami. Apa pun yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan pelayanan ini, akan terus kami upayakan,” ujarnya dengan penuh semangat.
Langkah nyata juga diambil oleh pemerintah daerah melalui berbagai pendekatan. Posyandu kini ditingkatkan perannya menjadi garda terdepan yang tidak hanya melayani pengobatan dasar, tetapi juga menjadi pusat edukasi kesehatan bagi masyarakat. Kerja sama dengan tokoh adat dan agama pun dibangun untuk menjembatani perbedaan budaya dan mempermudah penerimaan program kesehatan di tingkat kampung. Dukungan teknologi melalui sistem informasi kesehatan serta alokasi dana dari skema Otonomi Khusus dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah juga disiapkan untuk menjamin keberlangsungan program.
Perjuangan menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Papua tidak akan selesai dalam semalam. Namun dengan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, tenaga kesehatan, dan dukungan masyarakat, pintu harapan kini terbuka lebar. Setiap ibu yang selamat melahirkan, setiap bayi yang tumbuh sehat, adalah langkah nyata menuju masa depan Papua yang lebih kuat, sehat, dan cerah. (Krist A/rilis humas rsup)








