Beranda Ko Su Tau Kah ? Waraya Wara’I, Gelang Penjaga Identitas Mairasi

Waraya Wara’I, Gelang Penjaga Identitas Mairasi

62
0
BERBAGI
Gelang bernama Waraya atau Wara'i — dikenakan laki-laki maupun perempuan, tumbuh bersama kehidupan, dan menjadi penanda siapa mereka sebenarnya. (Foto: Nesta M)

JAYAPURA, (21/9/26), NGK — Di tengah deru perubahan zaman yang membawa corak budaya baru ke tanah Papua, masyarakat adat Suku Mairasi di wilayah Teluk Wondama hingga Kaimana masih memelihara benda sederhana yang menyimpan makna tak ternilai.

Benda itu bukan perhiasan biasa, melainkan gelang bernama Waraya atau Wara’i — dikenakan laki-laki maupun perempuan, tumbuh bersama kehidupan, dan menjadi penanda siapa mereka sebenarnya.

Waraya/Wara’i bukan sekadar gelang yang melingkar di pergelangan tangan atau lengan. Gelang itu adalah simbol kedewasaan, kemandirian, sekaligus kewibawaan yang melekat pada setiap orang Mairasi yang mengenakannya.

Waraya atau Wara’i — dikenakan laki-laki (Foto: Nesta M)

Gelang itu ditenun dari bahan pilihan yang diambil dari hutan, akar tanaman menjalar yang diolah khusus. Gelang ini dibuat sepenuhnya oleh tangan-tangan terampil kaum perempuan Mairasi, menjadikannya sekaligus bukti kelembutan dan kekuatan yang menyatu dalam satu karya.

Membuat Gelang Waraya atau Wara’i (Foto: Nesta M)

Nama dan warna pun tak datang begitu saja. Gelang dari tali hitam murni disebut Wara’i wawur; perpaduan hitam-putih bernama Wara’i irisitatc; sedangkan yang berwarna putih disebut Wara’i akwa. Hitam adalah wawur, putih adalah umbuf. Setiap warna menyimpan pesan, dan setiap sebutan menyimpan ingatan leluhur.

Lebih dari sekadar pelengkap pakaian, Waraya/Wara’i adalah cermin hubungan masyarakat Mairasi dengan alam dan sesama. Seperti dijelaskan Ishak Nyalo, gelang ini memperlihatkan bahwa kehidupan manusia Mairasi tak dapat dipisahkan dari tanah, hutan, sungai, serta nilai-nilai adat yang mengatur kehidupan bersama.

Bagi laki-laki, gelang ini menjadi pengingat tanggung jawab terhadap keluarga, kerabat, dan wilayah adat. Bagi perempuan, ia adalah lambang jati diri yang kokoh. Nilai-nilai itu tidak selalu diucapkan dengan kata — ia dibawa, dikenakan, dan hidup dalam kebersamaan.

Waraya atau Wara’i (Foto: Nesta M)

“Gelang ini menjadi bagian dari cara masyarakat menyampaikan identitas tanpa harus banyak berbicara,” ungkap Ishak Nyalo

Di masa kini, ketika pakaian dan aksesori modern kian mendominasi pergaulan, Waraya/Wara’i tidak harus menyingkir. Agustinus Vet menegaskan, “gelang ini tetap dapat dipakai tanpa kehilangan nilai luhurnya. Justru, mengenakannya adalah cara berbicara kepada dunia luar, bahwa budaya Mairasi masih hidup, masih berdenyut, dan masih dibanggakan.”

Namun keberlangsungan warisan ini tak datang sendiri. Ia bergantung pada bagaimana generasi muda mengetahui cerita di baliknya. Menyimpan Waraya/Wara’i berarti bertanya kepada para tetua, dari mana asalnya, siapa yang boleh mengenakannya, bagaimana cara menenunnya, dan apa pesan yang disampaikan. Sebab budaya tidak hidup dalam benda mati, ia hidup ketika maknanya dipahami, dihayati, dan diteruskan.

Waraya/Wara’i adalah cermin hubungan masyarakat Mairasi dengan alam dan sesama. (Foto: Nesta M)

Suatu hari, gelang itu mungkin masih terlihat di pergelangan tangan seseorang. Namun jika cerita di baliknya hilang, maka yang tersisa hanyalah benda biasa. Itulah sebabnya menjaga Waraya/Wara’i sama artinya dengan menjaga ingatan kolektif bangsa Mairasi tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka akan melangkah.

Gelang itu tampak kecil. Namun di dalamnya tersimpan akar yang kuat. Ia adalah Waraya/Wara’i — jati diri yang tak boleh pudar, dijunjung bersama, dan dibawa menuju masa depan. (Nesta Makuba)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here