
TABALONG (16/5/26), NGK — Di sisa debu dan puing yang masih terasa hangat, terselip secercah harapan yang datang dari tangan-tangan saudara sebangsa dan setanah air.
Kabar duka datang lebih dari dua minggu silam, tepatnya pada 27 April 2026, pukul 02.30 dini hari. Saat sebagian besar warga Komunitas Balai Pangelak, Kabupaten Tabalong masih lelap dalam tidur, api dengan ganas melahap rumah milik Bapak Nono Riadi. Dalam sekejap, tempat berteduh, barang-barang kebutuhan, dan kenangan hidup yang dibangun bertahun-tahun lenyap menjadi abu. Keluarga ini harus menelan pahit kehilangan dan menghadapi hari-hari sulit tanpa tempat berlindung.
Namun, di tengah kepedihan itu, persaudaraan masyarakat adat membuktikan bahwa jarak dan waktu takkan pernah memutuskan ikatan batin. Hari ini, tanah yang hangat kembali terasa di hati keluarga Nono. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Daerah Tabalong bergerak cepat, mempersatukan kekuatan Perempuan AMAN Lowu Sasameh dan Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Tabalong, untuk menyalurkan aksi solidaritas yang tulus. Beras, sembako, telur, serta berbagai kebutuhan pokok harian diangkut dan diserahkan langsung ke tangan keluarga korban, sebagai wujud nyata bahwa mereka tidak sedang berduka sendirian.
Rikit, Ketua PD AMAN Tabalong, yang turun langsung ke lokasi didampingi para pengurus dan anggota, menatap sisa bangunan yang hangus dengan rasa prihatin mendalam. Baginya, kehadiran mereka hari ini adalah bukti nyata dari jiwa besar organisasi yang dibangun.
“Kami hadir bukan hanya untuk berjuang memperjuangkan hak-hak adat dan wilayah kami. AMAN hadir lebih dari itu: ada dalam suka, ada pula dalam duka. Musibah yang menimpa Bapak Nono Riadi dan keluarga adalah duka kita semua. Kehadiran kami ini adalah wujud kepedulian dan persaudaraan. Semoga apa yang kami bawa ini bisa sedikit meringankan beban, menjadi penguat semangat, dan penghibur hati di tengah situasi berat yang sedang dihadapi,” ujar Rikit dengan nada lembut namun tegas, seolah menepuk bahu saudaranya yang sedang jatuh bangkit kembali.
Aksi ini bukan sekadar penyerahan bantuan materi. Di balik karung beras dan bingkisan kebutuhan itu, mengalir nilai luhur yang telah diwariskan nenek moyang sejak zaman dahulu: gotong royong dan kebersamaan. Nilai inilah yang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat adat, yang membuat komunitas tetap kokoh berdiri meski diterpa badai musibah. Ketika satu anggota jatuh, yang lain segera mengulurkan tangan untuk menopang.
Semangat itu terlihat jelas dari peran aktif para pemuda adat dari BPAN Tabalong. Mereka datang dengan semangat muda dan energi, memastikan bantuan sampai dengan baik dan keluarga korban merasa diperhatikan. Keterlibatan pemuda ini bukan hanya sekadar membantu, melainkan menunjukkan bahwa benih kepedulian sosial terus tumbuh subur di generasi penerus. Bagi pemuda adat, menjaga komunitas dan membantu sesama adalah tanggung jawab moral dan bukti cinta pada lingkungan tempat mereka tumbuh.
Bagi Perempuan AMAN Lowu Sasameh, kehadiran ini memiliki makna yang lebih dalam lagi. Sebagai penyangga kehidupan keluarga, mereka paham betul bagaimana beratnya kehilangan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bertahan hidup sehari-hari. Bantuan yang disiapkan pun dipilih dengan cermat, menyentuh kebutuhan dasar rumah tangga, seolah berkata: “Kami mengerti apa yang hilang, dan kami datang untuk mengisi kekosongan itu sekuat tenaga kami.”
Di sudut halaman yang kini tampak kosong dan sepi, Nono Riadi menerima uluran tangan ini dengan mata yang berkaca-kaca. Di tengah rasa sedih yang belum sepenuhnya hilang, ada rasa haru yang menggetarkan dadanya. Ia menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga besar AMAN Kalimantan Selatan, PD AMAN Tabalong, BPAN, Perempuan AMAN, dan seluruh pihak yang meluangkan waktu dan tenaga untuk mengingat nasib keluarganya.
“Terima kasih… hanya itu kata yang bisa saya ucapkan. Di saat kami merasa hancur dan bingung harus berbuat apa, kehadiran kalian memberi kami kekuatan baru. Terima kasih karena tidak membiarkan kami berjalan sendiri dalam kesusahan ini,” ucapnya lirih namun penuh makna.
Melalui langkah kaki yang menyusuri tanah Balai Pangelak hari ini, masyarakat adat kembali menegaskan identitas jati dirinya kepada dunia: bahwa nilai kemanusiaan dan persaudaraan bukan sekadar kata-kata indah di atas kertas atau slogan di atas spanduk. Nilai itu hidup, bergerak, dan diwujudkan dalam tindakan nyata saat saudara sedang membutuhkan.
Kebersamaan yang terjalin hari ini menjadi bukti kuat bahwa di tengah beragam tantangan, masyarakat adat memiliki modal sosial yang luar biasa besar. Solidaritas menjadi tembok pelindung, dan rasa kekeluargaan menjadi atap yang meneduhkan, memastikan bahwa tak ada satu pun anggota komunitas yang akan dibiarkan jatuh sendirian menghadapi kerasnya kehidupan. Musibah kebakaran mungkin telah merenggut rumah, namun tidak mampu merenggut rasa persaudaraan yang erat di antara mereka. (Rima- Jurnalis Masyarakat Adat Kalimantan Selatan)







