Beranda MIMIKA 28 Tahun, Kasih Charitas Mengakar Kokoh di Tanah Mimika

28 Tahun, Kasih Charitas Mengakar Kokoh di Tanah Mimika

30
0
BERBAGI
Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong Bersama para suster Charitas ketika merayakan 100 tahun kehadiran Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) dan 28 tahun FCh di Timika (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

TIMIKA (7/8/26), NGK — Malam itu, Aula Bobaigoo di Keuskupan Timika, mendadak bergemuruh dalam kidung syukur pada Jumat 7 Agustus 2026.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong atas nama pribadi dan pemerintah daerah menyampaikan terimakasih serta selamat kepada para Suster Charitas atas peringatan 100 tahun pelayanan di Indonesia dan 28 tahun berkarya di Mimika. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Hari itu, Keuskupan Timika merayakan dan mengenang satu abad perjalanan rohani. 100 tahun kehadiran Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) di bumi nusantara, serta 28 tahun dedikasi nyata mereka menyapa umat di Tanah Mimika.

Perjalanan panjang ini diibaratkan Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., bagaikan penanaman biji sesawi. Seabad silam, lima orang suster pemberani diutus dari daratan Eropa menyeberang samudera menuju Palembang dengan membawa semangat pengabdian tanpa batas. Mereka datang dengan tangan kosong dan tanpa alas kaki, namun membawa hati yang menyala-nyala untuk merawat sesama yang tersingkir. Benih kasih itu kini telah tumbuh subur, berakar kuat, dan berbuah lebat hingga menyeberang ke tanah Papua, khususnya di Kabupaten Mimika dan pesisir Kaokanao.

Uskup Keuskupan Timika, Mgr Bernardus Baru memberikan sambutan. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Bagi masyarakat lokal, kehadiran para suster Charitas bukan sekadar catatan sejarah di atas kertas putih. Sentuhan tangan halus yang penuh kasih sayang telah menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan masyarakat Papua dari generasi ke generasi.

Jejak Kasih yang Menyeberang Samudera

Sejarah kehadiran para Suster Charitas di Indonesia bermula dari keberanian dan ketaatan yang penuh pengorbanan. 100 tahun silam, lima suster perintis datang dari negeri jauh, dari tanah Eropa, dengan tangan kosong, bahkan tanpa alas kaki. Yang mereka bawa hanyalah iman yang teguh dan kasih yang tulus. Mereka menanamkan biji sesawi di bumi Sriwijaya, Palembang, merawatnya dengan keringat dan doa, hingga kini tumbuh menjadi pohon yang rindang, berbuah manis, dan menaungi ribuan jiwa di seantero nusantara. (Baca juga : Seabad Pengabdian Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) – https://www.newguineakurir.com/2026/08/08/28-tahun-kasih-charitas-mengakar-kokoh-di-tanah-mimika/

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong dalam sambutannya mewakili Pemerintah Kabupaten Mimika, mengenang betapa tak terpisahnya sejarah perkembangan Gereja Katolik dan kemajuan kesejahteraan di Papua dari pengabdian para misionaris.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong bersama Uskup Timika, Mgr Bernardus Baru melakukan pemotongan kue ulang tahun (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

“Dulu, para suster perintis datang dengan tangan kosong, tanpa alas kaki, namun mereka mendedikasikan diri untuk melayani orang-orang kecil melalui bidang kesehatan, pendidikan, serta mendirikan berbagai kursus keterampilan bagi para ibu seperti memasak, menjahit, dan banyak lagi,” ujarnya dengan penuh penghargaan. Kasih yang mereka tumpahkan begitu nyata hingga sebagian masyarakat yang hadir masih teringat sentuhan tangan halus penuh kasih itu yang pernah menolong diri dan keluarga mereka, hingga kini dapat berdiri tegak dan menjadi orang-orang yang berguna.

Emanuel Kemong menyebut, dirinya salah satu orang yang pernah merasakan pelayanan dan sentuhan kasih dari tangan para suster tempo dulu.

Dari Palembang, kasih itu terus mengalir, menyeberangi pulau dan samudera, hingga akhirnya sampai ke tanah Mimika dua puluh delapan tahun silam. Sejak saat itu, di tanah Mimika pun, nama Charitas tak lagi asing. Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) yang akrab disebut ‘Charitas’ oleh warga kampung karena telah begitu melekat di hati mereka, menjadi bukti nyata kehadiran kasih yang merawat tanpa pamrih.

Akar yang Kuat, Buah yang Semakin Lebat

Dalam perayaan yang penuh sukacita itu, Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., menyampaikan sukacita dan syukur yang mendalam. Dia mengingatkan 100 tahun kehadiran bukanlah akhir perjalanan, melainkan batu loncatan menuju masa depan yang lebih gemilang.

“Kita patut bersyukur karena Tuhan mengutus para suster dari Palembang datang ke tanah Mimika dan berkarya selama dua puluh delapan tahun. Sejarah perjalanan ini sangat kaya,” tuturnya.

Uskup dalam sambutannya bercerita, waktu dia berkunjung ke Palembang, sempat bertemu dengan dua anak perempuan Suku Kamoro (Mimika Wee) yang sedang menjalani pendidikan biarawati.

Uskup berpesan kepada pimpinan Charitas Palembang agar setelah kaul kekal pertama, dua biarawati asal Mimika Wee ini akan diundang ke Timika dan diadakan misa syukur di Gereja Katedral Tiga Raja sebagai ungkapan Syukur, tapi lebih dari itu sebagai motivasi kepada anak anak peremuan lainnya untuk mengikuti jejak mereka.

“Saya kasitau mereka dua, setelah kamu dua selesai, jangan jatuh cinta sama laki laki Kamoro tapi kamu harus jatuh cinta dan cinta mati kepada laki laki sejati yaitu Yesus Kristus,” kata Uskup sembari memotivasi kedua biarawati asal Kaokana itu

Sebagaimana pohon yang harus berakar kuat agar tumbuh hijau dan berbuah lebat, demikian pula pelayanan Charitas di Timika. Uskup menyampaikan harapan besar bersama komitmen yang telah disepakati bersama pemerintah daerah: segera duduk bersama menyusun langkah strategis agar Rumah Sakit Mitra Masyarakat benar-benar menjadi Rumah Sakit Charitas yang kokoh, berkembang, dan menjadi kebanggaan. “Bukan sekadar RSMM, tetapi benar-benar menjadi Rumah Sakit Charitas yang kokoh di Timika. Semoga seratus tahun ini menjadi batu loncatan, hingga dua ratus tahun mendatang, rumah sakit ini berdiri semakin jaya,” pesannya penuh harap.

Komitmen itu pun disambut hangat oleh Wakil Bupati Mimika. Dia menyampaikan  pemerintah daerah sangat menghargai kemitraan yang telah terjalin erat. “Rumah Sakit Charitas telah menjadi bagian dari napas hidup masyarakat di sini. Ke depan, pemerintah siap terus memperkuat kerja sama,” tegasnya. Termasuk pula penataan pelayanan kesehatan di wilayah seperti Kaokanao, yang akan dibahas bersama secara menyeluruh agar pelayanan dapat terus ditingkatkan dan menjangkau lebih banyak jiwa yang membutuhkan.

Suster Maria memberikan sambutan mewakili Pimpinan Kongregasi (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Di Tengah Suka Duka Tetap Menampakkan Kasih

Mewakili seluruh keluarga besar Kongregasi Suster Charitas di Timika, Suster Maria, FCh., selaku Ketua Panitia perayaan, menyampaikan ucapan syukur sekaligus renungan yang menyentuh hati. Dengan salam khas yang berulang-ulang penuh kehangatan, Suster Maria menginginkan agar kasih Tuhan yang mengalir seperti air dari gunung ke lembah, tanpa memandang asal siapa pun, terus dirasakan oleh semua orang di tanah Papua.

“Pohon Charitas berbuah manis, semanis kasih Charitas. Merasuk sukma menembus cinta, mawar Charitas menghiasi persada,” ucap Suster Maria mengutip sebuah ungkapan yang indah. Perjalanan 100 tahun ini tentu tak selamanya mulus. Ada suka dan duka, tawa dan tangis yang silih berganti. Namun itulah makna kehadiran: tetap bersyukur dan tetap menampakkan kasih, bahkan di tengah kesulitan. “Bahagia bukan hanya soal materi, pangkat, atau jabatan. Bagi kami, merasa kaya dengan cinta, kesehatan, dan damai sejahtera adalah kekayaan yang sejati,” tuturnya tulus.

Selama 28 tahun melayani di Mimika, karya kasih itu tampil dalam kesederhanaan yang menyentuh, memberikan edukasi kesehatan kepada anak-anak, menyampaikan penyuluhan perlindungan bagi kaum muda, hingga berbagi sembako dan kasih kepada kaum papa. Hal-hal kecil yang sederhana itulah yang menjadi bukti nyata kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat-Nya.

Menyongsong Masa Depan dengan Harapan Baru

Perayaan 100 tahun kehadiran ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga menatap masa depan dengan harapan yang segar. Uskup Timika menyampaikan harapan yang tulus agar semakin banyak putri-putri tanah Papua, khususnya putri Amungme, Kamoro, dan suku-suku lainnya, terpanggil untuk melanjutkan misi kasih ini.

Suster Maria menceritakan adanya dua novis dari Kaokanao yang tengah bersiap mengabdikan diri sepenuhnya, dan berharap kelak perayaan panggilan serupa dapat menggema di Katedral Timika, mengundang lebih banyak hati muda untuk menyatu dalam pelayanan.

Dari pemerintah daerah pun komitmen terus mengalir. Kerja sama yang terjalin erat antara gereja, yayasan, dan pemerintah menjadi jaminan bahwa pelayanan kesehatan yang menjadi ciri khas Charitas akan terus diperkuat, diperluas, dan ditingkatkan kualitasnya. Baik di pusat maupun di wilayah-wilayah yang lebih jauh, upaya penataan dan pengelolaan bersama akan terus dilakukan demi kebaikan bersama.

Sementara itu, para Suster Charitas sendiri berjanji tetap berdiri teguh. Walaupun digoncang dunia, seperti tersirat dalam pantun yang disampaikan Suster Maria, mereka tetap ada di sini. Dari Palembang hingga Timika, kasih Charitas mengalir tulus tanpa pamrih. Itulah janji yang dipegang teguh, diwarisi dari para pendiri dan para perintis dahulu melayani dengan kasih, dalam kesederhanaan, dan setia hingga akhir.

Kasih Tak Akan Pernah Berakhir

Di Aula Bobaigoo, Keuskupan Timika, terpancar semangat dan kasih tak akan pudar. Usia 100 tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun bagi kasih yang bersumber dari Tuhan, 100 tahun hanyalah awal dari perjalanan yang tak berkesudahan.

Matahari boleh terbenam, namun kasih Charitas tak akan pernah terbenam. Air sungai boleh mengalir terus, namun kasih Charitas mengalir lebih dalam dan lebih luas. Dari lima suster yang datang dengan tangan kosong 100 tahun silam, kini telah tumbuh menjadi ribuan jiwa yang terus melayani di seantero negeri, hingga ke tanah Papua yang tercinta.

Dan di sinilah,  di bumi Mimika, kasih itu terus berakar, tumbuh, dan berbuah. Akan terus mengalir, tanpa henti, selamanya. Sebab itulah makna nama yang mereka sandang Charitas — Kasih. Yang mengalir, memberi, dan hidup, selamanya. (thobias maturbongs/krist ansaka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here