Beranda MIMIKA Gelora Hijau di Mimika: Langkah Nyata Menyelamatkan Bumi

Gelora Hijau di Mimika: Langkah Nyata Menyelamatkan Bumi

56
0
BERBAGI
Bupati Mimika, Johanes Rettob dan Wakil Bupati, Emanuel Kemong serta Executive Vice President Sustainable Development PTFI, Claus Wamafma. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

TIMIKA (6/5/26), NGK – Di halaman luas Gedung Eme Neme Yauware, suasana penuh warna dan semangat menyelimuti peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini.

Executive Vice President Sustainable Development, Claus Wamafma menyampaikan pesan dan komitmen perusahaan tentang kebersihan lingkungan.(Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Momen ini menjadi bukti nyata kolaborasi kuat antara Pemerintah Kabupaten Mimika, PT Freeport Indonesia (PTFI), dan ribuan warga yang bergerak serentak demi satu tujuan yaitu menjaga dan merawat bumi di tanah yang mereka cintai. Di balik panggung dan pameran yang meriah, tersimpan jejak panjang aksi nyata yang telah berlangsung berbulan-bulan lamanya.

Sejak awal Mei 2026, gerakan peduli lingkungan telah bergulir di berbagai penjuru wilayah. Pada 8 Mei, sebanyak 224 orang bahu-membahu membersihkan lingkungan dan berhasil mengumpulkan 250 kilogram sampah.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong dan Executive Vice President Sustainable Development PTFI, Claus Wamafma melakukan penekanan tombol sirene sebagai tanda pembukaan kegiatan pada puncak hari lingkungan hidup sedunia. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

Seminggu kemudian, tepatnya 16 Mei, aksi serupa di kawasan Tembagapura melibatkan 300 peserta dengan hasil pengumpulan sampah mencapai 340 kilogram. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa kesadaran mulai tumbuh di hati masyarakat. Tak hanya bersih-bersih, edukasi pun digencarkan ke sekolah-sekolah di kawasan YPJ Tembagapura dan Kuala Kencana, menanamkan pemahaman kepada generasi muda bahwa menjaga alam dan hemat energi adalah kewajiban bersama.

Upaya menjaga keseimbangan ekosistem juga dilakukan secara serius. Ribuan benih ikan baramundi dan induk kepiting bakau dilepasliarkan di Muara Sungai Tipuka, sementara ratusan bibit pohon ditanam di tempat ibadah, sekolah, dan ruang publik.

Mengunjungi stand pameran Dekranasda Kabupaten Mimika.(Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

Di kawasan Smelter dan sekitarnya, semangat yang sama terlihat melalui lomba pemilahan sampah, seminar lingkungan, hingga kegiatan donor darah yang memadukan kepedulian pada alam dan sesama. Semua kegiatan ini berjalan selaras dengan tema global Aksi Iklim, tema nasional Bekerja untuk Iklim, dan semangat perusahaan Recycle and Conserve.

“Kami ingin peringatan ini bukan hanya mengundang orang datang, tapi mengajak mereka berubah perilaku dan bekerja sama,” ungkap Ketua Panitia, Renalda Levina Upuya dalam laporannya. Ia menegaskan, keberhasilan sejauh ini tak lepas dari dukungan pemerintah, PTFI, tokoh adat, agama, hingga komunitas yang turut berperan aktif menjaga lingkungan Mimika.

Bupati Mimika, Johanes Rettob dan Wakil Bupati, Emanuel Kemong mendengarkan penjelasan dari stand guide. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

Puncak peringatan pada Jumat 5 Juni 2026 menjadi momen penting peluncuran empat program strategis besar yaitu Mimika Bersih, Mimika Indah, Mimika Bebas Plastik, serta penguatan sistem bank sampah di seluruh distrik. Hadir dalam kegiatan ini Bupati Mimika Johannes Rettob, Wakil Bupati Emanuel Kemong, jajaran Forkopimda, manajemen PTFI yang diwakili Direktur PTFI, Claus Wamafma, serta ratusan warga dan pelajar yang memadati lokasi.

Dalam sambutannya, Bupati Johannes Rettob mengapresiasi kolaborasi yang terjalin baik, namun juga mengajak semua pihak untuk tidak berhenti pada seremonial saja.

“Jangan kita hanya lakukan saat ada acara besar, lalu lupa setelahnya. Ini harus menjadi kebiasaan, menjadi gaya hidup kita sehari-hari,” tegas Bupati Johannes di hadapan hadirin.

Bupati menyoroti meski aturan dan imbauan sudah disampaikan, masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan dan menggunakan plastik sekali pakai berlebihan. Ia bahkan menyampaikan rasa prihatinnya saat melihat jalanan yang sudah dibersihkan pagi hari, kembali tertutup sampah hanya beberapa jam kemudian.

Namun, di tengah tantangan itu, ada secercah harapan yang membuatnya bangga. Ia mencontohkan keberhasilan bank sampah yang dikelola kelompok masyarakat, rumah ibadah, hingga sekolah.

Ada masjid yang mengumpulkan sampah dari jamaah, lalu hasil penjualannya digunakan untuk biaya pembangunan dan kegiatan sosial. Ada pula kelompok warga yang menjadikan sampah sebagai sumber dana operasi kegiatan warga.

Pentas tari dengan menggunakan busana berbahan daur ulang. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

“Kelompok masyarakat tertentu bahkan memiliki saldo besar dari hasil pengelolaan sampah. Ini luar biasa dan patut ditiru semua elemen masyarakat,” tambahnya.

Claus Wamafma selaku perwakilan PTFI menegaskan komitmen perusahaannya untuk terus mendukung upaya pelestarian alam. Melalui program Zero Waste dan inisiatif penukaran sampah dengan hadiah, PTFI ingin memastikan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) benar-benar diterapkan.

“Setiap orang bisa menjadi solusi, bukan sumber pencemaran. Mulai dari langkah kecil, kurangi sampah, pilah dengan benar, dan gunakan kembali apa yang bisa dipakai,” ujarnya.

Salah satu momen yang paling menyita perhatian adalah penampilan drum band dari pelajar-pelajar sekolah dasar dan menengah.

Uniknya, seluruh alat musik yang mereka gunakan terbuat dari barang bekas dan limbah daur ulang. Irama yang dimainkan bukan hanya merdu didengar, tapi juga menyampaikan pesan kuat: sampah pun bisa bernilai jika dikelola dengan kreatif dan bijak.

Bupati Johannes langsung memberi apresiasi tinggi dan berharap kegiatan serupa bisa dijadikan lomba rutin agar semangat kreativitas dan kepedulian lingkungan makin tumbuh.

Selain rangkaian sambutan dan penampilan, pameran lingkungan yang dibuka selama dua hari menjadi pusat edukasi. Berbagai stand menampilkan inovasi pengolahan sampah, teknologi ramah lingkungan, hingga hasil karya masyarakat yang mengubah limbah menjadi barang berguna. Warga berdatangan, bertanya, dan berdiskusi, menunjukkan bahwa rasa ingin tahu dan kepedulian makin menguat.

Foto bersama. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

Di akhir acara, Bupati Johannes Rettob secara resmi membuka seluruh rangkaian kegiatan dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergandengan tangan.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Jika kami bersihkan, tapi warga tetap buang sampah sembarangan, usaha ini sia-sia. Mari kita mulai dari rumah, dari lingkungan terdekat, dari diri kita sendiri,” ajaknya.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 di Mimika telah berlalu, namun jejak yang ditinggalkan tidak akan hilang. Ribuan kilogram sampah yang terkumpul, ribuan pohon yang tertanam, dan ribuan warga yang sadar, menjadi modal berharga.

Gelora hijau ini telah menyala, dan kini tanggung jawab ada di tangan semua orang: memastikan api itu terus berkobar, menjadikan Mimika wilayah yang bersih, hijau, sehat, dan lestari untuk masa depan anak cucu nanti. (tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here