
Keberagaman suku, bahasa, dan keyakinan bukanlah sekat, tapi kekuatan terbesar yang menjaga Papua Tengah tetap tegak berdiri.
NABIRE (2/8/26), NGK – Di bawah hamparan langit Nabire yang merestui doa-doa yang dikomandangkan menjadi satu nadi yang menghidupkan semangat persaudaraan. Ratusan ulama, tokoh agama, masyarakat, dan pemuda berkumpul dalam kekhusyukan peringatan setengah abad lebih pengabdian Majelis Ulama Indonesia, pada Minggu, 2 Agsutus 2026.
Di momen ini, pesan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa hadir mengingatkan, bahwa di tanah yang kaya akan keberagaman ini, ikatan kasih sayang adalah jembatan abadi yang menjaga kedamaian. Keberagaman suku, bahasa, dan keyakinan bukanlah sekat, melainkan kekuatan terbesar yang menjaga Papua Tengah tetap tegak berdiri.
Sambutan Gubernur Papua Tengah ini disampaikan Staf Ahli II Bidang Kemasyarakatan, SDM, dan Pengembangan Otonomi Khusus, Ukkas, di hadapan jajaran pimpinan MUI serta seluruh tamu undangan yang berbahagia, .

Tema tersebut dinilai sangat relevan bagi Papua Tengah yang menjadi rumah bersama bagi beragam suku, agama, bahasa, dan budaya.

Persatuan umat disebut sebagai kekuatan moral untuk merawat kebinekaan, menjaga persaudaraan, serta memperkuat ketahanan menghadapi tantangan sosial. Di sini, ukhuwah Islamiyah tidak berjalan sendiri, melainkan seiring dengan ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah: persaudaraan sesama Muslim, sebangsa, dan sesama manusia.
MUI memegang peran strategis dalam menghadirkan bimbingan keagamaan yang menyejukkan, menjauhkan umat dari paham kekerasan dan informasi menyesatkan, serta memperkuat moderasi beragama tanpa mengurangi keteguhan menjalankan ajaran agama.
Pemerintah pun mengharapkan dukungan para ulama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkokoh tatanan keluarga, mencegah penyalahgunaan narkoba dan minuman keras, melindungi generasi muda, serta menumbuhkan kepedulian terhadap masyarakat miskin dan kelompok rentan.
Selain aspek sosial-keagamaan, kemitraan juga diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi umat. Melalui pengembangan UMKM, produk halal, kewirausahaan pemuda, dan pengelolaan potensi lokal secara produktif, kemandirian ekonomi akan terwujud sekaligus mengangkat martabat umat dan daya tahan keluarga.
Gubernur juga berpesan agar perbedaan pandangan tidak memutus ikatan persaudaraan. Musyawarah, tabayun, dan keteladanan harus menjadi jalan utama. Ruang digital pun dimanfaatkan untuk menyebarkan ilmu, kedamaian, dan harapan, bukan kebencian atau perpecahan.
Momentum Milad ini hendaknya menjadi ruang muhasabah untuk memperbarui niat pengabdian, menjadikan agama sebagai sumber kasih sayang, kejujuran, disiplin, dan semangat melayani sesama.
“Pemerintah Provinsi Papua Tengah berkomitmen membangun kemitraan yang baik dengan MUI dan seluruh lembaga keagamaan demi terwujudnya Papua Tengah yang maju, sejahtera, berkeadilan, damai, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Rangkaian istighotsah, tasyakuran, dan doa bersama ini diharapkan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Papua Tengah, sekaligus memperkokoh persatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (krist)







