
JAYAPURA (22/6/26), NGK– Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Jayapura bersama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita memperkuat tata kelola tujuh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di wilayah Papua Pegunungan melalui kegiatan pendampingan dan penguatan kapasitas rumah sakit yang dibuka secara resmi, Senin (21/9/2026).
Kegiatan berlangsung selama empat hari di RSUP Jayapura, dihadiri peserta dari RSUD Dekai, RSUD Elvrida Sara, RSUD Er Dabi, RSUD Karubaga, RSUD Lukas Enembe, RSUD Oksibil, dan RSUD Tiom, serta melibatkan unsur Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri. Acara dibuka oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Dr. Ribka Haluk, S.Sos., M.M., dan Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan dr. Ockti Palupi Rahayuningtyas, MPH, MH.Kes.
Direktur Utama RSUP Jayapura, Dr. dr. Petronella Marcia Risamasu, M.Ked.Trop., menyampaikan peningkatan kapasitas rumah sakit dilakukan melalui kolaborasi dan pertukaran pengalaman antarinstansi.
“Kepada siapapun yang memiliki kemampuan lebih, memiliki pengalaman lebih, itu kita harus belajar. Dan saat ini kakak kami dari Rumah Sakit Umum milik Kementerian, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, hadir memberikan materi untuk penguatan tata kelola rumah sakit,” ujarnya saat membuka Workshop Pendampingan Tata Kelola RSUD Papua Pegunungan.
Ia menegaskan kolaborasi diharapkan memperkuat sistem rujukan dan meningkatkan kesinambungan pelayanan bagi masyarakat.
“Rujukannya ngalir dengan benar. Karena kalau hanya ingin merujuk saja banyak. Pasien juga kadang ingin dirujuk. Tapi merujuknya dengan benar, itu yang ingin kami harapkan salah satu output dari hasil ini,” jelasnya.
- Petronella berharap kegiatan ini bukan sekadar forum pembelajaran, melainkan awal kerja sama yang lebih harmonis guna menangani tata kelola rumah sakit di Papua secara bersama-sama dan tepat guna.
Sementara itu, Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, Dr. dr. Iwan Dakota, Sp.JP(K), MARS., menyatakan pengembangan rumah sakit daerah memerlukan kerja sama lintas kementerian dan pemerintah daerah.
“Jadi untuk empowering atau pengembangan rumah sakit ini tidak ada kata lain kecuali harus ada kerja sama dari tiga kementerian,” katanya, merujuk pada Kementerian Kesehatan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Dalam Negeri.
Ia menjelaskan program pengampuan tidak hanya mencakup kemampuan teknis medis, melainkan juga administrasi, keuangan, manajemen peralatan, hingga pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. RSJPD Harapan Kita akan menyusun peta jalan pengembangan sesuai kebutuhan masing-masing rumah sakit.
- Iwan menekankan pemerataan akses layanan sebagai tujuan utama—setiap warga berhak mendapat pelayanan yang setara, tanpa terhalang jarak.
“Seorang yang kena serangan jantung di, katakanlah, di Wamena, itu sama haknya dengan orang yang masuk ke rumah sakit Harapan Kita,” ucapnya.
Khusus untuk Papua Pegunungan, kajian geospasial akan dijadikan pertimbangan menyusun jejaring pelayanan yang sesuai kondisi geografis wilayah tersebut. Program ini juga diarahkan mendorong kemandirian RSUD agar mampu mengelola kapasitas dan tata kelolanya sendiri secara berkelanjutan.
“Karena ke depan benar-benar tidak bisa rumah sakit ini hanya disuapi. Harus mandiri,” tegas dr. Iwan.
Melalui kegiatan ini, RSUP Jayapura dan RSJPD Harapan Kita berkomitmen memperkuat kapasitas tujuh RSUD di Papua Pegunungan sebagai bagian dari pengembangan jejaring rumah sakit, peningkatan tata kelola, dan sistem rujukan yang andal demi pelayanan kesehatan yang merata bagi seluruh masyarakat wilayah. (Humas RSUP Jayapura / Narda Margaretha Sinambela)







