Beranda Hukum Usai Telan Korban, Dapur MBG Depapre Resmi Ditutup

Usai Telan Korban, Dapur MBG Depapre Resmi Ditutup

80
0
BERBAGI
Bupati Jayapura, Yunus Wonda ketika diwawancarai para jurnalis pada Kamis, 6 Agustus 2026. (Foto: Humas Kabupaten Jayapura)

JAYAPURA (6/8/26), NGK – Janji manis program Makan Bergizi Gratis yang digadang-gadang sebagai solusi gizi masyarakat, berubah menjadi air mata di Distrik Depapre. Ratusan anak dan orang dewasa yang sempat menyantap hidangan dari dapur setempat, kini harus berbaring di tempat perawatan usai mengalami gejala keracunan. Di tengah keprihatinan itu, baru langkah penegasan diambil: Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau dapur MBG di lokasi itu resmi dihentikan sementara.

Penanganan korban MBG

Kejadian ini memicu kunjungan langsung Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Mayjen TNI Trenggono, S.I.P., M.A.P., ke lokasi kejadian. Usai menjenguk para korban yang berjatuhan, ia menegaskan bahwa penghentian operasional dapur bukan langkah sembarangan, melainkan bagian dari prosedur baku yang tak boleh dilanggar.

“Setiap ada dugaan keracunan, sesuai SOP dapur langsung kami hentikan sementara. Jika hasil evaluasi membuktikan dapur tidak memenuhi standar—seperti tidak higienis, sanitasi buruk, hingga sistem pengolahan limbah tidak memadai—maka operasionalnya bisa ditutup permanen,” tegasnya.

Infografis NGK/AW

Dalam peninjauan tersebut, Mayjen Trenggono menyampaikan apresiasi atas gerak cepat Pemerintah Kabupaten Jayapura, jajaran TNI, Polri, tenaga kesehatan, dan seluruh elemen masyarakat yang bahu-membahu menangani pasien. Saat rombongan tiba di lokasi, penanganan medis sudah berjalan teratur dan terkendali.

Program Makan Bergizi Gratis, ujarnya, adalah prioritas Presiden yang harus dijaga bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, bukan justru membawa petaka. Karena itu, ia mengajak semua pihak—mulai pemerintah daerah, anggota dewan, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga tokoh adat—untuk turut menjadi mata dan telinga dalam pengawasan pelaksanaannya.

“Kami sejak awal meminta daerah terlibat aktif memantau dan mengevaluasi. Jika ada yang tidak sesuai aturan, segera sampaikan agar kami perbaiki. Kalau ada kekurangan, kita perbaiki bersama. Kalau melanggar aturan, kita tegakkan aturan bersama. Program ini harus kita kawal agar kejadian menyedihkan seperti ini tidak terulang di tempat lain,” tegasnya.

Badan Gizi Nasional bersama kepolisian kini tengah membuka penyelidikan mendalam untuk menelusuri akar penyebab keracunan. Hasil pemeriksaan awal telah mencatat sejumlah kelalaian serius di dapur penyedia layanan, mulai dari kebersihan yang tidak terjaga, sanitasi yang buruk, hingga sistem pembuangan limbah yang tidak memenuhi syarat. Pengelola dapur dan pihak yang bertanggung jawab telah menerima teguran tegas dari pihak pusat.

Sementara itu, kondisi para korban dilaporkan terus menunjukkan perbaikan. Sebagian besar pasien telah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing, dan tidak ada pasien yang berada dalam kondisi kritis. Data jumlah pasti warga yang terdampak masih dalam proses verifikasi resmi Pemerintah Kabupaten Jayapura.

Mayjen Trenggono mengingatkan kembali bahwa MBG bukan sekadar soal piring berisi makanan bergizi. Program ini juga memiliki misi lebih luas: menggerakkan roda ekonomi rakyat melalui penyerapan tenaga kerja lokal, memberdayakan pelaku usaha mikro kecil dan menengah, serta menguatkan rantai pasok hasil bumi warga sekitar.

“Jangan lihat program ini hanya dari satu sisi saja. Makanan yang tersaji di piring itu juga membawa kesejahteraan bagi mereka yang bekerja di sana dan para petani yang memasok kebutuhan dapur. Karena bernilai besar itulah, mutu dan keamanannya harus dijaga setinggi-tingginya,” pungkasnya.

Kini, dapur yang sempat menjadi harapan itu senyap. Di balik penutupan itu tersimpan pesan penting: program sebaik apapun tak akan berguna jika pengelolaannya tak berpegang teguh pada standar keselamatan dan tanggung jawab.

Sekilas Mengenal Dapur MBG Depapre

  • Nama Resmi: Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jayapura Depapre Waiya
  • Lokasi: Jalan Waiya, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua
  • Pengelola: Yayasan Kasih Iman Samuel Papua, disingkat KISP
  • Pimpinan Yayasan: Edison Awoitauw
  • Kuasa Hukum: Yansen Marudut
  • Mitra Resmi: Badan Gizi Nasional (BGN) Republik Indonesia

Gambaran Umum Operasional

SPPG Depapre Waiya adalah salah satu unit pelayanan penyedia makanan bergizi dalam program Makan Bergizi Gratis yang beroperasi di wilayah Kabupaten Jayapura. Dapur ini dibangun dan dikelola secara mandiri oleh KISP sebagai mitra terpilih BGN, dengan tugas utama menyiapkan, mengolah, dan menyalurkan makanan sesuai standar gizi nasional bagi kelompok sasaran: siswa PAUD, SD, SMP, SMK, serta balita dan ibu hamil di posyandu.

Jangkauan pelayanan meliputi sejumlah satuan pendidikan dan layanan kesehatan di Distrik Depapre, antara lain: SD YPK Tablanusu, SD Inpres Depapre, SMP Negeri 1 Depapre, SMK Negeri 3 Kemaritiman Depapre, Posyandu Bandeng, PAUD Bandeng, serta titik layanan lain di sekitarnya.

Komposisi Tim dan Standar Kerja

Dalam menjalankan operasional, dapur ini didukung tenaga kerja lokal yang mencakup kepala dapur, ahli gizi, petugas masak, pengelola logistik, staf administrasi, dan petugas distribusi. Seluruh penyajian menu disusun mengikuti pedoman gizi BGN, dengan variasi porsi dan jenis hidangan yang disesuaikan kelompok usia penerima manfaat.

Menu yang disajikan pada hari terjadinya insiden keracunan (4 Agustus 2026) meliputi nasi, telur, tempe, sayur jagung dan pakcoy, serta buah semangka—yang dinyatakan telah disusun sesuai standar gizi yang ditetapkan.

Peristiwa Terkini dan Status Operasional

Menyusul insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan warga dan siswa usai menyantap hidangan dari dapur ini pada Selasa, 4 Agustus 2026, operasional SPPG Depapre Waiya secara resmi dihentikan sementara (disuspend) sesuai prosedur tetap BGN. (Krist)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here