SENTANI (9/9/25), NGK – Benang kusut. Ungkapan ini mungkin cocok buat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari milik Pemerintah Kabupaten Jayapura.
Pasalnya, berbagai persoalan pelayanan di RSUD Yowari silih berganti, seperti yang ditemukan lalu diungkapkan Wakil Ketua III Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten atau DPRK Jayapura, Papua, Nelson Yohosua Ondi ketika melakukan kunjungan kerja ke rumah sakit ini pada Senin, 9 September 2025.
Dari kunjungan kerja Wakil Ketua III Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Jayapura itu, ditemukan adanya keluhan dari pasien dan keluarga pasien mengenai ketersediaan air bersih yang tidak memadai. Sistem distribusi air yang tidak lancar, dan membuat pasien dan tenaga medis kewalahan.
Rumah sakit yang berada di bawah kaki Gunung Cycloop yang mengalirkan air cukup banyak itu, tampaknya belum menjawab persoalan ketersediaan dan distribusi air bersih.
“Perlu adanya pembangunan penampungan air hujan atau perbaikan instalasi air bersih sebagai solusi jangka panjang,” kata Ondi, seperti yang dirilis media Jubi, 9 September 2025 dan juga media online lainnya.
Bukan hanya persoalan air bersih. Tapi juga, tunjangan piket malam hanya Rp30 ribu bagi setiap tenaga medis. “Kalau kita ingin pelayanan publik yang baik, pemerintah daerah juga harus mendukung kesejahteraan tenaga kesehatan,” kata Ondi.
Selain itu menurut Ondi, program peti jenazah gratis bagi orang asli Papua yang meninggal di RSUD Yowari sempat terhenti karena dana Otonomi Khusus atau Otsus belum cair.
Ondi pun meminta pemerintah daerah menyiapkan anggaran subsidi sementara atau mencari solusi, agar salah satu kebutuhan dasar masyarakat tidak terabaikan.
Berbagai persoalan di RS milik Pemerintah Kabupaten Jayapura sudah berulang kali menjadi sorotan media massa. Katakana saja, seperti yang dilansir BBC pada 17 Juli 2025, “banyak pasien datang untuk sembuh, tapi justru meninggal dunia. Diduga, ada malpraktik dan lambatnya pelayanan rumah sakit di Papua serta lemahnya manajemen.”
Seperti yang dilansir BBC, seorang ibu dan bayinya yang masih dalam kandungan meninggal dunia tak lama setelah sang ibu dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari, Kabupaten Jayapura, Papua, awal Juni silam.
Beberapa pekan sebelumnya, Adriana Wayoi, meninggal dunia usai menjalani dua operasi usus dalam waktu berdekatan di RSUD Serui. Keluarga menduga kuat adanya malpraktik serta minimnya transparansi dan evaluasi medis.
Dua peristiwa ini menimbulkan polemik terkait dugaan keterlambatan penanganan medis dan ketiadaan dokter spesialis yang siaga di rumah sakit tersebut.
Pengamat kebijakan publik Papua, Methodius Kossay, menyebut kasus kematian pasien di RSUD Yowari dan RSUD Serui menunjukkan lemahnya tata kelola layanan kesehatan di Papua.
Methodius Kossay menyoroti tiga akar masalah utamayaitu kekurangan tenaga medis, lemahnya manajemen rumah sakit, dan ketimpangan dalam pelayanan kepada pasien BPJS.
“Pelayanan kesehatan kita tidak baik-baik saja. Banyak pasien datang untuk sembuh, tapi justru meninggal dunia,” ujar Kossay.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Papua, dr. Donald Willem Aronggear, bilang bahwa tantangan terbesar pelayanan kesehatan di Papua bukan semata pada minimnya fasilitas, tapi juga upaya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi para dokter yang bertugas di wilayah terpencil (*)








