
Gorontalo bukan hanya menjadi tuan rumah, tapi saksi sejarah kebersamaan bangsa — di mana potensi besar dari Mimika, Papua Tengah, bertemu dengan gagasan dan kerja sama nasional, merawat sumber daya alam, dan memastikan ketersediaan pangan yang adil bagi generasi mendatang.
GORONTALO (19/6/26), NGK – Kehadiran 143 orang orang dari Kabupaten Mimika dalam Pekan Nasional Petani Nelayan (PENAS) XVII di Gelanggang Olah Raga David Tony di Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo menjadi sorotan istimewa yang membawa warna dan harapan baru dari Tanah Papua dan juga wilayah Timur Indonesia. Dan direncanakan, Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka akan membuka PENAS, Sabtu (20/6/2026) jam 10.00 WITA

Utusan sebanyak 143 orang dari Mimika ini terdiri 66 pendamping, 73 peserta, dan 4 peninjau. Dari jumlah itu, hadir juga Ketua Dekranasda Kabupaten Mimika, Ny Susi Rettob dan Wakil Ketua, Ny Periana Kemong hadir juga pada kegiatan PENAS. Jumlah ini menunjukkan keseriusan dan komitmen tinggi daerah ini untuk ambil bagian dalam pembangunan nasional.
Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong yang hadir pada kegiatan ini sekaligus memberikan motivasi kepada peserta PENAS dari Kabupaten Mimika.
Kehadiran mereka bukan sekadar keikutsertaan, melainkan membawa misi besar, yaitu memperkenalkan kekayaan alam yang melimpah dan potensi luar biasa yang dimiliki tanah Papua, serta membuka peluang agar sumber daya tersebut dapat dikembangkan, dikelola, dan dimanfaatkan secara bersama-sama di tingkat nasional demi kesejahteraan masyarakat Mimika dan dapat memperkuat kemajuan pangan Indonesia.

Kehadiran rombongan Mimika Di bawah langit Gorontalo yang cerah, di Gelanggang Olah Raga David Tony di Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, bertransformasi menjadi panggung besar pertemuan para penggerak ketahanan pangan Indonesia. Mulai 20 hingga 25 Juni 2026, Pekan Nasional Petani Nelayan (PENAS) XVII resmi digelar, menghimpun sekitar 20.000 peserta dari Sabang sampai Merauke, bersatu dalam satu tekad kuat: mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan dan menyejahterakan rakyat.
Diselenggarakan setiap empat tahun sekali, PENAS bukan sekadar agenda rutin, melainkan wadah strategis di mana petani, nelayan, dan pelaku kehutanan memamerkan teknologi unggulan, saling bertukar pengalaman, serta menjalin kemitraan dengan peneliti, penyuluh, pelaku usaha, dan pemerintah. Di sinilah semangat kemandirian dan tanggung jawab para pelaku utama pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan dipupuk dan dikuatkan demi kemajuan bangsa.
Dari 515 kepala daerah dari seluruh penjuru tanah air yang hadir, menjadi bukti nyata betapa vitalnya sektor ini bagi masa depan Indonesia. Keberagaman peserta yang hadir menjadi cerminan bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab seluruh elemen bangsa, tanpa terkecuali dari wilayah paling timur sekalipun.

Momen ini menjadi penanda penting bahwa negara senantiasa menaruh harapan besar pada tangan-tangan terampil para petani dan nelayan, termasuk mereka yang datang dari tanah Papua, sebagai tulang punggung ketahanan pangan bangsa.
Ketua Umum Panitia Penyelenggara PENAS XVII, Ir. H. M. Yadi Sofyan Noor, S.H., dalam surat undangannya tertanggal 12 Juni 2026, menegaskan bahwa acara ini adalah jembatan persatuan. Dari ujung barat Aceh hingga ujung timur Papua, dari pulau kecil hingga daratan luas, semua berkumpul di Gorontalo. Di sini, perbedaan wilayah dan budaya melebur menjadi satu tekad: memajukan sektor pangan Indonesia agar semakin kuat, mandiri, dan berkelanjutan.
Gorontalo kini bukan hanya menjadi tuan rumah, melainkan saksi sejarah kebersamaan bangsa — di mana potensi besar dari Mimika, Papua Tengah, bertemu dengan gagasan dan kerja sama nasional, merawat sumber daya alam, dan memastikan ketersediaan pangan yang adil bagi generasi mendatang. (tob/ka)







