Beranda PAPUA TENGAH Sekolah Tanpa Tarif, Guru Dihargai, Ilmu Diteruskan

Sekolah Tanpa Tarif, Guru Dihargai, Ilmu Diteruskan

84
0
BERBAGI
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa memberikan laptop kepada siswa. Inilah salah satu cara Nawipa membangun SDM. (Foto: Pemda Prov Papua Tengah)

BAGIAN KETIGA :

“Apakah Tahun ini Saya Masih Bisa Sekolah?”

Jelang hari Jadi Provinsi Papua Tengah yang diperingati setiap tanggal 25 Juli dan tahun 2026 diperingatinya pada  22 Juli. Untuk itu,  https://www.newguineakurir.com/ (NGK) akan menurunkan bebarapa tulisan yang menggambarkan kondisi Papua Tengah selama empat tahun – 2022 – 2026.

STEVEN, katakana saja nama anak itu. Steven bersama puluhan anak duduk rapi sambil memegang buku tulis . Di sebuah ruang kelas sederhana di SMA di Jl. Christina Martha Tiahahu, Kalibobo, Nabire itu, tampak wajah mereka dihiasi kecemasan: “Apakah tahun ini saya masih bisa sekolah?”

Pertanyaan Steven itu anak-anak itu terjawab ketika Gubernur Meki Fritz Nawipa dan wakilnya, Deinas Geley memimpin Provinsi Papua Tengah sejak 20 Februari 2025.

Pendidikan diletakkan sebagai fondasi utama pembangunan manusia di provinsi yang baru berusia empat tahun ini. Bagi Nawipa Wakilnya, Deinas Geley, tak ada kemajuan yang berarti jika generasi muda Papua Tengah tertinggal karena alasan biaya, akses, atau kualitas pengajaran.

Sekolah Tanpa Tarif, Peluang Tanpa Batas

Langkah paling bersejarah dimulai tahun 2025. Pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB resmi digratiskan bagi seluruh siswa. Hingga tahun 2026, kebijakan ini telah menyasar hampir 59 ribu siswa dengan alokasi anggaran lebih dari Rp77 miliar. Tak berhenti di situ, pada 2027 kebebasan biaya ini akan meluas merata—dari PAUD hingga tamat sekolah menengah atas.

Bantuan itu bukan sekadar menghapus uang SPP. Termasuk di dalamnya biaya operasional sekolah, asrama bagi siswa yang rumahnya jauh, hingga perlengkapan belajar. “Kami ingin setiap anak, dari lembah pegunungan hingga pesisir pantai, punya hak yang sama untuk belajar tanpa membebani orang tua,” ujar Nawipa.

Guru Dihargai, Ilmu Diteruskan

Pendidikan yang baik tak lepas dari guru yang berdedikasi. Pemerintah provinsi kini memprioritaskan sertifikasi dan Pendidikan Profesi Guru. Pada 2025 saja sudah dibantu lebih dari 800 tenaga pendidik, dengan target seribu orang setiap tahun hingga 2027.

Bagi mereka yang memilih mengabdi di daerah terjauh, diberikan tunjangan khusus, insentif tambahan, serta subsidi tiket pesawat agar bisa pulang bertemu keluarga. “Kami tidak boleh membiarkan guru hebat pergi hanya karena beban hidup yang berat,” tegas Gubernur Nawipa.

Dinding kelas kini mulai dihiasi papan pintar layar sentuh. Ratusan sekolah di tujuh kabupaten mulai dilengkapi alat belajar berbasis teknologi. Program Sekolah Sepanjang Hari juga berjalan: siswa mendapat bimbingan tambahan, makan bergizi gratis, dan waktu belajar yang lebih mendalam.

Bagi anak dari wilayah paling terpencil, kini mulai dibangun asrama pendidikan unggulan seperti Meepago Boarding School dan pusat pelatihan di Mepamor Expo. Sementara bagi yang melanjutkan ke perguruan tinggi, disiapkan beasiswa dan bantuan biaya kuliah—baik di dalam maupun luar provinsi.

Semua langkah ini diarahkan untuk satu tujuan: mengangkat derajat manusia Papua Tengah, terutama Orang Asli Papua yang selama ini paling sulit dijangkau. Lewat sistem data terpadu, bantuan dipastikan sampai ke tangan yang tepat.

“Pembangunan jalan dan jembatan penting, tapi membangun pikiran dan hati anak-anak kita adalah investasi paling berharga untuk masa depan,” tutup Nawipa.

Di ruang kelas itu, Steven dan temannya kini menatap papan tulis dengan senyum lebih lebar. Mereka tahu: pintu menuju masa depan sudah terbuka lebar. (Krist)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here