Beranda Hukum Seruan Damai di Tengah Air Mata Papua

Seruan Damai di Tengah Air Mata Papua

54
0
BERBAGI
Ilustrasi (AI Gemini)

JAKARTA (12/9/26), NGK – Papua kembali berduka. Di tanah yang seharusnya penuh damai, air mata dan darah terus tercucur tanpa henti.

Rangkaian peristiwa kekerasan yang menimpa warga sipil kembali mengguncang nurani bangsa, memicu keprihatinan mendalam dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) yang mengecam keras segala tindakan yang merampas kehidupan dan martabat manusia, seperti yang disampaikan Kepala Biro Papua, Pdt. Ronald melalui siaran persnya yang diterima NGK pada Sabtu (12/9/2026)

Pada Agustus 2026, di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, sembilan perempuan warga sipil dilaporkan disandera. Di antara mereka ada yang masih berusia belia, ada yang sedang mengandung, dan ada yang baru duduk di bangku sekolah. Mereka adalah Nemerina Wamang (17 tahun, sedang hamil muda), Alin Mesawarol (siswi kelas VI SD), Nopi Aim (siswi kelas IV SD), Opinte Meswaro (siswi kelas III SD), Yonita Senawatme (18 tahun), Meria Nibilingame (15 tahun), Wena Katagame (18 tahun), Ilimin Onawame (18 tahun), serta Miante Nibilingame (13 tahun). Warga sipil ini seharusnya berada di bawah perlindungan penuh. Dalam keadaan apa pun, mereka tidak boleh dijadikan sasaran ataupun instrumen dalam konflik bersenjata yang bukan mereka pilih.

Belum sempat luka mengering, kembali datang kabar duka. Pada 9 September 2026, di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, tiga Aparatur Sipil Negara dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya tewas ditembak saat sedang menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Mereka adalah Aprida Rapi (49 tahun), Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan asal Toraja, Sulawesi Selatan; drh. Alfonsius Albinus Mehan (35 tahun), dokter hewan asal Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur; serta Wili Mbuik (24 tahun), Calon Pegawai Negeri Sipil asal Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Mereka datang membawa pelayanan, bukan senjata, namun nyawa mereka direnggut secara kejam.

“Kami turut berduka dan berdoa bagi seluruh keluarga yang ditinggalkan, kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan penghiburan,” demikian ungkapan hati yang tersampaikan dari PGI. Duka itu bukan milik keluarga korban semata, melainkan duka segenap anak bangsa yang menginginkan kedamaian di Tanah Papua.

Dengan alasan apa pun, penangkapan sewenang-wenang, penyanderaan, penyiksaan, hingga pembunuhan terhadap warga sipil yang tidak bersalah adalah tindakan yang tidak manusiawi. Hal itu bertentangan dengan kehendak Allah, Sang Pencipta dan Pemelihara kehidupan. Alkitab telah menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, sehingga setiap kehidupan memiliki martabat yang tidak boleh dirampas oleh siapa pun. Sabda Tuhan, “Jangan membunuh,” adalah penegasan moral yang tidak dapat dinegosiasikan demi alasan politik, keamanan, maupun bentuk perjuangan apa pun.

PGI pun menegaskan kembali: setiap upaya menyelesaikan persoalan Papua harus berlandaskan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia, perlindungan warga sipil, dan keberpihakan kepada kehidupan. Kekerasan tidak akan pernah menyembuhkan luka Papua. Sebaliknya, kekerasan hanya akan melahirkan ketakutan, kebencian, kehilangan yang berkepanjangan, serta lingkaran kekerasan baru yang terus berputar tanpa akhir.

Maka, seruan lantang pun dikumandangkan kepada semua pihak: Hentikan Kekerasan! Hentikan penyanderaan, penembakan, pembunuhan, dan seluruh tindakan yang menempatkan warga sipil dalam bahaya. Semua pihak yang terlibat harus menghormati kehidupan, memastikan perempuan, anak-anak, pekerja kemanusiaan, pelayan publik, dan seluruh warga sipil terlindungi dari sasaran kekerasan.

Di saat yang sama, ruang dialog kemanusiaan harus segera dibuka sebagai langkah mendesak untuk memutus mata rantai aksi dan reaksi, serangan dan pembalasan yang terus memakan korban tak berdosa. Dialog bukan tanda kelemahan, melainkan jalan menyelamatkan kehidupan, menjamin perlindungan warga sipil, membangun kembali kepercayaan yang sempat runtuh, serta membuka jalan menuju penyelesaian persoalan Papua yang bermartabat dan damai.

Papua tidak membutuhkan lebih banyak kuburan. Papua membutuhkan keberanian untuk menghentikan kekerasan, memulihkan mereka yang terluka, melindungi setiap nyawa, dan membangun perdamaian yang sejati. Sebagaimana firman Tuhan mengingatkan: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here