Beranda Kabar dari Kampung (KDK) Berburu Emas di Belantara Korowai

Berburu Emas di Belantara Korowai

197
0
BERBAGI

Emas yang tersimpan di belantara suku Korowai, dikeruk para pendulang. Sementara penduduk suku Korowai, hanya menontom hartanya dikuras. Pemerintah belum berpihak.

Foto : Istimewa

DI MANA ada gula, di situ ada semut. Ungkapan ini cocok buat para pendulang emas yang melakukan penambangan emas secara liar di tengah hutan, di kawasan Suku Korowai yang berada di perbatasan Kabupaten Yahukimo, Asmat, Boven Digoel, dan Pegunungan Bintang.

Mereka berbondong-bondong berburu emas di hutan suku Korowai. Ratusan orang silih berganti mendulang emas tanpa izin sejak 2017 di sepanjang Sungai Deiram Hitam, kawasan hutan di bagian Selatan Papua.

Ratusan juta rupiah pun telah diangkut keluar dari pedalaman Papua itu. Sementara suku Korowai tetap hidup apa adanya.

Sementara itu, para pendulang terus beraksi menggunakan air raksa beracun atau merkuri untuk membersihkan emas. Akibatnya, air Sungai Deiram yang dulu bening kini berubah kecoklatan.

Penduduk yang menggunakan air sungai sebagai sumber utama air minum, kini harus “menelan pil pahit” karena air sungai yang dulunya bersih kini sudah coklat. Akibatnya, muncul berbagai macam penyakit.

Sementara kekayaannya dibawa kabur keluar. Persoalan ini membuat Trevor Johnson, pendeta asal Amerika Serikat yang belasan tahun bekerja sosial di Korowai, menulis surat terbuka soal dampak penambangan emas tak berizin tersebut bagi warga lokal.

Begitu surat terbukan beredar di berbagai media, barulah semua pihak kanget, kalau ada terjadi pembantaian di areal penambangan emas itu.

Untuk sampai ke lokasi penambangan itu, hanya bisa ditempuh dengan helikopter atau berjalan kaki selama satu hari dari Kampung Danowage, di Distrik Yaniruma.

Informasi tentang penambangan liar ini sudah sampai ke Pemerintah Provinsi Papua. Tapi pemerintah Provinsi belum punya kemauan untuk menertibkan penambangan emas ilegal itu.

Di lokasi penambangan liar ini, segera transaksi terjadi di sini. Baik itu transaksi jual beli tempat mendulang hingga transaksi seks.  Semua kegiatan itu terjadi di mata penduduk suku Korowai atau juga suku-suku lain yang mendiami hutan yang menjadi areal penambangan emas itu.

Akibatnya, muncul kecemburuan, sehingga pada awal 22 Desember 2018, masyarakat di Yahukimo melakukan demo dan meminta pemerintah untuk melarang kegiatan dulang itu.

Rasa cemburu dan dendam dari penduduk Korowai dan suku-suku lain ketika melihat para pendulang membawa emas dan ratusan juga rupiah keluar dari wilayahnya. Cemburu dan dendam ini disalurkan melalui aksi pembataian terhadap pendulang non Papua yang terjadi pada 1 September 2019.

Aksi penyerangan ini membuat para pandulang “kabur” meninggalkan lokasi dulang dan sebagian dari para pendulang itu, masuk ke daerah Kabupaten Boeven Digoel, dan mereka meminta perlindungan di kabupaten ini.

Pendulang emas di pedalaman Kabupaten Yahukimo, Papua dikabarkan telah dibantai sekelompok orang beberapa waktu lalu. Polisi menyebut setidaknya ada lima jasad diduga pendulang ditemukan mengenaskan.

Pasca serangan tersebut, seribuan lebih pendulang emas menyelamatkan diri. Mereka tersebar dari Korowai, wilayah terasing Papua yang berada di antara lima kabupaten: Boven Digoel, Asmat, Mappi, Yahukimo, dan Pegunungan Bintang.

Foto : Istimewa

Peristiwa ini tentu saja telah menguak keberadaan ribuan penambang ilegal yang bersembunyi di hutan belantara Papua.

Lokasi tambang  Korowai terletak di antara lima kabupaten: Boven Digoel, Asmat, Mappi, Yahukimo, dan Pegunungan Bintang.

Ones, penginjil yang atas pertimbangan keamanan meminta nama aslinya disembunyikan, adalah satu dari sedikit saksi mata yang berhasil mencapai lokasi tambang ilegal itu.

Tak seperti pendulang yang menyewa helikopter untuk sampai ke penambangan, pertengahan Juli lalu Ones berjalan kaki selama satu hari dari Danowage, menembus hutan hujan tropis Papua.

“Saya jalan satu hari penuh, tidur di jalan, lalu lanjut jalan kaki empat jam sebelum sampai lokasi,” tuturnya.

Perjalanan yang ditempuh Ones menggambarkan kesukaran akses menuju tambang ilegal itu, sekaligus keterasingan Suku Korowai. Tidak ada jalur bagi kendaraan darat menuju wilayah tersebut.

Aplikasi Google Map yang berbasis sistem pemosisi global (GPS) misalnya, tidak mampu mengukur jarak Yaniruma dari kota terbesar di Papua, Jayapura.

Akses udara ke lokasi tambang yang tak terdaftar di Dinas Pertambangan Papua itu berawal dari Bandara Oksibil di Pegunungan Bintang, Bandara Nop Goliat di Yahukimo, dan Bandara Tanah Merah di Boven Digoel.

Dari sana, perjalanan udara ditempuh dengan helikopter berharga sewa minimal belasan juta rupiah, lalu turun ke landasan yang dibangun penambang ilegal.

Pesawat perintis yang terbang dari sejumlah bandara besar di Papua juga bisa mendarat di landasan Kampung Danowage yang dibangun Ones, Trevor Johnson, dan sejumlah misionaris lainnya. Namun para pendulang tak menggunakan akses ini.

Dari Danowage, selain jalan kaki, akses menuju lokasi tambang dapat ditempuh dengan ketingting alias perahu kayu bermesin, selama delapan jam. Setelah menyusuri Sungai Deiram, perjalanan kembali dilanjutkan dengan berjalan kaki.

“Di lokasi saya melihat pendulang memiliki alkon. Saya melihat banyak emas,” kata Ones. (Krist Ansaka/Warta HAM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here