Beranda Pendidikan Tangis Haru di Ujung Enam Tahun Belajar di SD Negeri Kleblouw

Tangis Haru di Ujung Enam Tahun Belajar di SD Negeri Kleblouw

72
0
BERBAGI
Kepala Sekolah SD Negeri Inpres Kleblouw, Agnes Tukayo Ketika penyampaikan pesan kepada orangtua dan para anak didiknya. (Foto: Nesta)

JAYAPURA (10/6/26), NGK— Isak tangis memecah kehangatan pagi, Rabu (10/6/2026) di halaman SD Negeri Inpres Kleblouw, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura.

Tiga puluh siswa kelas VI, yang selama enam tahun lalu berlarian, tertawa, dan belajar di ruang-ruang kelas sederhana itu, kini berdiri berderet dengan mata berkaca-kaca. Hari ini adalah hari perpisahan. Hari di mana mereka resmi melepas seragam dasar dan bersiap melangkah ke jenjang baru.

Suasana haru itu makin terasa saat momen pembacaan hasil kelulusan tiba. Ada sedikit candaan dan kejutan dari para guru dan panitia yang sempat membuat jantung para siswa berdegup kencang, seolah menyuguhkan ketegangan yang tak terduga. Namun, ketegangan itu seketika berubah menjadi tangis bahagia dan sorak gembira saat Kepala Sekolah mengumumkan satu per satu nama, diakhiri pernyataan manis: seratus persen lulus.

Orangtua dan para peserta didik (Foto: Nesta)

Air mata yang semula tertahan kini jatuh bebas—campuran rasa lega, bangga, dan sedih karena harus berpisah dari tempat yang sudah menjadi rumah kedua.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura, Amelia Ondikeleuw, tampak tersentuh melihat kehangatan itu. Ia menatap wajah-wajah muda yang penuh harapan itu dan mengingatkan bahwa enam tahun bukanlah waktu yang singkat. Di sana, mereka menanam momen, menjalin persahabatan, dan menemukan ilmu pertama yang menjadi dasar hidup.

“Hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang meraih cita-cita,” ucapnya lembut namun tegas. Ia berpesan agar seluruh lulusan terus belajar, berkarakter, dan membanggakan keluarga serta daerah. Tak hanya itu, ia juga mengingatkan para orang tua untuk memilih sekolah lanjutan yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal, demi memudahkan akses dan menjaga kenyamanan anak.

Pesan penting lainnya disampaikan terkait masa depan mereka. Amelia menekankan pentingnya pengawasan orang tua saat anak melangkah ke jenjang SMP, lingkungan yang lebih luas dan beragam pergaulan. Ia mengingatkan agar anak-anak dijauhkan dari pengaruh buruk, narkoba, maupun minuman keras. “Kami sudah bekerja sama dengan BNN (Badan Narkotika Nasional), pengawasan di sekolah akan diperketat. Namun, peran orang tua di rumah adalah kunci utama,” tegasnya.

Anak-anak SD Negeri Inpres Kleblouw, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. melangkah meningkalkan sekolah yang pernah menjadi tempat belajar selama enam tahun. (Foto; Nesta)

Di sisi lain, Kepala Sekolah SD Negeri Inpres Kleblouw, Agnes Tukayo, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh orang tua yang telah mempercayakan putra-putrinya dididik di sekolah ini selama enam tahun. Tema pelepasan tahun ini—“Teruskan Perjuanganmu Menghadapi Dunia Nyata dengan diiringi Doa Orang Tua dan Guru”—menjadi pesan inti yang ia sampaikan, sebuah doa agar setiap langkah anak-anak ini selalu dibimbing dan dilindungi.

Momen paling menyentuh hati terjadi saat prosesi sungkeman dimulai. Satu per satu siswa berjalan mendekati guru-guru mereka, menundukkan kepala, memeluk erat, dan berbisik hal-hal sederhana namun penuh makna: “Terima kasih Bu Guru, terima kasih Pak Guru, maafkan kami jika ada salah.” Banyak guru yang ikut meneteskan air mata, merasakan kebahagiaan sekaligus kerinduan yang akan datang setelah hari ini.

Kepala Sekolah SD Negeri Inpres Kleblouw, Agnes Tukayo ketika menyerahkan tanda lulus para siswanya yang akan manjadi mantan siswa. (Foto: Nesta)

Mewakili orang tua murid, salah satu bapak yang hadir mengapresiasi dedikasi para tenaga pendidik. Ia berjanji akan menjaga hubungan baik antara keluarga dan sekolah, meski anak-anak mereka kini sudah bukan lagi murid di sini.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama. Di setiap bingkai foto, terlihat wajah-wajah yang tersenyum lebar meski mata masih merah bekas menangis. Di balik tangis perpisahan itu, tersimpan harapan besar: agar 30 lulusan ini tumbuh menjadi generasi emas Papua, yang mampu membangun masa depan, membawa nama baik almamater, dan tidak pernah melupakan jasa orang tua serta guru yang telah membimbing mereka dari awal.

Selamat jalan, anak-anak Inpres Kleblouw. Terbanglah setinggi langit, karena doa kami semua selalu menyertai langkahmu.(nesta/ka)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here