Beranda Nusantara Tiga Ton Beras, Pelipur Lara di Antara Sisa Konflik di Papua Pegunungan

Tiga Ton Beras, Pelipur Lara di Antara Sisa Konflik di Papua Pegunungan

14
0
BERBAGI
Tiga ton beras bantuan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (Foto: YKKM)

WAMENA (16/7/26), NGK – Di tengah kabut yang masih menyelimuti lembah pegunungan tinggi, aroma beras hangat kini menyapa rumah-rumah yang dulu pernah bergemuruh suara pertikaian.

Hari Rabu, 15 Juli 2026, menjadi hari yang tak terlupakan bagi ribuan jiwa yang masih menanggung duka di wilayah perbatasan Lanny Jaya dan Kurima–Wouma. tiga ton beras bantuan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia akhirnya sampai di tangan mereka, disalurkan berkat sinergi kokoh antara Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP), Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, serta Perum Bulog Cabang Wamena.

Perjalanan bantuan ini bukanlah hal yang mudah. Sejak awal Juli, tim telah menempuh jalan berliku, menyelesaikan beragam administrasi, serta menyusuri setiap sudut wilayah untuk memastikan bantuan jatuh tepat ke tangan yang membutuhkan. Hasilnya, bekal kehidupan itu dibagi rata: 1,5 ton untuk saudara kita di Tugure Lanny Jaya, dan 1,5 ton lainnya untuk masyarakat Tugure Kurima–Wouma – tidak sebutir pun berkurang, utuh dan transparan sebagai bukti kepedulian yang tulus.

Momen penyerahan simbolis di halaman Kantor YKKMP menjadi tanda awal kebaikan yang bergerak maju. Perum Bulog menyerahkan bantuan kepada Direktur Eksekutif YKKMP, Theo Hesegem, sebelum kemudian dibawa langsung ke dua titik sasaran: Kampung Gunambur (Sinakma) bagi kelompok Lanny Jaya, dan Kampung Wakuno di Distrik Wouma bagi saudara kita di Kurima–Wouma. Langkah ini didampingi erat oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua Pegunungan Yenius Telenggen, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jayawijaya Simon Kalolik, serta perwakilan Bulog dan aparat keamanan – satu barisan yang bertekad membawa kesejahteraan ke tanah yang pernah terluka.

“Bantuan ini bukan sekadar beras untuk mengenyangkan perut. Ini adalah pesan bahwa kita tidak dilupakan, bahwa pemerintah hadir untuk menopang langkah kita menuju pemulihan,” ujar Theo Hesegem dengan suara penuh haru. Ia pun menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang bergotong royong: mulai dari Kementerian Pertanian yang merespons cepat, pemerintah daerah yang berkoordinasi rapi, hingga warga yang saling menjaga proses penyaluran berjalan aman dan tertib.

Bantuan Beras (Foto: YKKM)

Di antara senyum yang masih tersisa jejak kesedihan, masyarakat penerima tak kuasa menahan rasa syukur. “Terima kasih karena masih memikirkan kami,” ucap salah satu tokoh warga dengan mata berkaca-kaca. Namun di balik rasa terima kasih itu, tersimpan harapan yang lebih besar: agar aliran kebaikan ini tak berhenti di sini. Mereka memohon dukungan lanjutan – mulai dari bantuan pangan berkelanjutan, pembangunan kembali rumah yang hancur, pemulihan mata pencaharian, hingga layanan kesehatan dan pendidikan yang memadai. Semua itu adalah pondasi bagi mereka untuk benar-benar pulih, melupakan pertikaian, dan membangun masa depan bersama.

Bagi YKKMP, keberhasilan hari ini adalah bukti nyata: ketika pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan rakyat berjalan beriringan, tak ada tantangan yang tak terlewati. Ke depan, sinergi ini akan terus diperkuat – bukan hanya untuk mendatangkan bantuan materi, tetapi juga untuk merajut kembali tali persaudaraan yang sempat terurai, menanam benih perdamaian yang kuat di tanah Papua yang kaya akan harapan.

Di lembah pegunungan ini, tiga ton beras telah berubah menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia menjadi cahaya kecil yang menuntun jalan menuju hari esok yang lebih damai, sejahtera, dan penuh kasih sayang. (ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here