
KONI dan KORMI, bisa menyelenggarakan cabang olahraga tradisional yang melibatkan masyarakat seperti katapel dan lain-lain yang tidak menggunakan anggaran besar.
TIMIKA (10/6/26), NGK – Suasana Aula Kantor Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Mimika, Rabu (10/6/2026) dipenuhi puluhan pejabat, mulai dari pimpinan OPD, staf ahli, kepala distrik, hingga perwakilan TNI dan Polri. Mereka berkumpul dalam rapat persiapan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun 2026.
Dipimpin oleh Pj Sekretariat Daerah Kabupaten Mimika, Abraham Kateyau dan pertemuan ini tampak bukan sekadar seremonial biasa, melainkan langkah nyata untuk mengubah cara merayakan kemerdekaan agar lebih bermakna, merata, dan menyentuh hati seluruh masyarakat.

Dalam pembukaan rapat, Abraham Kateyau menjelaskan, persiapan harus dimulai jauh-jauh hari. “Bupati menginginkan agar jangan kita terburu-buru seperti tahun-tahun lalu yang sampai menimbulkan kesan ada utang-piutang karena persiapannya tidak matang,” ujar Pj Sekda itu.
Pesan ini menjadi benang merah yang mengarahkan seluruh pembahasan—bahwa kemerdekaan harus dirayakan dengan perencanaan matang, tertib, dan beban keuangan yang terukur.

Dalam rapat itu, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong secara tegas mengingatkan para kepala distrik agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu yang meninggalkan utang pasca-acara. “Para kepala distrik jangan hanya jadi kepala distrik 17-an. Setiap tgl 17 Agustus baru muncul di distrik. Setelah upacara menghilang lagi. Kemudian, jangan lagi ada keluhan ‘tidak ada anggaran’. 17 Agustus adalah agenda rutin, seharusnya sudah masuk dalam perencanaan dan anggaran sejak awal tahun. Kita harus belajar manajemen risiko, supaya kegiatan yang kita buat tidak menimbulkan masalah baru,” ujar Kemong
Emanuel Kemong juga mengingatkan agar simbol-simbol kenegaraan dijaga ketat, dan menghindari atribut yang tidak sesuai dalam setiap upacara di tingkat distrik.

Kepada para kepala distrik, Kemong juga berpesan agar melibatkan warga masyarakat dan para stakeholder pada tingkat distrik sebagai mitra dalam menyukseskan berbagai kegiatan. Masyarakat jangan hanya dijadikan penonton tapi libatkan, terutama para kepala kepala kampung. Sekadar merefleksi kembali masa masa lampau ketika memperingati perayaan HUT RI, Kemong berujar,”dulu sebelum perayaan 17 Agustus, masyarakat dari kampung kampung sudah berkumpul di ibu kota distrik untuk mengikuti berbagai lomba. Suasana seperti itu, sekarang tidak ada lagi. Kepala distrik perlu melakukan berbagai kegiatan untuk memeriahkan peringatan 17 Agustus di masing masing distrik”.
Sementara Bupati Mimika Johannes Rettob, dalam arahannya, mengingatkan kebiasaan buruk yang harus ditinggalkan. “Biasanya kita punya kebiasaan tiba-tiba baru bersiap saat waktu sudah dekat, sehingga segalanya menjadi kacau. Tahun ini, kita mulai bekerja dari sekarang.” Ia menyoroti bahwa selama ini, perayaan 17 Agustus sering kali hanya menjadi milik segelintir orang di pusat kota, sementara masyarakat di distrik, kampung, hingga tingkat RT hanya menjadi penonton.
“Masyarakat banyak menyampaikan bahwa 17 Agustus ini tidak pernah dirasakan meriah oleh semua orang. Coba kalian buat kegiatan yang bisa menumbuhkan rasa nasionalisme. Jangan sampai ada Kepala Distrik yang hanya datang saat hari H saja, lalu pulang begitu acara selesai. Kita harus libatkan seluruh warga, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan,” tegas Bupati Johanes Rettob.
Salah satu poin penting adalah kebebasan bagi setiap distrik dan kampung untuk mengatur acara sendiri, sesuai kondisi dan budaya setempat. “Boleh dilakukan di pusat distrik atau di kampung mana saja yang dianggap tepat. Yang penting, masyarakat terlibat aktif, bukan hanya diundang untuk menonton atau sekadar diberi makan lalu pulang,” tambahnya.

Rettob mencontohkan pengalaman tahun lalu, di mana lomba gerak jalan hanya diselenggarakan untuk ibu-ibu, sehingga memicu protes laki-laki dan masyarakat umum yang juga ingin berpartisipasi. Kesalahan itu terjadi semata karena kurangnya persiapan dan masukan dari warga.
Inovasi menjadi kunci lain yang ditekankan. Bupati mengusulkan gagasan besar: menggelar Mimika Fair, serupa konsep pameran daerah yang ada di Jakarta. Acara ini diharapkan menjadi wadah menampilkan semua pembangunan yang telah dilakukan pemerintah, baik di kota maupun di daerah pedalaman, agar masyarakat tahu apa yang telah dikerjakan. Selain itu, ruang harus dibuka lebar bagi UMKM, pengusaha lokal, dan kelompok seni untuk berkarya.
“Kita juga bisa buat lomba kebersihan, pameran hasil karya, atau pertunjukan seni—semua dengan biaya tidak harus besar, tapi dampaknya besar bagi rasa memiliki,” ujar Bupati Rettob.
Bupati juga meminta KONI dan KORMI, di HUT RI ini, agar bisa menyelenggarakan cabang olahraga tradisional yang melibatkan masyarakat seperti katapel dan lain-lain yang tidak menggunakan anggaran besar.
Sedangkan Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau mengingatkan bahwa dulu, meski anggaran terbatas, perayaan 17 Agustus terasa sangat meriah karena masyarakat datang berbondong-bondong dari jauh. Kini, meski dana lebih tersedia, rasa kebersamaan itu mulai memudar. “Lokasi acara yang semakin jauh dari akses masyarakat juga menjadi salah satu penyebab. Kita harus cari cara agar kemerdekaan kembali dekat dan terasa milik semua orang,” kata Primus Natikapereyau.
Perwakilan dari TNI dan Polri menyambut baik langkah awal ini dan menawarkan dukungan penuh. “Kami siap berkolaborasi, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Konsep festival budaya dan pameran daerah sangat bagus untuk menarik warga berbondong-bondong datang, sekaligus mempromosikan kekayaan Mimika ke luar daerah,” ujar Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Mimika (atau Lanal Timika) Letkol Laut (P) Bekti Sutiarso, S.H., M.Tr.Opsla.
Di akhir rapat, disepakati dua langkah lanjut, yaitu pembentukan panitia pelaksana dan penyusunan rincian kegiatan. Panitia nantinya tidak hanya bekerja sampai hari kemerdekaan, tetapi juga berlanjut hingga peringatan hari jadi Kabupaten Mimika.
Rapat ini menandai babak baru perayaan kemerdekaan di Mimika. Bukan lagi sekadar upacara bendera dan seremonial, melainkan momen kebersamaan, pembuktian kinerja, dan kebanggaan identitas daerah. Dengan persiapan dimulai sejak bulan Juni, harapan besar ditanamkan: HUT RI ke-81 tahun ini akan menjadi perayaan yang merata, bermakna, dan benar-benar milik seluruh warga Mimika—dari kota hingga ke pelosok kampung. (tob/ka)







