JAYAPURA (28/5/26), NGK – Di balik rimbunnya pepohonan yang menjulang di Cagar Alam Cycloop, Kabupaten Jayapura, tersimpan kisah perjuangan, keprihatinan, dan ancaman nyata yang kian mendekat.
Bagi masyarakat adat Sentani, gunung ini bukan sekadar hamparan tanah dan kayu. Cycloop adalah sumber kehidupan, paru-paru kota, dan penjaga keseimbangan alam yang telah memberi air, udara segar, dan perlindungan selama turun-temurun.
Namun hari ini, wajah Cycloop berubah. Luka-luka akibat ulah manusia kian melebar, mengancam segala sesuatu yang hidup di bawah kakinya.
Seluas 22.500 hektare kawasan cagar alam yang ditetapkan sejak tahun 1987 ini kini kehilangan sebagian besar hutan aslinya. Data terbaru menunjukkan betapa mengkhawatirkannya laju kerusakan: antara tahun 2001 hingga 2014, hutan hilang seluas 80,11 hektare.
Angka itu melonjak drastis menjadi 172,38 hektare pada kurun waktu 2014–2022. Secara total, lebih dari 352 hektare hutan berubah fungsi menjadi kebun, permukiman, dan lahan gundul. Dan hingga pertengahan tahun 2026 ini, kerusakan bertambah lagi lebih dari 50 hektare, merambah ke wilayah Sentani Barat, Waipro, Depapre, hingga sekitar Danau Sentani.
Perambahan terjadi di mana-mana. Di lereng bawah hingga tengah, mulai dari Kampung Harapan, Sereh, Waina, sampai Maribu, hutan ditebang untuk dijadikan ladang tanaman pangan.

Kawasan yang dulunya lebat kini berubah menjadi petak-petak kebun. Tak hanya itu, pemukiman liar pun meluas tajam — dari hanya 306 hektare pada tahun 1994, kini mencapai 1.563 hektare yang masuk ke zona penyangga.
Di sepanjang aliran air terjun dan pinggiran sungai, penebangan liar dan penggalian batu terus berlangsung, mengganggu sumber air bersih yang dialirkan ke warga. Di saat yang sama, masuknya pengunjung tanpa aturan meninggalkan tumpukan sampah yang makin menambah beban ekosistem yang sudah terluka.
Ironisnya, di tengah kerusakan yang nyata ini, masyarakat merasa seolah-olah pemerintah daerah menutup mata. Padahal, dampak dari kerusakan ini sudah terasa nyata dan mengancam nyawa. Fungsi utama gunung sebagai penampung dan pengatur aliran air semakin melemah. Ketika hutan hilang, tanah tak lagi mampu menahan air hujan. Akibatnya, banjir bandang dan luapan air Danau Sentani makin sering terjadi, seperti yang dialami warga pada tahun 2019, 2024, hingga awal 2026 lalu.
Di musim kemarau, mata air menyusut drastis, persediaan air bersih berkurang, dan kualitasnya pun menurun drastis. Habitat satwa khas Papua dan tanaman langka pun perlahan lenyap, membawa serta kekayaan alam yang tak tergantikan.
Sementara itu, data terkini yang dilaporkan Anggota Aliansi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara, Anagreth Rosalia Eluay melalui portal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada 28 Mei 2026, disebutkan bahwa Keprihatinan ini mendorong masyarakat adat untuk tidak tinggal diam. Pada Sabtu, 23 Mei 2026, sebanyak 26 orang warga adat dari Kampung Sereh — mulai dari pemuda hingga para ibu — mendaki gunung seharian penuh, menyusuri batas kawasan hingga ke jalur air terjun. Bagi Kepala Suku Sentani, George Ondi, langkah ini adalah bukti cinta mereka pada alam.
“Monitoring ini cara kita untuk tetap mencintai dan menjaga lingkungan demi generasi masa depan,” ujarnya di sela kegiatan. Ia menegaskan, Cycloop adalah nyawa bagi masyarakat di bawahnya, dan merusak gunung sama saja dengan mengancam keselamatan diri sendiri dan anak cucu nanti.
Hasil pemantauan itu mematahkan harapan bahwa kerusakan sudah terhenti. Jemmy Ondi, salah satu pemuda adat yang ikut turun langsung, menceritakan apa yang mereka temukan. Enam titik bukaan lahan baru terlihat jelas, tersebar berpindah-pindah. Yang paling mengkhawatirkan, ada ladang yang dibuka tepat di lokasi bekas longsor tahun 2019, di ketinggian 100 hingga 400 meter di atas permukaan laut, dengan kemiringan tanah mencapai 30–55 derajat — tempat yang sangat rawan longsor.
Tak jauh dari sana, di bagian hulu air terjun, tersembunyi kebun labu siam yang luas milik warga dari Kampung Sereh dan Hinekombe. Ditemukan pula sisa-sisa pondok yang pernah ditindak sebelumnya, kini terbengkalai namun menjadi tanda bahwa pembukaan lahan masih terus berulang.
“Temuan ini tidak boleh dibiarkan karena dapat mengancam keselamatan masyarakat adat yang tinggal di bawah kaki gunung Cycloop,” tegas Jemmy. Ia mengingatkan kembali pada peristiwa 2019 silam, saat longsor dan banjir bandang menerjang, membawa puing dan lumpur ke pemukiman. “Ini harus menjadi pelajaran. Kalau tidak dicegah dari sekarang, dampaknya akan kembali dirasakan warga Sentani. Cycloop harus dijaga bersama sebelum bencana itu datang lagi,” tambahnya penuh harap.
Suara kritis dan kepedulian itu akhirnya mulai didengar dan dibalas dengan langkah nyata. Sejak April 2026, pemerintah bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam, Polisi Hutan, tokoh adat, dan pemerintah kabupaten membentuk Satgas Khusus Pengamanan Cycloop. Larangan mutlak diberlakukan: tak boleh ada lagi aktivitas berkebun atau mendirikan bangunan di kawasan cagar alam. Warga yang terdampak diminta pindah ke lahan yang lebih aman di lereng bawah. Sebagai upaya pemulihan, sebanyak 66.666 bibit bambu dan pohon lokal ditanam sepanjang sekitar 78 kilometer batas kawasan, untuk menguatkan kembali tanah dan menahan air. Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2015 pun sedang direvisi, agar batas wilayah perlindungan makin tegas dan sanksi hukum bagi perusak lingkungan lebih kuat.
Pemulihan Cycloop bukanlah pekerjaan mudah atau sebentar. Kawasan seluas puluhan ribu hektare ini butuh waktu, biaya besar, dan yang paling utama: komitmen bersama. Bukan hanya tugas pemerintah atau aparat, tapi tanggung jawab setiap warga, masyarakat adat, dan siapa saja yang menginginkan Jayapura tetap aman, asri, dan memiliki masa depan.
Cycloop sedang berjuang bernapas di antara gundulnya hutan dan aktivitas manusia yang makin merapat. Apakah kita akan membiarkannya terus terluka hingga tak mampu lagi melindungi kita? Atau kita bergerak sekarang, menjaga dan memulihkannya, demi air yang jernih, tanah yang aman, dan warisan alam yang indah bagi anak cucu nanti. Jawabannya ada di tangan kita semua. (Krist A)








