Beranda MIMIKA Bekerja dengan Hati, Melayani dengan Iman: Rekoleksi YPMAK Digelar

Bekerja dengan Hati, Melayani dengan Iman: Rekoleksi YPMAK Digelar

59
0
BERBAGI
Ketua dan Pengurus YPMAK serta Staff dan Karyawan YPMAK serius mengikuti materi rekoleksi dari Pater Martin Silitubun. (Foto: Humas YPMAK)

JAYAPURA (24/9/26), NGK — Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) menyelenggarakan kegiatan rekoleksi rutin bertema “Bekerja dengan Hati, Melayani dengan Iman” di Swiss-Belhotel Jayapura pada Kamis (24/9/2026). Kegiatan ini diikuti oleh Ketua beserta Pengurus YPMAK, seluruh staf dan karyawan.

Ketua Pengurus YPMAK, Dr Leonardus Tumuka ketika memberikan sambutan (Foto: Humas YPMAK)

Ketua YPMAK, Dr. Leonardus Tumuka, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan rekoleksi ini diadakan setiap dua tahun sekali guna memperkuat semangat pelayanan seluruh jajaran. Ia mengingatkan para peserta bahwa dinamika tugas di lapangan kerap dihadapkan pada berbagai tantangan emosional—mulai dari pujian hingga cercaan dan makian dari masyarakat.

“Selama kegiatan ini, tinggalkan jabatan dan ego. Kita adalah satu keluarga besar di bawah naungan YPMAK,” ujar Tumuka.

Ia meminta para peserta untuk saling mendengar, menghindari sikap merasa paling hebat, serta menjadikan semangat pemaafan sebagai kunci kemajuan bersama.

Staff dan Karyawan YPMAK mengikuti rekoleksi (Foto: Humas YPMAK)

Tumuka mengingatkan dinamika tugas di lapangan tak hanya mendapat pujian, melainkan kerap dihadapkan cercaan dan makian. Ia menekankan masyarakat yang datang meminta bantuan membawa beban hidup berat, sementara para pelaksana pelayanan pun menyembunyikan urusan pribadi demi tetap mengabdi.

Memuji Tuhan lewat puji- pujian (Foto: Humas YPMAK)

Sementara sesi pendalaman materi kemudian dilanjutkan oleh Pater Martin Silitubun. Dalam pemaparannya, Pater Silitubun menjelaskan rekoleksi berarti “mengumpulkan kembali” semangat pelayanan yang sempat tercerai-berai akibat dinamika kerja. Keberhasilan kegiatan ini tidak terletak pada pembicara, melainkan pada keterbukaan hati peserta untuk merefleksikan diri.

Pater Martin menekankan  panggilan pelayanan menuntut pegawai untuk bekerja dengan hati dan melayani dengan iman. Pelayanan tidak boleh direduksi sekadar menjadi rutinitas administratif atau mengejar target angka perusahaan semata.

“Kalau hati tidak ditanamkan secara total, masyarakat yang dilayani lambat laun hanya akan dianggap sebagai data, batu loncatan, atau alat untuk mencapai target dan mencari keuntungan pribadi. Padahal, kita berhadapan dengan manusia hidup yang punya emosi dan perasaan,” tegas Pater Martin.

Pater Martin Silitubun memaparkan, tentang mewartakan Kristus melalui tindakan nyata. Panggilan Pelayanan: Efek dari pembaptisan membawa panggilan untuk bekerja dan pergi mewartakan Kristus sampai ke ujung dunia. “Ujung dunia” di sini bermakna mewartakan Kristus dengan sekuat tenaga dalam realitas pekerjaan sehari-hari.

Pater Martin Silitubun ketika menjelaskan bahwa panggilan pelayanan menuntut pegawai untuk bekerja dengan hati dan melayani dengan iman. (Foto: Humas YPMAK)

Ekspresi Nilai Kristiani: Pewartaan tidak selalu harus berupa kata-kata rohani, melainkan diwujudkan melalui ekspresi nilai-nilai luhur seperti: Kasih dan sukacita, semangat melayani secara total dan pengabdian tiada habisnya serta kemampuan mengagumi dan menemukan hal-hal yang baik pada diri orang lain.

“Jika nilai-nilai ini tidak diupayakan, tindakan kita kehilangan esensi keteladanan Kristus. Di semua agama pun pada prinsipnya mengajarkan dasar pengabdian yang sama,” ujar Pater Martin.

Dijelaskan juga tentang tantangan di era modern dalam relasi kemanusiaan. Di dunia modern saat ini, banyak orang terlalu sibuk dengan gawai (handphone). Teman kerap dianggap sekadar sebagai “teman virtual”, di mana pesan atau posting-an di grup sering kali dibagikan tanpa melibatkan perasaan yang tulus.

Situasi sangat berbeda ketika pegawai berhadapan langsung (face-to-face) dengan masyarakat di kampung (misalnya masyarakat Suku Kamoro atau Asmat yang memiliki karakteristik khas).

Diskusi kelompok (Foto: YPMAK)

Bahaya Memandang Manusia sebagai Angka/Data

Jika hati tidak ditanamkan secara total dalam pelayanan, masyarakat yang dilayani lambat laun hanya akan dianggap sebagai data, batu loncatan, atau sekadar alat untuk mencapai target perusahaan dan mencari keuntungan, kemuliaan pribadi.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di YPMAK, tetapi juga di berbagai institusi lain (termasuk dunia kampus), di mana sebagian orang bekerja demi kemuliaan namanya sendiri, bukan demi keselamatan sesama atau kemuliaan Tuhan.

Posisi dan Identitas Lembaga YPMAK

Bukan Lembaga Biasa: YPMAK (atau PT Freeport Indonesia dalam ranah pendukungnya) memang menargetkan capaian kerja yang terukur. Namun, sebagai orang beriman, target angka bukan satu-satunya tolokukur.

Perbedaan dengan NGO Asing: Banyak NGO internasional datang hanya untuk membuat program, mencairkan dana, lalu pergi tanpa keterlibatan hati yang mendalam. YPMAK berbeda karena didirikan dan digerakkan oleh orang-orang yang memiliki fondasi iman, kasih, dan tradisi penyegaran rohani (seperti rekoleksi rutin dua tahun sekali).

Jadi Rekoleksi diadakan bukan sekadar formalitas atau rekreasi biasa, melainkan sarana recharging (mengisi ulang) semangat, harapan, dan kesegaran iman dalam menghadapi dinamika pelayanan.

Refleksi Skala Pelayanan Berdasarkan Data Publik YPMAK

Dalam paparannya, Pater Martin turut menyoroti besarnya skala pelayanan YPMAK dengan merujuk pada transparansi data lembaga tahun 2023, yang menunjukkan realisasi nyata di berbagai bidang:

  • Bidang Pendidikan: Menelan anggaran sekitar Rp272,6 miliar, yang berhasil menyentuh 1.171 penerima beasiswa, 1.700 siswa asrama, serta pembiayaan 85 guru kontrak.
  • Bidang Ekonomi: Didukung anggaran sekitar Rp67,2 miliar untuk pemberdayaan pengusaha mandiri dari tujuh suku serta pengelolaan 79 Kelompok Kerja (Pokja) Kampung.
  • Bidang Kesehatan dan Sosial: Mencakup pelayanan kesehatan lintas agama serta penanganan masalah sosial yang meliputi adat, agama, penanggulangan bencana, dan fasilitas umum.
Diskusi kelompok (Foto: YPMAK)

Kendati mengelola dana ratusan miliar rupiah, Pater Martin mengingatkan  angka-angka besar tersebut pada akhirnya diuji melalui hal-hal yang sangat personal, yaitu: selembar proposal, satu permohonan bantuan, dan harapan hidup dari masyarakat kecil di kampung. Di balik setiap angka dan proposal, terdapat keluarga dan masa depan manusia yang digantungkan kepada para pegawai YPMAK.

Refleksi di Balik Angka dan Proposal

Angka yang Besar: Dana ratusan miliar rupiah tersebut tampak sangat besar di atas kertas. Namun, dana itu sering kali diuji dan “dibongkar” lewat hal-hal sederhana: satu proposal, satu permintaan, atau satu harapan bantuan.

Manusia di Balik Proposal: Di balik setiap lembar proposal terdapat keluarga yang menunggu, perut yang berharap, dan masa depan yang digantungkan kepada para pegawai YPMAK.

Menjaga Sisi Humanis: Setiap hari pegawai berhadapan dengan orang kampung yang sama, wajah yang sama, atau kelompok yang mirip. Tantangannya adalah: Apakah kita hanya fokus pada angka, target, dan kelancaran laporan semata, ataukah kita masih mampu melihat sisi manusiawi dari orang-orang yang datang meminta pertolongan?

Pater Martin memaparkan, kegiatan rekoleksi ini diarahkan pada tiga tujuan utama:

  1. Menyadari Panggilan: Menyadari bahwa pekerjaan sehari-hari adalah bagian integral dari panggilan dan perutusan hidup.
  2. Menumbuhkan Sikap Bekerja dengan Hati: Melayani dengan sungguh-sungguh berdasarkan iman, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif.

Meneguhkan Semangat di Tengah Tantangan: Menguatkan ketahanan mental dan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan, cercaan, maupun keraguan di lapangan, berlandaskan janji penyertaan Tuhan: “Aku menyertai kamu senantiasa.” (tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here