Beranda PAPUA TENGAH Deklarasi Anak Menuju Provinsi Papua Tengah Layak Anak

Deklarasi Anak Menuju Provinsi Papua Tengah Layak Anak

49
0
BERBAGI
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Nurhaida Nawipa, SE ketika memberikan sambutan pada Hari Anak Nasional ke-42.di Nabire (Foto: Humas Pemda Prov Papua Tengah).

Sejak tahun 2025, arah kebijakan berbalik 180 derajat: semua pembinaan dilakukan langsung di rumah sendiri.

NABIRE (23/7/26), NGK – Langkah kaki riuh penuh harap menggema di halaman SMA Negeri 1 Plus KPG, Nabire. Puluhan anak dari berbagai penjuru distrik, dari ujung pedalaman hingga pusat kota, berkumpul di bawah langit cerah Papua Tengah pada Kamis, 23 Juli 2026. Mereka merayakan Hari Anak Nasional ke-42.

Peringatan ini bertepatan ketika Papua Tengah menegaskan diri menjadi pelindung sekaligus pencetak generasi unggul yang menjadi tuan di tanahnya sendiri.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Nurhaida Nawipa, SE ketika memberikan hadiah kepada salah satu siswa (Foto: Humas Pemda Prov Papua Tengah)

Suasana berubah hening saat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan membuka laporannya. Ia menegaskan peringatan sebagai batu pijakan sejarah. Dukungan penuh terhadap Deklarasi Anak Menuju Provinsi Papua Tengah Layak Anak telah dikukuhkan sebagai menjamin setiap sekolah menjadi tempat aman, ramah anak, bebas kekerasan, diskriminasi, dan perundungan. Tak ada satu pun anak yang boleh terabaikan haknya untuk belajar dan bermimpi.

Perubahan paling dahsyat terjadi pada pola persiapan daya saing anak bangsa. Dulu, unggulan Papua dikirim jauh ke Jawa maupun Bali untuk diasah kemampuannya. Kini, sejak tahun 2025, arah kebijakan berbalik 180 derajat: semua pembinaan dilakukan langsung di rumah sendiri.

Para siswa yang menerima hasih (Foto: Humas Pemda Prov Papua Tengah)

Dinas Pendidikan menggandeng lembaga kursus bahasa Inggris lokal yang dikelola sepenuhnya oleh Anak Asli Papua—lulusan perguruan tinggi dalam dan luar negeri yang pulang untuk mengabdi. Bahasa Inggris tak lagi diajarkan seadanya sebelum keberangkatan, melainkan dipupuk sejak dini mulai dari kelas 4 SD hingga jenjang SMA dan SMK. Target semula 4.250 siswa, meledak menjadi 4.370 peserta—99,8 persen adalah putra-putri asli Papua Tengah. Antusiasme itu bukti nyata hasrat mereka untuk bersaing di kancah dunia tanpa kehilangan jati diri.

Para Guru pun mendapat penghargaan (Foto: Humas Pemda Prov Papua Tengah)

Langkah berani lain lahir dari SMA Meepago yang direvitalisasi total. Sekolah ini kini dirancang khusus sebagai gerbang meraih beasiswa bergengsi—mulai dari LPDP hingga beasiswa luar negeri dari negara sahabat dan lembaga internasional. Hanya 60 siswa terpilih dari seluruh kabupaten yang diterima, dengan syarat utama prestasi akademik dan kemampuan bahasa Inggris.

Menyemai Panggilan Jiwa Guru

Di balik keberhasilan siswa, tersimpan tantangan besar: krisis guru. Kekosongan kelas, ketidakhadiran, hingga kompetensi yang perlu ditingkatkan menjadi bayang-bayang yang harus segera disingkirkan. Maka, Pemerintah Provinsi mengambil alih pengelolaan Kolese Pendidikan Guru (KPG) berbasis asrama. Ini bukan sekadar sekolah calon guru, melainkan pusat pembentukan karakter panggilan jiwa, pengabdian tulus, dan pembelajaran yang merespons kearifan lokal.

Bersama LPTK Kemendikdasmen, KPG akan mencetak guru PAUD, TK, dan SD untuk delapan kabupaten. Tahun ini, 120 putra-putri terbaik diterima dengan perwakilan satu orang per distrik, dua syarat mutlak: akademik terbaik dan lulus tes panggilan jiwa mengajar.

Staf Ahli II, Ukkas, S.Sos, M.KP menyampaikan sambutan Gubernur Papua Tengah. (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)

Sementara itu, mewakili Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, Staf Ahli II , Ukkas, S.Sos, M.KP  membuka peringatan ini dengan tegas. Mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, ia menegaskan masa depan provinsi ini bergantung pada pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan karakter yang ditanam sejak dini.

“Hak anak bukan hanya milik orang tua. Pemerintah, sekolah, tokoh adat, ulama, dunia usaha, dan kita semua wajib bersatu,” ujar Gubernur dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli II , Ukkas, S.Sos, M.KP.

Gubernur menekankan tak boleh ada anak yang putus sekolah karena kemiskinan, lokasi terpencil, disabilitas, atau latar belakang keluarga. Teknologi harus digunakan bijak, kekerasan dalam nama mendidik harus dihapus, dan setiap anak—termasuk penyandang disabilitas—berhak bersinar setinggi langit Papua.

“Jadilah anak yang sehat, cerdas, cinta budaya, dan menjaga damai. Kalian adalah tuan tanah ini,” pesan Gubernur kepada ribuan anak yang hadir.

Saat upacara penutup berlangsung, semangat tak meredup. Peringatan Hari Anak Nasional ini telah melahirkan janji besar: Papua Tengah tak lagi sekadar menunggu bantuan dari luar, melainkan bangkit berdiri kokoh, mendidik putra-putrinya sendiri, dan melepaskan mereka menaklukkan dunia—sebagai tuan yang berdaulat di tanah kelahirannya . (ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here