Beranda Hukum PGI Serukan: Hentikan Kekerasan, Jaga Martabat Manusia di Papua

PGI Serukan: Hentikan Kekerasan, Jaga Martabat Manusia di Papua

28
0
BERBAGI
Gemini_Infografis

JAKARTA (4/7/26), NGK – Di tengah hamparan tanah yang kaya akan keindahan alam dan kearifan budaya, suara tangis kini menggema lebih keras daripada kicau burung dan aliran sungai. Tanah Papua kembali berlumuran darah.

Dalam hitungan hari, eskalasi konflik bersenjata yang meledak di Kabupaten Intan Jaya dan Yahukimo telah merenggut nyawa tanpa pandang bulu—menyisakan duka yang mendalam dan luka yang sulit sembuh.

Yang menjadi korban bukan hanya angka statistik, melainkan nyawa-nyawa berharga yang memiliki harapan dan masa depan. Ada Pendeta Elianus Agimbau, pelayan iman yang mengabdikan hidupnya melayani jemaat; Melkiana Duwitau, seorang ibu yang mengandung buah hati yang belum sempat melihat dunia, beserta janinnya yang ikut gugur; Okto Tigau, warga sipil yang ditemukan meninggal dengan luka tembak dan tanda-tanda penyiksaan yang kejam; serta Nicholas F. Goselin, pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat yang tewas saat pesawat yang dikemudikannya diserang dan dibakar.

Tak kalah menyedihkan, gugur pula Praka Bayu Oktara, seorang anggota TNI yang bertugas menjaga keamanan, sementara ribuan warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka demi menyelamatkan diri.

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) melalui Kepala Biro Papua, Pdt. Ronald Rischard Tapilatu, menyuarakan keprihatinan sekaligus tegasan tegas: setiap nyawa yang hilang adalah tragedi kemanusiaan yang tidak tergantikan. Apapun alasan yang dijadikan dalih, baik politik maupun keamanan, sama-sama telah menghilangkan nyawa orang tak bersalah tidak dapat dibenarkan dengan cara apa pun.

Manusia diciptakan menurut gambar Sang Pencipta, sehingga martabat dan kesucian hidupnya wajib dijunjung tinggi oleh siapa saja.

PGI pun melontarkan tujuh sikap tegas sebagai panggilan nurani bersama: mengecam keras segala bentuk kekerasan, pembunuhan, dan penyiksaan. Menyayangkan memudarnya penghormatan terhadap hak asasi manusia, mendesak semua pihak menghentikan tembak-menembak dan menjadikan keselamatan warga sipil sebagai prioritas utama; menilai pendekatan militeristik selama ini justru melahirkan penderitaan berulang tanpa solusi nyata; mendesak agar dialog damai segera dilaksanakan secara jujur dan bermartabat; meminta pemerintah mengusut tuntas setiap kejadian secara independen; serta meminta aparat penegak hukum bertindak profesional dan adil.

Di tengah duka yang melanda, PGI mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan. Seruan doa pun dipanjatkan agar Sang Raja Damai memberikan kekuatan bagi mereka yang berduka, serta menghadirkan kedamaian sejati bagi seluruh Tanah Papua.

Sebagaimana tertulis dalam Matius 5:9: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

Sudah saatnya suara damai lebih keras terdengar daripada dentuman senjata. Sudah saatnya hidup manusia dihargai lebih tinggi daripada kepentingan sempit kelompok. Tanah Papua layak mendapatkan kedamaian, dan setiap warganya berhak hidup dalam keamanan dan martabat. (Krist A)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here