JAYAPURA (24/9/26), NGK – Di pagi berkabut tahun 2001, pesawat Trigana Air mendarat di Bandara Mulia, Puncak Jaya, pukul 08.10 Waktu Papua. Ketinggian kawasan ini berkisar antara 500 hingga 4.500 meter di atas permukaan laut, udaranya dingin menusuk. Namun di ruang tunggu, seorang lelaki muda sudah berdiri dengan senyum menyapa, melambaikan tangan.
“Kakak, selamat datang di Mulia,” ujarnya. Itulah Kornelis Raru — murah senyum, pekerja keras, yang menghadapi segala hal, ringan maupun berat, dengan keramahan yang tak luntur. “Kakak, kita ke rumah, kopi sudah siap,” ajaknya sambil mengendarai motor, membawaku mengenal sosok yang telah mengabdikan hidupnya bagi masyarakat Papua melalui pena dan pengabdian, selama lebih dari tiga puluh tahun.
Dari Bangku Sekolah Teknik Menuju Dunia Pena
Kornelis Raru lahir di Manokwari pada tahun 1970, anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ayahnya seorang guru yang pernah bertugas di Makimi, Nabire — lingkungan yang menanamkan nilai pendidikan dan pengabdian sejak dini. Pendidikannya ditempuh di Nabire: lulus SD Inpres Kalibobo tahun 1984, Sekolah Teknik Nabire tahun 1989, lalu menamatkan SMK Negeri Nabire tahun 1992.
Keterampilan pertukangan yang dipelajarinya bukan sekadar pelajaran sekolah; ia melekat hingga kini. Setiap sore, setelah tugas kantor selesai, tangannya kembali memegang pahat dan gergaji, menyelesaikan pesanan meja dan kursi tepat waktu dengan ketelitian tinggi.
Setelah lulus, ia merantau ke Jayapura dan bekerja di proyek pembangunan di Genyem. Belum terbayang menjadi wartawan saat itu — hingga sebuah pertemuan pada Januari 1993 mengubah arah hidupnya sepenuhnya. Ia bertemu Daniel Rahadet, yang saat itu menjabat kepala bagian sirkulasi Surat Kabar Minggu Tifa Irian. Kornelis pun masuk — bukan langsung menulis, melainkan melipat lembaran koran sebelum diedarkan. Selama delapan bulan, ia menyaksikan seluruh proses: berita dikumpulkan, disunting, disusun tata letaknya, dicetak, lalu dikirim ke tangan pembaca. Ia belajar dari dalam, dari akar dunia pers.
Ketekunannya menarik perhatian Pimpinan Redaksi Tifa Irian, Bill Rettob. Kornelis diberi bimbingan dan kepercayaan menjadi wartawan daerah — bertugas meliput Nabire dan wilayah sekitarnya, kawasan yang kini terbagi menjadi beberapa kabupaten. Ia adalah orang Mor dari Nabire, dan pemahamannya atas masyarakat menjadi modal berharga. Wilayah liputannya luas, medan sulit, transportasi terbatas, komunikasi belum lancar — namun ia menjalaninya. Setiap minggu, 800 eksemplar koran tiba lewat pesawat Merpati ke Nabire; ia memastikan semuanya tersebar ke pelanggan. Dengan uang sendiri, ia membeli tiga sepeda untuk dirinya dan rekan-rekan muda yang dibimbingnya, mengayuh demi berita dan pengantaran koran. “Beberapa anak yang dulu mengayuh sepeda bersama saya kini menjadi pejabat daerah,” ujarnya dengan bangga.
Mengirim berita bukanlah hal yang mudah. Tanpa ponsel pintar, tanpa pesan instan — ia pergi ke kantor Telkom Nabire untuk mengirim naskah lewat faksimile, atau menelepon redaksi dari warung telekomunikasi. Baru kemudian datang era email. Ia meliput perkembangan pemekaran daerah, situasi di kawasan pedalaman, hingga wilayah yang sedang berkonflik. Bagi masyarakat kala itu, koran adalah jendela informasi utama; penjualan meningkat saat isu konflik mencuat, dan ia hadir untuk menyampaikan fakta secara bertanggung jawab. Ia bahkan membantu penerbitan koran bertahan lewat pendapatan iklan — memahami bahwa media harus berdiri tegak bersama rakyatnya.
Pena Tetap Tertancap, Pengabdian Tetap Berlanjut
Sekitar tahun 2013, saat kondisi Tifa Irian mulai berubah dan terbitan tak lagi teratur, Kornelis bergabung dengan ANTARA. Pengalaman puluhan tahun menjadi bekal tak ternilai — ia memahami medan, masyarakat, dan cara memperoleh informasi di tempat yang sulit dijangkau. Dari liputan pemerintahan hingga daerah bergejolak, ia tetap di sana.
Kemudian datang tawaran menjadi Aparatur Sipil Negara. Ia diterima dan ditempatkan di Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya. Dunia jurnalistik tak ia tinggalkan: kegiatan pemerintahan tetap ia liput, foto dan video dikirim ke TVRI Papua. Keterampilan menulis dan merekam peristiwa yang diasah sejak 1993 terus ia pakai untuk mengabdi. Ketika Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2022 mengesahkan pembentukan Provinsi Papua Tengah, Kornelis termasuk ASN yang berpindah mengabdi ke daerah baru tersebut. Kini ia bertugas di Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Papua Tengah, bagian persandian negara, dan tinggal bersama istri serta empat anaknya — tiga perempuan dan satu laki-laki — di Kali Mangga, Nabire.
Sore itu, di halaman rumahnya, kami duduk mengelilingi meja bundar yang baru saja ia selesaikan. Ia mengeluarkan dokumen-dokumen lama — surat tugas dari Tifa Irian, berkas penugasan dari ANTARA — kertas-kertas yang mulai lusuh namun menyimpan jejak perjalanan puluhan tahun. Ia pernah melipat koran, mengayuh sepeda, menunggu pesawat, berdiri di tempat berbahaya, dan mengirim berita lewat faksimile. Kini, pagi hari ia menjalankan tugas negara; sore hari ia kembali memahat kayu.
Teknologi berubah, dunia beralih ke digital, namun semangatnya tak berubah. “Menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan — itu bagian dari perjalanan hidup,” ujarnya. Dari anak guru di Manokwari, lulusan sekolah teknik di Nabire, pekerja proyek di Genyem, pelipat koran, wartawan daerah, hingga ASN di Papua Tengah — Kornelis Raru tetap sama: lelaki yang murah senyum, menghadapi segala hal dengan keteguhan, dan menjaga cerita rakyat Papua agar tak hilang ditelan waktu.
Suatu hari nanti, lembaran-lembaran surat tugas itu mungkin akan menjadi sejarah. Namun kisahnya tetap hidup — bukti bahwa ada orang yang berjalan, mengayuh, menulis, dan setia menjaga suara dari tanah Papua. (krist)








