
TIMIKA, 27 April 2026 – Di sudut Jalan Satrio Sari No. 48, Kelurahan Karang Senang, SP 3, Distrik Kuala Kencana, ada sebuah tempat yang lebih dari sekadar bangunan sekolah. Di SD YPPK Santo Yohanes Pembaptis, atau yang lebih dikenal sebagai Persekolahan Salus Populi, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu dari buku ke otak. Di sini, hati dan jiwa juga dididik.
Tempat ini adalah ladang subur tempat karakter, iman, dan jati diri anak-anak Papua—khususnya dari suku Amungme dan Kamoro—dibentuk dengan penuh kasih sayang dan ketelatenan.
Sejak fajar menyingsing dan ayam berkokok, “kurikulum kehidupan” telah berjalan di asrama. Bagi lembaga di bawah naungan Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) ini, kepintaran akademik tanpa fondasi spiritualitas dan moral bagaikan tubuh tanpa nyawa—pincang dan tak seimbang. Visi inilah yang menjadi jangkar kuat bagi ratusan anak yang menimba ilmu di sana.
Formula 3S+1: Jantung Pendidikan
Rektor Persekolahan Salus Populi, Pastor Policarpus Gunawan Setyadi, SCJ, atau akrab disapa Romo Gun, menegaskan bahwa sekolah ini mengadopsi prinsip seminari yang dirangkum dalam formula 3S+1.
“Kurikulum seminari itu mempertimbangkan Sanctitas (pembentukan spiritualitas), Scientia (pendidikan intelektual), Sanitas (kesehatan fisik dan mental), ditambah satu unsur utama yakni pendalaman moral,” jelas Romo Gunawan.
Filosofi ini menjawab tantangan zaman. Di tengah derasnya arus modernisasi, anak-anak didik diajarkan untuk teguh pada nilai-nilai luhur, cerdas dalam berpikir, dan kuat dalam bertindak.
Berdiri kokoh sejak 7 Februari 2014, lembaga ini tumbuh berkat kemitraan erat dengan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), yang kini bertransformasi menjadi Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia.
Hingga kini, tercatat sekitar 300 siswa bersekolah di sini. Dinamikanya unik: sekitar 140 anak tinggal menetap di asrama, sementara 160 lainnya adalah siswa non-asrama yang berasal dari sekitar Karang Senang, Kuala Kencana, dan Timika.
Tantangan Rindu dan Kesadaran Orang Tua
Mengelola pendidikan berasrama di tanah Papua bukanlah perjalanan mulus tanpa onak dan duri. Kepala Sekolah, Suster Silvina, mengakui bahwa meski kurikulum mengikuti standar nasional, tantangan terbesar sering kali datang dari sisi sosial dan fasilitas. Usia bangunan yang kini menginjak 12 tahun mulai menuntut perhatian serius untuk perbaikan.
Namun, tantangan yang paling menyentuh hati justru datang dari ikatan emosional yang sangat kuat. Suster M. Bernarda, PRR, yang pernah memimpin sekolah ini, mengenang bagaimana mereka awalnya berkeliling merekrut anak-anak dari pelosok kampung seperti Ipaya, Miyoko, hingga wilayah terpencil Akimuga.

Namun, kasih sayang orang tua kadang menjadi batu sandungan bagi kelancaran pendidikan. “Dari sekitar 130 anak asrama, kadang ada 25 siswa yang datang dan pergi, mereka ‘kabur’ atau diambil orang tua karena rindu,” ungkap Romo Gunawan. Tak jarang orang tua datang mengambil anak di tengah jam belajar tanpa pemberitahuan, hanya karena tak kuat menahan rindu.
Mantan Rektor, Pastor Gabriel Tukan, SCJ, menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada orang tua. “Anak-anak sebenarnya mampu, tetapi sering kali orang tua ikut menghambat proses belajar mereka. Kesadaran bahwa pendidikan adalah kekayaan tertinggi harus terus ditanamkan,” pesannya.
Mengabdi Bukan Karena Uang, Tapi Karena Hati
Di balik misi mulia ini, tersimpan kisah ketabahan para pendidik yang luar biasa. Sebanyak 27 guru mendedikasikan hidupnya di sini, meski realitanya penghasilan yang diterima masih di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Belum lagi persoalan tunggakan uang sekolah yang bisa menumpuk bertahun-tahun karena keterbatasan ekonomi wali murid.
Namun, keluh kesah itu tak membuat semangat mereka redup sedikitpun. Bagi Romo Gunawan, yang sudah lama mengabdi di pesisir Mimika, bekerja di sini membutuhkan lebih dari sekadar materi.

“Situasi Papua macam ini, tidak butuh hanya dengan uang, tetapi lebih dari itu, butuh hati, butuh cinta. Ini membutuhkan keterlibatan setiap orang dengan jujur mau memberikan dirinya, mengabdi,” ujarnya dengan nada yang dalam dan tulus.
Rumah Kedua yang Menenun Masa Depan
Di tengah segala keterbatasan itu, kebahagiaan sederhana justru terpancar cerah dari wajah para siswa. Yulince Yolemal, siswa kelas 3B, mengaku sangat kerasan tinggal di asrama meski hanya bisa pulang ke kampung halaman saat libur panjang tiba.
Baginya, dan ratusan anak lainnya, Salus Populi bukan sekadar sekolah. Ini adalah rumah kedua. Tempat di mana doa, disiplin, dan ilmu pengetahuan dirajut menjadi satu, menjadi benih kuat yang kelak akan tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang berkarakter bagi tanah Papua tercinta. (yeri/ka)







