Beranda MIMIKA Di Tanah Mimika, Pancasila Berdenyut Jadi Nadi Perdamaian Dunia

Di Tanah Mimika, Pancasila Berdenyut Jadi Nadi Perdamaian Dunia

63
0
BERBAGI
Bupati Mimika, Johanes Rettob dan Wakil Bupati, Emanuel Kemong menghadiri Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin, 1 Juni 2026 di Lapangan Upacara Pusat Kantor Pemerintahan Kabupaten Mimika, Jln Cenderawasig SP 3. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

TIMIKA (1/6/26), NGK – Di bawah langit cerah yang membentang luas di atas Lapangan Upacara Pusat Kantor Pemerintahan Kabupaten Mimika, Jln Cenderawasig SP 3, perwakilan dari masing masing satuan institusi keamanan dan perwakilan ASN warga dari Pemda Mimika berdiri bersatu. Mereka berpadu serasi dengan seragam dinas dan pakaian harian, menciptakan mozaik keberagaman yang hidup.

Bupati Mimika, Johanes Rettob saat membacakan teks Pancasila. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Hari itu, 1 Juni 2026, Masyarakat dan pemerintah Kabupaten Mimika memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Saat itu, Ketua DPRK, Primus Natikapereyau tampil memukau membacakan UUD 1945.

Ketua DPRK, Primus Natikapereyau membacakan Teks UUD 1945. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Selang beberapa menit, Bupati Mimika, Johannes Retob, berdiri tegak, suaranya bergema kuat membawa pesan yang tak hanya menggema di Bumi Mimika, namun menjulang tinggi membawa nama Indonesia ke panggung dunia.

Hari ini bukan sekadar penanda tanggal di kalender. Bagi Mimika, bagi seluruh anak bangsa yang berkumpul di sini, 1 Juni 2026 adalah hari di mana api semangat para pendiri bangsa kembali dinyalakan. Dalam pidato peringatan Hari Lahir Pancasila yang penuh kehangatan dan keyakinan itu, Johannes Retob mengingatkan semua hadirin: kita berkumpul di tanah pusaka ini bukan hanya untuk seremoni, melainkan untuk memastikan bahwa nilai luhur bangsa tetap menyala terang di setiap jiwa.

Penyerahan bendera merah putih kepada petugas. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Tema yang diusung tahun ini — “Pondasi Persatuan Bangsa, Pondasi Perdamaian Dunia” — menjadi poros utama gagasan yang disampaikan Bupati. Sebuah pernyataan berani dan tegas: Pancasila bukan sekadar milik orang Indonesia untuk menyatukan nusantara dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Lebih dari itu, Pancasila hadir sebagai jawaban atas kerinduan dunia akan kedamaian yang abadi, jawaban atas kegelisahan zaman yang penuh ketidakpastian.

Pasukan pengibar bendera merah putih. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

“Pancasila adalah bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya,” ujar Johannes, matanya menatap lurus ke hadapan seolah melihat jejak panjang perjalanan bangsa ini. Di tengah dunia yang terancam perpecahan dan jurang perbedaan, Indonesia berdiri kokoh. Sebuah negara yang terdiri dari lebih 17.000 pulau dan ratusan suku bangsa, namun mampu merajut keberagaman itu menjadi kekuatan besar. Di Mimika sendiri, realitas itu hidup nyata: orang-orang dari berbagai penjuru Indonesia hidup berdampingan, bekerja sama, dan tumbuh bersama di bawah naungan satu negara dan satu ideologi.

Persiapan pengibaran bendera merah putih. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Nilai-nilai yang tertanam dalam sila-sila Pancasila, kata Johannes, menjadi jangkar moral yang menahan bangsa ini agar tidak terhanyut dalam arus deras perubahan zaman — mulai dari ledakan teknologi yang mengubah cara hidup, hingga persaingan kekuatan besar yang mengubah peta geopolitik dunia. Di saat banyak bangsa lain goyah, Indonesia tetap berjalan tenang dan pasti, berpegang teguh pada prinsip yang telah diletakkan para pendahulu.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong bersama Ketua DPRK, Primus Natikapereyau. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Lebih jauh lagi, Bupati Mimika menegaskan  Indonesia bukan sekadar penonton di panggung internasional. Amanat Pembukaan UUD 1945 menjadi kompas: bangsa ini memiliki tanggung jawab konstitusional untuk mewujudkan ketertiban dunia yang dilandasi kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Kebijakan luar negeri bebas-aktif kita, jelasnya, adalah perwujudan nyata dari jiwa Pancasila.

 

Peserta upacara. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Nilai musyawarah dan mufakat yang menjadi darah daging bangsa Indonesia kini justru menjadi kebutuhan mendesak dunia. Di tengah konflik yang meletus di banyak tempat, cara Indonesia menjembatani perbedaan dan menyelesaikan sengketa lewat dialog menjadi teladan. Hal itu terlihat jelas dari peran pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera PBB, peran aktif dalam memediasi konflik kawasan, hingga suara lantang Indonesia yang selalu berpihak pada keadilan bagi bangsa-bangsa lain. Semua itu adalah wujud nyata pengamalan sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

 

Peserta upacara. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

“Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar tidak ada perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,” tegas Johannes, kalimat yang menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya.

Bupati Mimika, Johanes Rettob dan Wakil Bupati, Emanuel Kemong. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Namun, di tengah kemajuan yang terus diraih, Bupati Rettob mengingatkan akan bahaya besar: kemajuan ekonomi dan teknologi yang pesat tanpa dituntun oleh arah moral bisa menyesatkan dan menjauhkan kita dari jati diri bangsa. Di sinilah peran generasi muda Mimika dan seluruh Indonesia menjadi sangat krusial. Johannes mengajak anak-anak muda, sebagai penjaga masa depan, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup, bernapas, dan bergerak.

Foto bersama Paskibra dengan Bupati dan Wakil Bupati Mimika. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

“Jangan biarkan nilai-nilai luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding kantor, melainkan harus kita implementasikan dan hayati bersama dalam tindakan nyata sehari-hari,” pesannya, seraya mengajak semua elemen masyarakat bersatu menjaga warisan luhur ini.

Di akhir amanah yang sarat makna itu, Johannes menyampaikan satu hal istimewa yang membuat momen tahun ini berbeda dan bersejarah. Pengibaran bendera Merah Putih pagi ini dilakukan oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibra) yang sama dengan yang bertugas pada 17 Agustus 2025 lalu. Keputusan ini berlaku serentak di seluruh Indonesia, dari kabupaten dan kota hingga tingkat pusat, sebuah instruksi khusus yang menjadikan peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 memiliki nilai emosional yang mendalam.

Kepada para anggota Paskibra yang telah berdiri gagah menjalankan tugas, Bupati menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. “Walaupun sudah hampir satu tahun tidak berlatih kembali, syukurlah kalian telah melaksanakan tugas ini dengan sangat baik,” ucapnya dengan nada bangga.

Barisan Paskibra pada upacara peringatan hari lahir Pancasila. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Upacara di Lapangan SP 3 itu pun berakhir dengan hati yang penuh keyakinan. Di Mimika, tanah yang kaya budaya dan sumber daya alam ini, Pancasila kembali ditegaskan bukan sekadar sebagai dasar negara, melainkan sebagai nafas kehidupan. Sebagai pondasi yang menjaga persatuan kita, sekaligus cahaya yang kita hadirkan bagi perdamaian dunia. Di sini, di tanah pusaka ini, kita sadar sepenuhnya: menjadi Indonesia berarti menjadi bagian dari solusi kedamaian dunia.

Dan pada 1 Juni 2026 ini, Mimika bersuara lantang: Pancasila hidup, bersatu kita teguh, dan perdamaian adalah misi abadi kita. (tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here