Beranda PAPUA TENGAH Sempat Meredup, Kini Geliat Kopi Papua Tengah Mulai Terlihat Lagi

Sempat Meredup, Kini Geliat Kopi Papua Tengah Mulai Terlihat Lagi

66
0
BERBAGI
Petani kopi Modio asal Kabupaten Dogiyai. (Foto: ist)

“Kalau kita bisa menanam kopi di daerah-daerah ini, kita bisa menjadi salah satu provinsi penghasil kopi terbesar di Tanah Papua.” —  Meki Nawipa, Gubernur Papua Tengah

NABIRE (29/10/26), NGK – Aroma harum kopi menyergap udara Aula Kristus Sahabat Kita (KSK), Bukit Meriam, Nabire, pada Kamis (29/10/2026). Di balik cangkir-cangkir keramik yang mengepulkan uap hangat, tersimpan sebuah cerita panjang tentang ketahanan, sejarah yang nyaris terlelap, dan secercah harapan baru bagi tanah Papua Tengah.

Gubernur Nawipa ketika menasakan nikmatnya kopi pada Festival Kopi Papua Tengah 2026. (Foto: ist)

Hari itu, Festival Kopi Papua Tengah 2026 resmi dibuka. Mengusung tema “Dari Kebun Kopi ke Cangkir, dari Petani Kopi untuk Papua Tengah”, acara ini bukan sekadar perayaan hasil panen. Lebih dari itu, festival ini menjadi tonggak kebangkitan komoditas yang pernah menjadi nadi kehidupan masyarakat pegunungan, sebelum akhirnya meredup selama satu generasi.

Warisan Misionaris dan Jejak Varietas Typika

Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun penulis Andi Tagihuma (Andi Tabea), jejak kopi di Papua telah berakar sejak awal abad ke-20, dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda dan para misionaris.

Kopi jenis Arabika bahkan tercatat mulai masuk ke Papua pada 1890-an, disusul penanaman Robusta di Ambaidiru, Kepulauan Yapen, pada 1929.

Perkembangan paling monumental terjadi di kawasan Pegunungan Tengah. Pastor Henk Smith OFM dan Pastor Hubert Zuwajs OFM merintis pengembangan kopi di Modio dan Timepa (kini masuk Kabupaten Dogiyai) antara tahun 1956 hingga 1962.

Menariknya, bibit yang dibawa ke Modio adalah varietas typika—varietas legendaris yang didatangkan VOC ke Jawa pada abad ke-17. Ketika typika nyaris punah di Pulau Jawa, varietas ini justru tumbuh subur dan beradaptasi sempurna di Pegunungan Tengah Papua yang beriklim sejuk pada ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut.

Pada era 1970-an hingga 1980-an, Moanemani di Lembah Kamuu menjadi pusat produsen utama kopi Papua. Melalui lembaga sosial P5 yang didirikan para misionaris, petani diberdayakan, bibit dibagikan, dan pabrik pengolahan kopi tertua di Papua didirikan di sana.

Namun, roda sejarah berputar. Tak lama setelah Papua bergabung dengan Indonesia, para misionaris kembali ke negara asal mereka. Pamor lembaga P5 surut, meninggalkan para petani kebingungan memasarkan hasil panen. Selama satu generasi, kopi seolah dilupakan. Generasi muda memilih merantau ke kota, sementara kebun-kebun kopi peninggalan masa lalu dibiarkan telantar dirawat para tetua.

Kebangkitan Lewat 1,25 Juta Bibit dan Perluasan Kebun

Meki Nawipa saat mengunjungi peserta Festival Kopi Papua Tengah 2026. (Foto: ist)

Kini, siklus kelam itu bersiap diputar balik. Pemerintah Provinsi Papua Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Meki Nawipa bergerak cepat menyusun peta jalan kebangkitan kopi daerah.

Pada tahun 2026, Pemprov Papua Tengah menggelontorkan program masif: menyiapkan 1.250.000 bibit kopi untuk disebar ke delapan kabupaten, serta memproses rencana perluasan dan peremajaan kebun seluas sekitar 1.400 hektare.

Dukungan Dana Otonomi Khusus (Otsus) juga dialirkan untuk memperluas kebun kopi di Kabupaten Intan Jaya (9 hektare), Puncak (8 hektare), dan Deiyai (8 hektare). Tak hanya itu, empat greenhouse modern turut dibangun di Kabupaten Intan Jaya, Puncak Jaya, Paniai, dan Deiyai untuk menopang pembibitan berkualitas.

Kendati demikian, Gubernur Meki mengingatkan bahwa penambahan bibit semata tidak akan cukup. Pertanian modern menuntut ekosistem hulu-hilir yang terintegrasi.

“Pemerintah Provinsi Papua Tengah berkomitmen mendorong pengembangan kopi agar masyarakat, khususnya para petani, dapat merasakan manfaat ekonomi secara langsung,” tegas Meki.

Menghubungkan Hulu dan Hilir: Pendampingan hingga Pasar

Menjawab tantangan tersebut, pemda tidak berjalan sendiri. Pemerintah menggandeng Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) untuk memberikan pelatihan intensif kepada para petani di Nabire, Dogiyai, Paniai, Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya.

Pelatihan ini mencakup spektrum luas:

  • Penerapan Praktik Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices / GAP) mulai dari pemangkasan hingga petik buah merah.
  • Pengelolaan panen dan pascapanen.
  • Pengenalan mutu melalui cupping dan sensory.
  • Manajemen usaha hingga teknik pengemasan dan pemasaran.

Potensi di atas kertas sangat menjanjikan. Wilayah pegunungan seperti Dogiyai, Paniai, Deiyai, Puncak, Puncak Jaya, dan Intan Jaya merupakan surga bagi kopi Arabika berkualitas tinggi. Sementara itu, wilayah dataran seperti Nabire dan Mimika menyimpan potensi besar untuk pengembangan kopi Robusta.

Gubernur Meki juga menyoroti pentingnya estetika produk. Kualitas rasa yang luar biasa harus dibarengi dengan kemasan (packaging) yang memikat agar mampu menembus pasar nasional bahkan global, serta mendongkrak nilai jual petani.

Dari Kebun ke Cangkir, Harapan Baru Petani Papua Tengah

Festival Kopi Papua Tengah 2026 yang berlangsung selama dua hari (29–30 Oktober 2026) menjadi saksi hidup bagaimana kolaborasi lintas sektor—mulai dari Forkopimda, para bupati, koperasi, barista, UMKM, hingga petani lokal—berkumpul dalam satu visi.

Prosesi penyiraman bibit kopi oleh Gubernur Meki Nawipa bersama para pejabat dan tokoh masyarakat di awal acara menjadi simbol penanaman asa. Sebuah ikhtiar kolektif agar pahitnya sejarah keterlantaran masa lalu lebur berganti dengan manisnya aroma kopi di cangkir-cangkir masa depan.

Keberhasilan program ini nantinya tentu tidak diukur dari seberapa banyak bibit yang dibagikan, melainkan dari senyum para petani di lereng-lereng gunung yang kembali mendapati kebun mereka hijau, produktif, dan menjamin kesejahteraan hidup keluarganya. Kopi Papua Tengah kini resmi bangkit, siap mengalirkan kembali kebanggaan dari Tanah Papua untuk Indonesia. (Krist A)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here