Beranda MIMIKA Seabad Pengabdian Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh)

Seabad Pengabdian Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh)

31
0
BERBAGI
Uskup Keuskupan Timika, Mgr Bernardus Baru memimpin misa syukur peringatan 100 tahun. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Dari Sungai Musi Hingga Tanah Mimika, Berakar dan Berbuah dengan Kasih

TIMIKA (7/8/26), NGK – Kasih tidak mengenal jarak. Dari sebuah biara kecil di Belanda, melintasi samudera hingga ke tepian Sungai Musi di Palembang, lalu menembus pegunungan dan pesisir tanah Papua, itulah perjalanan kasih yang ditabur oleh Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas, yang kini dikenal dengan sebutan FCh.

Misa pengucapan syukur (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Tahun 2026 menjadi saksi perjalanan satu abad kehadiran mereka di Indonesia. Satu abad merawat, mendidik, mendampingi, tanpa pamrih, semata karena kasih. Dan di tanah Mimika, kasih itu pun berakar dan berbuah lebat.

Benih Kasih dari Tanah Belanda

Kongregasi FCh berakar dari Kongregasi Suster Peniten Rekolek Charitas Roosendaal, yang didirikan oleh Ibu Pendiri Theresia Saelmaekers pada 1 Desember 1834 di Oosterhout, Breda, Belanda. Awalnya berkedudukan di Steenbergen, dan secara resmi diakui sebagai  lembaga berbadan hukum pada 26 Maret 1855 dengan nama Charitas. Pada tahun 1905, pusat kongregasi pindah ke Roosendaal. Sebagai bagian dari keluarga besar Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi, semangat Santo Fransiskus  kesederhanaan, kerendahan hati, dan kasih kepada yang kecil  menjadi napas sepanjang perjalanan mereka.

Menyebar ke Indonesia, Tiba di Palembang, 9 Juli 1926

Pada awal abad ke-20, para Pastor Hati Kudus Yesus (SCJ) yang melayani di wilayah Sumatera Selatan memohon bantuan kepada Kongregasi Charitas di Roosendaal untuk mengelola pelayanan kesehatan di Palembang. Permohonan itu dikabulkan.

Pada 11 Juni 1926, lima suster misionaris pertama berangkat dari Biara Charitas Roosendaal. Setelah menempuh perjalanan jauh, mereka tiba di Pelabuhan Boom Baru, tepian Sungai Musi, Palembang pada 9 Juli 1926. Kelima perintis itu adalah:

  1. Sr. M. Raymunda Hermans
  2. Sr. M. Chatarina Koning
  3. Sr. M. Alacoque van der Linden
  4. Sr. M. Caecilia Luyten
  5. Sr. M. Wilhelmina Blesgraaf

Mereka didampingi  Pater Albertus Hermelink, SCJ.

Awalnya, para suster merawat orang sakit di sebuah rumah sederhana. Di sanalah benih itu mulai tumbuh, menjadi cikal bakal Charitas Hospital Palembang. Secara bertahap, karya kasih itu melebar, tak hanya kesehatan, tetapi juga pendidikan, pelayanan sosial, dan pendampingan pastoral.

Kongregasi Mandiri, 1 Desember 1991

Seiring berjalannya waktu, jumlah anggota bertambah, karya meluas, dan cabang Indonesia pun tumbuh dewasa. Maka, pada 1 Desember 1991, berdasarkan Dekret Kongregasi Suci untuk Tarekat Hidup Bakti, cabang Indonesia resmi melepaskan diri dari biara induk di Roosendaal dan berdiri sebagai kongregasi mandiri tingkat keuskupan, berkedudukan di Keuskupan Agung Palembang.

Suasana khusyuk saat misa syukur yang dipimpin Uskup Keuskupan Timika (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Nama resminya Peniten Rekolek dari Maria Yang Terkandung Tanpa Noda, yang dengan penuh kasih dan hormat dikenal luas sebagai Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh).

Kini, FCh telah menumbuhkan sekitar 28 komunitas cabang di berbagai keuskupan di Indonesia serta di luar negeri, dengan sekitar 290 suster. Sebuah perjalanan panjang yang mengingatkan kasih yang setia tak pernah berhenti bertumbuh.

Kasih Melintas Samudera hingga Ke Papua

Pada tahun 1997, datanglah sebuah panggilan baru. Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM  Uskup Jayapura saat itu, datang berkunjung ke Palembang. Ia datang membawa permohonan tulus, meminta kepada Kongregasi FCh agar bersedia mengirim para suster ke wilayah Papua, khususnya Timika, untuk mengelola pelayanan kesehatan yang akan dibangun bekerja sama dengan LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro) serta PT Freeport Indonesia.

Para Suster Charitas menikmati kue ulang tahun bersama Uskup Keuskupan Timika dan Wakil Bupati Mimika (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Permohonan itu menyentuh hati. Maka, setelah pembicaraan dan peninjauan awal, dua suster dikirim untuk meninjau langsung kondisi di Timika. Mereka adalah Sr. M. Zita, FCh dan Sr. M. Martha, FCh.

Kedua suster tiba di Timika pada tahun 1998. Mereka meninjau keadaan, berunding bersama Uskup Leo Laba Ladjar, Pater Jan van der Horst, serta dr. Joseph Lukman Oyong, SpJP menilai kelayakan, memandang wajah-wajah yang menanti pelayanan.

Dari kunjungan itu lahirlah kesepakatan tulus FCh menerima perutusan itu dan bersedia mengelola Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) di Timika.

Rumah Sakit Mitra Masyarakat

Gagasan pembangunan RSMM lahir dari kerja sama empat pihak: PT Freeport Indonesia, LPMI (kini YPMAK), Pemerintah Kabupaten Mimika, dan Keuskupan Jayapura. Nota Kesepahaman resmi ditandatangani pada 8 April 1999. Pemilik rumah sakit adalah YPMAK, sedangkan pengelolaannya dipercayakan sepenuhnya kepada Yayasan Charitas Timika Papua (YCTP) yang dijalankan oleh para Suster FCh.

  • 4 Februari 1999 — Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pater Bert Hagendoorn, OFM, selaku Ketua Yayasan Charitas Timika.
  • 20 Agustus 1999 — Rumah Sakit Mitra Masyarakat mulai melayani! Pada hari pertama, hanya pelayanan Rawat Jalan dan Laboratorium yang beroperasi, melayani sekitar 10 pasien per hari.
  • Awal September 1999 — Unit Gawat Darurat mulai melayani, disusul bangsal rawat inap dan pelayanan persalinan.
  • Awal tahun 2000 — Seluruh bangunan dan fasilitas selesai dibangun dan beroperasi secara penuh.
Pemotongan tumpeng oleh Mgr Bernardus Baru (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Pada awal berdirinya, RSMM memiliki kapasitas 69 tempat tidur. Direktur pertamanya adalah dr. Joseph Lukman Oyong, SpJP yang setia mendampingi perjalanan rumah sakit ini dari hari-hari pertamanya.

Komunitas FCH di Mimika

Setelah kesepakatan ditegaskan dan pembangunan berlangsung, Kongregasi FCh mengirim kelompok suster yang menetap secara berkelanjutan. Mereka tinggal, berdoa, dan melayani di tengah masyarakat Timika. Mereka membangun rumah doa dan persekutuan, agar dari sana mengalir kekuatan rohani bagi seluruh pelayanan.

FCh telah menumbuhkan tiga komunitas biara di wilayah Keuskupan Timika:

Biara Charitas Greccio — Timika

Dibangun tak jauh dari RSMM, sekitar tahun 1999–2000. Dinamai Greccio, mengingat tempat di mana Santo Fransiskus pertama kali merayakan Misa Natal — tempat kasih lahir dalam kesederhanaan. Di sinilah para suster yang melayani di RSMM tinggal dan berdoa bersama; dari sinilah kasih mengalir ke bangsal-bangsal perawatan.

para suster Charitas ketika merayakan 100 tahun kehadiran Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) dan 28 tahun FCh di Timika (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Biara Charitas Bintang Laut — Kaokanao

Kasih tak berhenti di kota. Melihat saudara-saudari di wilayah pesisir Mimika Wee yang jauh dari pelayanan, para suster pun membuka perutusan baru di Kaokanao. Biara Charitas Bintang Laut menjadi tanda kehadiran kasih di tepian laut, melayani kesehatan dasar, pendidikan, dan pendampingan rohani bagi masyarakat pesisir.

Kini, jalan di depan RSMM pun bernama Jalan Charitas — nama yang tak asing, nama yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mimika.

Tumbuh dari Berkarya, dari 10 Pasien hingga Jutaan Pasien

Sejak hari pertama melayani  hanya 10 pasien rawat jalan — RSMM terus tumbuh dan berkembang:

  • 2008 — RSMM resmi ditetapkan sebagai Rumah Sakit Kelas C.
  • 2018 — Mendirikan Klinik Mitra Masyarakat (KMM) untuk pelayanan kesehatan tingkat pertama, menjangkau lebih luas lagi.
  • 2024 — Memperingati 25 Tahun Pelayanan. Dalam seperempat abad, RSMM telah melayani lebih dari tiga juta pasien.
  • 2026 — Kapasitas telah berkembang menjadi 156 tempat tidur, didukung sekitar 370 tenaga — 26 dokter umum dan spesialis, 185 perawat dan bidan, serta puluhan tenaga lainnya. Pelayanan telah meluas: rawat jalan dan inap, UGD 24 jam, berbagai poliklinik spesialis, laboratorium, radiologi, pelayanan ibu dan anak, bedah, dan lain-lain.

RSMM kini terakreditasi KARS, bermitra dengan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, dan terus berbenah menuju standar pelayanan tingkat nasional pada tahun 2027.

Namun yang terindah dari sekadar suster yang dikirim dari jauh, kini mulai tumbuh kader putri daerah Papua sendiri yang menjadi bagian dari keluarga FCh — seperti Sr. M. Gregoriana, FCh dan lainnya. Artinya, kasih Charitas kini berakar di tanah Papua sendiri.

Seratus Tahun, Kasih Tak Pernah Berhenti

Tahun 2026  tepat seabad sejak lima suster perintis mendarat di tepian Sungai Musi — menjadi momen bersyukur yang tak terlukiskan. Sebuah buku sejarah pun diterbitkan berjudul “Berakar dan Berbuah dengan Sukacita: Seabad Suster Charitas (FCh) di Indonesia 1926–2026”.

Dalam perayaan syukur di tanah Mimika, mewakili keluarga besar FCh, seorang perwakilan berkata:

“Matahari terbit pasti dari timur dan akan terbenam di ufuk barat. Air selalu mengalir dari gunung, dari tempat yang tinggi menuju ke lembah. Demikian pula kasih dan rahmat Tuhan yang melintas hingga ke tanah Amungsa ini. Air mengalir tak henti-hentinya untuk semua orang, tanpa memandang siapa pun — baik orang Papua maupun dari mana pun asalnya — semua dirangkul untuk kita semua.”

Dan pesan itu benar-benar nyata: Palembang hingga Timika, Charitas mengalirkan kasih tulus tanpa pamrih.

Seabad bukanlah akhir. Ia adalah awal yang baru. Sebagaimana pohon yang berakar dalam, terus tumbuh dan berbuah lebat — demikian pula kasih Charitas: berakar dalam kasih Kristus, berbuah dalam pelayanan, mekar di setiap tanah yang disinggahi.

Dari tepian Sungai Musi hingga pegunungan Amungme dan pesisir Mimika Wee  kasih itu terus mengalir. Dan terus akan mengalir, selama masih ada hati yang menerima dan tangan yang mengulurkan kasih.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, yang hadir mewakili pemerintah daerah menyatakan  pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM)—yang akrab disebut warga kampung cukup dengan nama “Charitas”—telah menyelamatkan banyak nyawa dan mengangkat harkat hidup orang banyak.

“Pelayanan Charitas di rumah sakit sudah menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan masyarakat Papua yang harus senantiasa kita jaga bersama,” ungkap Emanuel Kemong

Amolongo! Nimaowitimi! Saipa!  Semoga Tuhan memberkati perjalanan kasih ini, kini dan selamanya.

(thobias maturbongs/krist ansaka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here