
“Pohon kelor butuh perhatian. Rawatlah, jaga, dan manfaatkanlah dengan baik. Apa yang kita berikan pada alam, alam akan berikan kembali pada kita.”
TIMIKA (5/6/26), NGK – Di bawah teriknya sinar matahari yang menyinari hamparan tanah Kampung Nawaripi, Distrik Wania, Kabupaten Mimika, ratusan tangan bergerak serentak menancapkan bibit pohon kelor ke dalam tanah.

Hari itu, Jumat (5/6/2026) bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Mimika menanam 400 pohon kelor, bukan sekadar kegiatan penghijauan, melainkan langkah nyata menyatukan penyelamatan lingkungan, ketahanan pangan, dan pencegahan stunting.

Dipimpin langsung Ketua TP-PKK Kabupaten Mimika, Suzy Herawati Rettob didampingi Wakil Ketua, Periana Kemong, kegiatan ini menjadi bukti nyata penerapan program prioritas TP-PKK Provinsi Papua Tengah hingga ke tingkat kampung. Hadir dalam momen bersejarah ini Bupati Mimika Johannes Rettob, Wakil Bupati Emanuel Kemong, Pj Sekretaris Daerah, Abraham Kateyauw, Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah, manajemen PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma, tokoh agama, serta masyarakat setempat yang antusias menyambut gerakan ini.
Dalam sambutannya, Suzy Herawati Rettob menegaskan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan tema nasional ‘Saatnya Bekerja untuk Iklim’ tidak hanya menjadi seremonial semata. “Kami memilih melakukan hal nyata untuk menyelamatkan lingkungan. Lingkungan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sistem penopang kehidupan yang menyediakan udara bersih, air, dan sumber daya alam bagi kita semua,” ujarnya di hadapan warga.

Pemilihan kelor sebagai tanaman utama bukan tanpa alasan. Dikenal sebagai moringa oleifera atau dijuluki ‘Pohon Keajaiban’, tanaman ini memiliki keunggulan luar biasa yaitu mudah tumbuh, tahan panas ekstrem, berumur panjang, dan bisa dipanen sepanjang tahun. “Tanah di Mimika sangat subur, bahkan di distrik yang pernah dilanda banjir pun kelor tetap bisa hidup dan bertahan,” jelas Suzy.
Lebih dari sekadar penghijauan, kelor adalah solusi cerdas bagi kesehatan dan ketahanan pangan keluarga. Daunnya kaya akan vitamin A, C, zat besi dan protein, menjadikannya senjata ampuh dalam program percepatan penurunan stunting. Tak hanya itu, daun kelor bisa diolah menjadi beragam makanan—mulai dari kue, puding, hingga roti—dan bahkan dimanfaatkan sebagai bahan alami perawatan kulit. “Ibu-ibu yang ingin awet muda, daun kelor bisa dijadikan masker. Nanti saya ajarkan caranya,” canda Suzy yang disambut tawa warga.

Kampung Nawaripi ditetapkan sebagai kampung percontohan. Di sini, masyarakat, khususnya warga asli Kamoro, diajak belajar menanam, merawat, dan memanfaatkan kelor secara maksimal. Sebelumnya, gerakan serupa telah dilaksanakan di lima distrik pesisir pantai dan Nawaripi menjadi titik perluasan sekaligus titik tolak gerakan menanam kelor ke seluruh distrik dan kampung di Mimika.
Bupati Mimika, Johannes Rettob, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif TP-PKK. Ia menilai kegiatan ini menyentuh dua aspek krusial sekaligus yaitu kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. “Ini luar biasa. Penanaman 400 pohon kelor di sini akan menghijaukan lingkungan, menjaga kualitas tanah, sekaligus menjadi sumber gizi yang murah dan mudah didapat untuk keluarga,” ujar Bupati Rettob yang juga mengaku baru saja mencicipi puding kelor buatan ibu-ibu PKK dan mengakui rasanya enak.

Bupati juga menyoroti potensi ekonomi dari kelor. Bersama PT Freeport Indonesia, pemerintah daerah berencana mengembangkan pengolahan kelor dalam skala besar hingga membangun pabrik pengolahan. “Kelor bisa menjadi uang. Tanam, panen, tumbuh lagi, panen lagi. Ini peluang ekonomi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong menyampaikan rasa haru melihat dedikasi tim PKK yang berani menembus berbagai tantangan medan untuk menjangkau kampung-kampung terpencil.
“Masyarakat bilang, ‘Kami ternyata tidak dilupakan, kami dihargai’. Kalimat itu sangat berharga. Kehadiran PKK membawa harapan dan perhatian yang nyata,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan bahwa menanam adalah langkah awal, namun merawat adalah tantangan utama. “Pohon kelor butuh perhatian. Rawatlah, jaga, dan manfaatkanlah dengan baik. Apa yang kita berikan pada alam, alam akan berikan kembali pada kita.”

Selain menanam pohon, kegiatan ini juga menjadi momen edukasi pengelolaan sampah. Suzy menyayangkan masih banyaknya sampah plastik yang berserakan, padahal sehari sebelumnya tim PKK bersama anggota BASARNAS dan anak-anak setempat sudah membersihkan lingkungan. “Anak-anak lebih sadar untuk membersihkan lingkungan, sementara orang tua hanya menonton. Mari beri contoh baik. Sampah plastik itu bernilai, bisa dikumpulkan dan disetor ke bank sampah. Jadikan sampah menjadi berkah,” pesannya.
Di penghujung kegiatan, 400 pohon kelor telah tertanam kokoh di tanah Nawaripi. Bagi warga setempat, bibit itu bukan sekadar tanaman, melainkan janji masa depan yaitu lingkungan yang lebih hijau, keluarga yang lebih sehat, dan ketahanan pangan yang terjamin. Seperti pesan yang disampaikan, langkah kecil menanam kelor hari ini, akan tumbuh menjadi manfaat besar bagi Mimika di masa depan (tob/ka)







