JAYAPURA, (24/9/26), NGK – Di sebuah sudut rumah yang tenang di Samofa, Biak, Rabu sore 23 September 2026, tangan yang selama puluhan tahun memegang pena, membalik halaman buku, dan menekan tuts papan ketik akhirnya berhenti bergerak. Joost Willem Mirino, lelaki berpenampilan sederhana yang lahir di Biak pada 29 Maret 1962, telah berpulang. Ia dimakamkan di tanah kelahirannya, Kampung Mamoribo, Biak Barat — tempat yang selalu ia cintai, catat, dan perjuangkan lewat tulisan.
Tak banyak yang tahu betapa dalamnya lautan ilmu yang tersimpan di kepala lelaki pendiam yang selalu mengenakan kemeja kotak-kotak dan topi yang selalu tertancap di kepalanya itu.
Saya biasa memanggilnya, Om Joost. Ia tak suka berbicara berlebihan. Bicara seperlunya saja. Lebih banyak mendengar, sesekali tersenyum, tertawa pelan, lalu kembali menunduk pada buku di tangan atau layar komputer di depannya. Ditemani buku yang selalu dibawa ke mana-mana, rokok di bibir, dan pinang yang dikunyah, itulah pemandangan yang paling sering dilihat siapa saja yang mengenalnya.
Teman-teman dekatnya menyebutnya Perpustakaan Hidup. “Kita tidak perlu cari buku di perpustakaan. Cukup tanya Kaka Joost, dia akan kasih tahu judul, penulis, tahun terbit, dan isinya,” kenang Thomas Safanpo, sahabat karibnya sejak masa kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Di sana, mereka berbagi ruang diskusi tentang buku-buku dari dalam dan luar negeri — diskusi yang seringkali hanya Joost yang bisa menuntun, sebab ia menguasai isi buku itu dari sampul hingga sampul belakang.
Ia jarang berbicara dalam bahasa asing, namun mampu membaca dan menerjemahkannya dengan ketepatan tinggi. “Jangan sok jago dan pamer, yang penting kita mengerti bahasanya,” ujarnya suatu hari di BTN Puskopad Kamkey, Abepura — kalimat sederhana yang menjadi cermin kerendahan hatinya.
Pulang ke tanah kelahiran, ia menyalakan pelita jurnalisme di Papua. Tahun 2002, bergabung dengan Tabloid Jubi di bawah pimpinan Muhammad Kholifan. Kemudian memimpin redaksi Suara Perempuan Papua selama hampir tiga tahun sejak 2004 — memberi ruang bagi suara-suara yang sering tak didengar. Antara Februari 2015 hingga Desember 2018, ia memimpin Majalah LANI. Sebagai salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Papua, ia turun meletakkan fondasi kebebasan pers di tanah ini.
Namun jejak terbesarnya terukir dalam catatan sejarah dan kemanusiaan. Ia menjadi penyunting buku Sekelumit Wajah Pers di Papua (2003), lalu terlibat sebagai peneliti utama dalam laporan ELSHAM Papua–ICTJ 2012 berjudul Masa Lalu yang Tak Berlalu: Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Tanah Papua Sebelum dan Sesudah Reformasi. Di sana, bersama para peneliti lain, ia menyusun kesaksian 108 korban yang mengungkap 749 peristiwa pelanggaran — dari masa sebelum Penentuan Pendapat Rakyat 1969, masa Orde Baru, hingga masa Reformasi. Ia menulis tentang sejarah Nieuw Guinea Raad, tentang pengibaran bendera Bintang Kejora, tentang peristiwa-peristiwa yang ingin dilupakan banyak pihak, namun justru wajib diingat.
Kritiknya tajam saat menyunting, namun tutur katanya lembut saat berbicara. Ia tidak mencari sorotan. Ia hanya ingin kebenaran dicatat, agar tidak tertimbun debu waktu.
Selama beberapa tahun terakhir, kesehatannya menurun. Ia dirawat di Jayapura, lalu dipulangkan ke Biak. Di rumahnya yang sederhana di Samofa, di meja makan yang biasa ia duduki, Tuhan memanggilnya pulang.
Kini, buku-bukunya tertata rapi, namun tak ada lagi tangan yang membalik halamannya. Komputernya menyala, namun tak ada lagi jari yang menari di atas tutsnya. Ia pergi, meninggalkan karya yang tak bisa dibakar atau dihapus — catatan sejarah, kebenaran, dan suara mereka yang tak sempat berbicara.
Joost Willem Mirino bukan sekadar jurnalis. Ia adalah penjaga ingatan. Dan ingatan yang dijaga dengan ketulusan tak akan pernah mati. Ia hidup di setiap halaman yang ia tulis, di setiap kebenaran yang ia sampaikan, di setiap napas perdamaian yang ia dambakan untuk tanahnya.
Banyak kisah telah kita lalui bersama, tapi kini kau telah tiada…
Selamat jalan, Om Joost. Pena telah kau letakkan, namun jejakmu tetap mengalir di nadi tanah ini. (ka)








