SENTANI (12/8/26), NGK – Saat matahari mulai turun perlahan ke ufuk barat, Danau Sentani berkilau dengan warna jingga keemasan yang memeluk rumah-rumah panggung di atas air. Di tepiannya, Kampung Yobeh berubah menjadi lautan manusia.

Ribuan pengunjung tumpah ruah, berdesak-desakan menyambut senja yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga membawa berkah nyata bagi setiap warga kampung.
Pesta Rakyat Masyarakat Adat Kampung Yobeh bukan sekadar perayaan budaya dan keindahan alaM. Pesta ini adalah bukti hidup bahwa kebersamaan dan warisan leluhur mampu menggerakkan roda kesejahteraan dari akar rumput.
Senja di Danau Sentani memang selalu punya daya pikat yang tiada duanya. Namun kali ini, keindahan itu berpadu dengan kemeriahan yang luar biasa. Sejak sore hari, warga dari berbagai penjuru, wisatawan lokal maupun mancanegara, berbondong-bondong memadati kawasan kampung adat. Mereka datang bukan hanya untuk membiuskan diri pada gradasi warna langit sore yang memukau, melainkan juga untuk menyaksikan tarian adat yang diiringi dentuman tifa dan alunan suling bambu, mengapresiasi pameran karya tangan perajin, serta menikmati kehangatan sambutan khas Port Numbay yang begitu tulus.
Atmosfer kebersamaan terasa begitu kental, membuktikan bahwa pesona budaya dan alam Kampung Yobeh memiliki magnet yang kuat di hati masyarakat.

Di balik kemeriahan dan senja yang memukau, terselip sebuah gerakan bermakna: “Bawa Uang ke Kampung”. Seruan ini bukan sekadar kalimat ajakan, melainkan gerakan nyata yang menjelma menjadi perputaran ekonomi kerakyatan yang hidup dan memberdayakan. Setiap rupiah yang dibelanjakan pengunjung di sini berputar langsung di dapur-dapur warga kampung.
Lapak-lapak mama Papua yang menyajikan papeda, ikan kuah kuning, dan kue sagu buatan rumah ludes diserbu pembeli. Noken bermotif khas, ukiran kayu Sentani, serta aneka kerajinan tangan dan hasil bumi segar dari kebun warga juga dicari banyak orang. Para pelaku UMKM, perajin, dan ibu rumah tangga mencatatkan peningkatan pendapatan yang nyata. Pariwisata berbasis budaya tak lagi sekadar menghadirkan tontonan indah, melainkan memberi dampak finansial langsung yang menyejahterakan.
Pesta Rakyat Kampung Yobeh juga menjadi ruang pelestarian warisan leluhur yang tak lekang waktu. Lewat tarian adat, pameran kriya, dan kearifan lokal yang ditampilkan, masyarakat adat berupaya merawat identitas budaya, memperkuat ikatan kekeluargaan, sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda dan tamu yang datang. Ini bukan sekadar pertunjukan sesaat, melainkan bukti bahwa adat tetap hidup, relevan, dan mampu beradaptasi di tengah arus zaman.
Senja di Danau Sentani hari itu pun terbenam meninggalkan kesan mendalam. Kampung Yobeh telah membuktikan satu hal sederhana namun bermakna besar: dengan merawat warisan budaya, menyambut tamu dengan tulus, dan membangun kemandirian ekonomi bersama, keindahan alam dan kesejahteraan rakyat bisa berjalan beriringan. Semoga pesona senja dan semangat gotong royong ini terus bersinar, membawa kesejahteraan bagi bumi Cenderawasih di masa-masa mendatang. (Krist A)








